Telanjangi Tuhanmu

Dulu saya pernah berjumpa orang-orang muda (karena dulu saya muda) yang menyatakan dirinya ateis tetapi dari perbincangan sana-sini menjadi jelas bagi saya bahwa paham Allah yang ada di kepala mereka memang gak ada. Maksudnya, memang gak ada Allah seperti yang mereka gambarkan sendiri. Jadinya lucu: mereka tidak percaya kepada Allah yang memang gak ada! Bukankah kita semua juga demikian? Kita hanya percaya kepada Allah yang memang ada. Makanya gak nyambung juga kalau orang beriman berdebat dengan ateis mengenai eksistensi Allah. Mereka memperdebatkan hal yang sebetulnya sama-sama mereka setujui.

Mari simak cerita klasik dari Kitab Suci Kristiani tentang dua anak yang gak jelas apakah mereka ini bertobat atau tidak. Yang satu barangkali merasa hidup di bawah bayang-bayang kesuksesan ayahnya, sang kompetitor, dan hendak mengambil jalan sendiri untuk menemukan jati dirinya. Yang satunya lagi memandang ayahnya sebagai sosok despot, diktator kejam, penguasa tunggal yang bisa melakukan apa saja sekehendak hatinya. Kedua anak itu sama-sama membangun image keliru mengenai ayah mereka, dan ironisnya, mereka membenci image yang mereka ciptakan sendiri; biasanya orang ateis menuduh orang beragama sebagai mereka yang menciptakan image untuk disembah, yang ini menciptakan image untuk dibenci.

Tobat bisa jadi adalah penghancuran image-image sesat mengenai Allah dan relasinya dengan manusia. Saya ingat seorang kepala kepolisian di Republik ini yang berapi-api menanggapi tuduhan bahwa ia menyembah kayu salib dengan argumentasi yang menggelikan. “Kamu kira saya idiot apa sehingga tak bisa membedakan antara kayu dan Tuhan? Saya ini lulus tes IQ!” [Tentu saja, bayangkan kalau kepala kepolisian tak lulus tes IQ, mau di bawa ke mana hubungan kita jal?] Menggelikan karena ungkapan itu justru menguak penuduhnya yang tak bisa membedakan antara kayu dan Tuhan. Celakanya, rupanya di negeri ini masih ada saja orang yang tak bisa membedakan antara bendera merah putih, patung, dan Tuhan. Maka, orang memberi hormat kepada bendera merah putih disamakan dengan menyembah bendera; orang menunduk sujud di depan patung disamakan dengan orang menyembah patung, dan seterusnya.

Kisah dua anak tadi belum menggambarkan tobat yang sesungguhnya. Kisah itu memang hanya menguak kesesatan berpikir kedua anak mengenai ayah mereka. Belum ada pertobatan. Loh, bukannya anak bungsu itu akhirnya kembali kepada ayahnya, Mo? Betul, tetapi itu cuma karena perut laparnya. Konsep di kepalanya mengenai ayahnya tetaplah sosok ayah kompetitor; ia tak bisa mengalahkan ayahnya yang punya segala-galanya, lebih baik dari orang-orang lain yang dijumpainya. Si anak sulung juga tetap dalam penilaiannya bahwa sang ayah itu despot, yang membebani hidupnya tanpa sekalipun memberikan kebebasan bagi dirinya untuk bersuka cita.

Lha memangnya Allah mana yang memperlakukan manusia sebagai kompetitor? Allah mana yang begitu gila kuasanya sehingga jadi beban bagi manusia? Allah di kepala orang yang sok kuasa dan mau menang sendiri keleus.

Tuhan, mohon rahmat pertobatan supaya kami semakin dapat melucuti kesesatan paham kami mengenai Engkau dan sesama yang dengan tulus hati juga hendak menemukan-Mu dalam hiruk pikuk hidup ini. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA II
3 Maret 2018

Mi 7,14-15.18-20
Luk 15,1-3.11-32

Posting 2017: What if love ceases to be
Posting 2016: Allahnya Teroris
 
Posting
2015: Asal Usul Doa

Posting 2014: Why Forgive?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s