Pakai Saja Èsêm-Ku

Kalau saja anggota dewan nganu itu bisa membuat kata hibrid dari bahasa Jawa dan Batak, vokabulernya mungkin lebih luas daripada Èsèmka alias SMK. Tambahi satu huruf dengan modifikasi vokal bisa jadi èsêm kau, yang berarti senyummu [tentu beda dari “asem kau!”]. Pada umumnya senyum seseorang memberi efek menggembirakan tetapi tak tertutup kemungkinan bagi suatu senyum kecut atau senyum pahit. Salah satunya adalah ketika saya baca judul berita tentang saran bagi presiden nganu untuk memakai mobil Èsèmka. Saya tersenyum dan bahkan tertawa ketika membaca kalimat itu, tetapi karena kalimat itu konon diucapkan oleh anggota dewan nganu, berhentilah tawa saya dan senyumnya jadi kecut.

Saya sendiri akan mengusulkan hal yang sama kepada presiden nganu tetapi itu artinya saya guyon dan candaan ini tentu tak pantas jadi konsumsi publik. Lha kalau kalimat itu dibunyikan oleh anggota dewan nganu yang reputasinya nganu terhadap presiden nganu, jadi beda banget nuansanya. Bisa jadi sampai sekarang ini dewan nganu itu pancen nganu tenan, komentarnya gak mutu (barangkali cerminan partainya)! Saya katakan padanya dalam hati: èsêmkau itu pahit, bikin èsêmku jadi kecut karena kau menista mulut. Mulut kau yang mestinya jadi corong kepentingan bersama itu malah kau pakai untuk nyinyir terhadap presiden nganu, yang meskipun terbatas, telah menunjukkan kesungguhan hatinya membangun bangsa ini. 

Daripada èsêmkau itu, lebih baik orang berpaling pada èsêm-Ku yang bisa dikontemplasikan dari bacaan hari ini: yaitu ketika orang mendengar dan menerima kabar sukacita dari Allah dalam ketubuhannya, dalam fisiknya, dalam materialitasnya. Ini sembilan bulan sebelum 25 Desember. Bisa dibayangkan bagaimana gembiranya mahmud yang menantikan kehamilannya. Èsêm-Ku kiranya lebih lebar lagi. Allah tersenyum lebar ketika kehendak-Nya mendarat dalam hidup manusia. Itu artinya, tak perlulah orang ribut dengan doktrin agama mengenai kabar sukacita kepada Maria ini. Orang tak perlu memeluk agama Katolik untuk mengimani bahwa yang terjadi pada Bunda Maria secara unik itu terjadi juga secara rohani dalam diri setiap orang ketika ia menyambut Sabda Allah dengan hati yang jujur dan tulus dan menerjemahkan Sabda itu dalam kedagingannya.

Pada momen itu, èsêm-Ku menjadi èsêmku, èsêmkau, èsêmnya, èsêm kita semua. Merdeka!

Tuhan, berilah kami kepekaan hati untuk dapat tersenyum dengan senyuman-Mu. Amin.


HARI RAYA KABAR SUKACITA
(Hari Sabtu Prapaska III A/I)
25 Maret 2017

Yes 7,10-14; 8,10
Ibr 10,4-10
Luk 1,26-38

Posting Tahun 2015: Hati Selektif 
Posting Tahun 2014: The Joy of Life-Giving Choice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s