Kau Terlalu Baik

Apa rasanya diputus pasangan dengan alasan “Kau terlalu baik untukku”?Apa? Tidak pernah? Jangan-jangan Anda memang gada baik-baiknya bagi mantan Anda itu mak jleb. Kalau Anda pernah diputus dengan alasan seperti itu [termasuk “aku gak pantas ngedapetin kamu”], tak usah risau, tak usah masukin atitake it easy, yang penting intinya sama: Anda diputus, hiks hiks hiks cup cup cup.

Yusuf yang hari ini dirayakan Gereja Katolik, hampir saja memutuskan tunangannya, Maria. Mungkin dia juga suntuk cari cara untuk memutuskan Maria; omongnya gimana jal biar gak menyakitinya ciyeh… Saking suntuknya sampai-sampai insight muncul pas dia dalam kondisi bermimpi. Apa insightnya? Bukan rumusan mujarab untuk menceraikan Maria, melainkan justru motivasi untuk meneruskan ikatan pertunangannya ke jenjang perkawinan.

Tapi ngapain saya tadi mengawali dengan alasan omong kosong pemutusan hubungan kekasih ya?
Pada awalnya, Yusuf seperti hendak mlipir, menghindarkan dirinya dari sosok Maria yang rupanya bakal jadi sosok penting dalam sejarah kemanusiaan. Bukan lantaran minder sih, tetapi bisa dimengerti bahwa tidak semua orang punya ambisi untuk tampil, untuk berada di pusat perhatian dunia, dan sejenisnya. Saya kira, Anda pembaca blog ini pasti bukanlah orang yang sangat ambisius jadi artis Hollywood, bukan? Mungkin Hollywood terlalu baik untuk Anda [atau Anda terlalu baik untuk Hollywood].

Jadi, dalam arti tertentu, Yusuf memang sangat low profile dan tak ada agenda jelek dalam niatnya untuk menceraikan Maria. Ia tak ingin mencemarkan nama Maria bahkan meskipun belum ada UU ITE tentang pencemaran nama baik. 

Yang mengesankan saya ialah bahwa insight itu mengubah orientasi dasar Yusuf. Meskipun tak ada niat buruk untuk menceraikan diam-diam, Yusuf ditarik untuk mengambil tanggung jawab. Kehendak Allah itu rupanya senantiasa menggerakkan orang untuk mengambil tanggung jawab, sekecil apa pun tanggung jawab itu. Tak cukup orang beriman cuma bermodal “yang penting gak melanggar ini itu” karena modal itu tak menjamin orang untuk berbuat sesuatu. Bisa aja gak berbuat jahat tetapi juga gak berbuat baik, bukan? Orang jadi penggembira doangndherek mulya, ikut popularitas orang lain, nesting, atau bagaimanapun mau diistilahkan.

Perayaan hari ini mengingatkan saya, mungkin juga Anda, untuk mengambil tanggung jawab dalam hidup saya. Apakah tanggung jawab itu berorientasi pada kebaikan umum atau bukan, itu jadi lain soal; tetapi pokoknya bertanggung jawab. Maka, kalau jadi koruptor ya koruptor yang bertanggung jawab dong, eaaaa…. ngelantur deh.
Tanggung jawab di sini senantiasa dalam konteks seperti dihadapi Yusuf suami Maria: tanggung jawab supaya keselamatan Allah bagi semua orang itu bisa direalisasikan. Allah senantiasa mendesak orang beriman untuk berpartisipasi dan berkolaborasi dengan-Nya untuk merealisasikan proyek-Nya. Yusuf jadi salah satu model sosok pribadi yang ‘benar’ dan siap sedia bagi warta gembira Allah.

Ya Tuhan, mohon rasa tanggung jawab supaya kami dapat mengambil bagian dalam proyek cinta-Mu. Amin.


HARI RAYA S. YOSEF, SUAMI SP MARIA
(Senin Prapaska V B/2)
19 Maret 2018

2Sam 7,4-5a.12-14a.16
Rm 4,13.16-18.22
Mat 1,16.18-21.24

Posting Tahun 2017: Siapa Dulu Suaminya
Posting Tahun 2016: Beneran Amanah?

Posting Tahun 2015: Cinta Bukan Ngampet
Posting Tahun 2014:
From Humiliation to Humility

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s