Tobat Ganti Agama

Ini masih terkait dengan posting wis kewowogen kemarin, semoga Anda tidak kewowogen, lagipula ini kan hari pantang ya? Saya masih hendak melanjutkan soal sensitivitas kepada liyan tetapi dengan contoh yang berbeda, yaitu mengenai pertobatan. Lebih ngehitsnya sih mengenai kafir-kafiran dan murtad-murtadan yang berlaku untuk berbagai agama [halah apa ya ora malah kewowogen ya bahas agama lagi?]. Teks bacaannya sendiri bicara soal batu yang dibuang jadi batu penjuru, seperti Yusuf yang dibuang saudara-saudaranya lalu jadi tokoh penting bagi bangsa Mesir dan Israel. Yang membuang itu adalah orang-orang yang iri hati, cari perhatian, mau mengikuti keinginan sendiri.

Njuk apa hubungannya dengan pertobatan. Silakan pikir-pikir sendiri ya, saya mau singgung pertobatan Paulus yang dijadikan contoh oleh orang-orang Kristiani. Dia yang semula fanatik Yahudi, mengejar-ngejar orang yang mengikuti murid Yesus dari Nazareth, bahkan persekusi itu bisa berujung pada pembunuhan. Suatu ketika dalam perjalanan ke Damaskus ia terjerembab dari kudanya ketika hendak mengejar orang-orang yang disebut Kristiani itu, mendapat vision yang membutakan matanya, lalu menurut vision itu ia mesti menemui orang Kristiani, lalu dibaptis, dan malah jadi fanatik terhadap Kristianitas!

Nah, problemnya, cerita itu oleh orang fanatik bisa dijadikan contoh pertobatan dari kekafiran menuju agama yang benar. Padahal sebetulnya dalam teks Kitab Suci sendiri tidak disebutkan soal pertobatan; juga tidak disebutkan bahwa Paulus berganti agama. Kata yang lebih tepat dipakai adalah transformasi. Paulus mengalami transformasi hidup karena perjumpaannya dengan Tuhan. Itu sama sekali tidak mengindikasikan bahwa ia berganti agama. Artinya, transformasi tidak mengandaikan bahwa orang berganti agama. Begitu pula pertobatan tak bisa diartikan sebagai mengganti agama, seakan-akan agama anu lebih buruk dari agama inu dan agama inu lebih mending dari agama semprul.

Nyatanya, tak sedikit orang Indonesia yang berpikir begitu dan tak heranlah orang pindah agama saja jadi heboh bahasnya. Lagi-lagi, orang begitu seriusnya beragama sampai-sampai lupa pada transformasi hidupnya sendiri. Wis kewowogen aku.

Tuhan, bantulah kami supaya senantiasa mentransformasi diri kami di jalan suci-Mu. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA II
2 Maret 2018

Kej 37, 3-4.12-13a.17b-28
Mat 21,33-43.45-46

Posting 2017: Silence, Please!
Posting 2016: Persaudaraan Tak Otomatis

Posting 2015: Pemahaman Nenek Lu!

Posting 2014: Matinya Empati Kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s