Ngapain Kuliah Ya

Ya ini curcol lagi, maaf, tapi bukan untuk menjelekkan siapapun, termasuk mahasiswa saya yang unyu-unyu. Ini adalah gejala umum yang saya dapati di kelas. Kalau saya melontarkan pertanyaan, segeralah muncul aneka macam suara seperti sedang menjawab pertanyaan saya, tetapi kalau saya dekati asal suara itu dan saya hendak dengarkan baik-baik jawabannya, eh… mahasiswa atau mahasiswinya malah tersenyum tersipu-sipu,”Enggak, Pak.” Hmmm… untung saya tidak bawa gilesan atau munthu atau mesin giling.

Gejala seperti itu tentu mudah ditebak penyebabnya: orang kurang pede, takut salah, malu, dan sejenisnya. Akan tetapi, saya juga menengarai gejala lain. Kalau saya tiba pada penjelasan materi yang sulit, sebagian mahasiswa atau mahasiswi seperti mendiskusikan sesuatu dan ketika saya diam untuk mendengarkan diskusinya, eh…. diskusinya juga berhenti. Lho piye to iki? Gejala ini belum saya temukan penyebabnya dan mungkin memang tak perlu juga saya susah-susah cari penyebabnya, wong namanya juga manusia, tentu ada yang niat menimba ilmu dari orang lain, tapi ada juga yang merasa diri sebagai sumber ilmu bagi dirinya sendiri. Untuk kelompok yang kedua ini saya kadang merasa iba, ngapain buang-buang duit untuk kuliah atau masuk kelas?!

Sudah ya curcolnya. Sekarang masuk ke persoalan yang lebih gawat (yang sebetulnya ada hubungannya juga sih dengan yang dicurcolkan tadi): jika orang tak hendak mendengarkan pihak lain, ia kesulitan memahami dirinya sendiri. Ini berlaku apalagi terhadap suara Allah. Kalau orang tak mau mendengarkan suara Tuhan, ia pun tersesat dalam pencarian dirinya. Semua suara dari luar diseleksi seturut kepentingan dirinya sendiri dan sangat mungkin kenyataan jadi jungkir balik. Yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Gemes kan kalau lihat sepak terjang paslon yang begini ini?

Tetapi ya begitulah, paslon itu adalah kita. Ada momen dalam hidup ketika suara Allah itu terasa sangat pahit karena untuk mendengarkannya saja diperlukan pertobatan yang luar biasa. Ada masa ketika kehendak Allah sangat menyakitkan karena orang begitu keukeuh pada udêlnya sendiri, bukan pada kedalaman dirinya. Ada saatnya ketika bisikan Allah itu dianggap tidak penting tetapi cethar membahana menguliti harapan-harapan palsu seseorang. Penyebab ketidakenakan, sakit, luka, kesusahan itu bukan suara Allah atau kehendak Allah, melainkan harapan palsu dan udêl orang sendiri, yang tidak klop dengan suara Allah. Barangkali itulah salah satu guna sekolah atau kuliah: membongkar udêl atau harapan palsu seseorang dan merevisi seperlunya.

Tuhan, bantulah kami supaya mampu mendengarkan suara-suara dalam diri dan memilah-milahnya seturut kehendak-Mu. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA III
23 Maret 2017

Yer 7,23-28
Luk 11,14-23

Posting 2016: Lalat-Lalat Cinta 
Posting 2015: Awalnya Inspiratif Sih…

Posting 2014: It’s Hard to Listen…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s