Hidup Tanpa Makna

Belum lama tersiar kabar sosok populer dalam dunia musik, warga kebangsaan Jepang, yang bunuh diri. Ini bukan berita yang sangat mengejutkan karena Jepang, selain Korea Selatan, memiliki angka kasus bunuh diri yang fantastis (menurut data WHO 2012). Apakah ini tren untuk negara maju di Asia? Gak juga, karena Srilanka termasuk dalam daftar bersama Jepang dan Korea Selatan. Dengan kata lain, potensi bunuh diri itu bisa menghinggapi masyarakat di negara maju maupun negara mundur *eh. Memang katanya mayoritas kasus bunuh diri menimpa negara yang masyarakatnya berpendapatan menengah ke bawah. Akan tetapi, jelaslah bahwa faktor ekonomi bukan akar persoalan. Seringkali diungkapkan bahwa faktor utamanya ialah depresi, pelecehan, kekerasan, dan latar belakang kultur dan sosial masyarakat.

Nah, boleh dong mengingat apa yang dikatakan Mahatma Gandhi. Saya tak ingat persis kata-katanya tetapi kurang lebih ia menyatakan batas perlunya kesejahteraan hidup manusia. Kemakmuran (baca: kekayaan), kesejahteraan itu perlu, tetapi pada titik tertentu bisa menjadi halangan. Di balik produksi kebutuhan orang yang tak terbatas terdapatlah sebuah perangkap dan kalau orang terperangkap, di situlah ia menyembah materi sebagai berhala. Lha, kalau materi itu jadi berhala, jadi objek attachment alias kelekatan, orang akan abai pada shema yang didoakan orang Yahudi setiap hari (bdk. Ul 6,4-9). Tak mengherankan (bukan maksudnya memaklumi) bahwa dalam konflik orang akan mengalami depresi, rentan terhadap kekerasan dan penistaan alias pelecehan, serta perbudakan oleh kondisi sosiokultural masyarakat. Orang seperti ini gagal menemukan makna hidup.

Kegagalan menemukan makna hidup tidak hanya melanda masyarakat berpendapatan rendah karena makna hidup tak ditentukan oleh tingkat kesejahteraan ekonomis. Poinnya ialah orang tidak bisa melihat ‘hal’ yang transenden, beyond material things, yang mengatasi relasi horisontal. Di benak saya langsung muncul masyarakat negara yang tadi sudah saya sebut, yang maju, bahkan sangat maju, yang tatanan moralnya juga pantas diacungi jempol: orang disiplin, budaya antri dan bersih, jujur, dompet takkan hilang meski tertinggal di stasiun, orang lemah dibantu negara, dan sebagainya. Kurang apa lagi? Ya kalau berpikirnya horisontal tentu mentok, gak ada yang kurang. Persis itulah yang hendak dibangun oleh ateisme: masyarakat ini bisa mencapai tatanan moral tinggi tanpa Tuhan dan itu memang betul!

Sayangnya, moralitas macam itu stagnan dalam level horisontal sehingga tidak otomatis memberi makna hidup orang sendiri. Masyarakat sudah makmur, sejahtera, adil kok, mau apa lagi? Tak ada makna selain kaidah-kaidah moral yang sudah dijalankan semua orang (dan kalau ada yang tidak menjalankannya dibunuh saja). Ya udah mati aja atau tunggu waktu untuk mati. Di sinilah letak relevansi shema orang Yahudi itu, supaya orang senantiasa eling alias sadar dan waspada bahwa aneka tatanan yang dibuat sebagai implikasi moral (horisontal) itu ditempatkan dalam konteks relasi pribadi orang dengan Allahnya. Dari situlah muncul makna yang dapat memberi inspirasi hidup juga saat orang stagnan.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami mampu mengenakan cara pandang-Mu. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA III
24 Maret 2017

Hos 14,2-10
Mrk 12,28b-34

Posting Tahun 2016: Galau Lahir Batin  
Posting Tahun 2015: Cuma Ada Satu Cinta
Posting Tahun 2014: Ujung2nya Duit atau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s