Proxy War

Anda mungkin pernah melihat film Hacksaw Ridge produksi dua tahun lalu yang digarap oleh Mel Gibson dengan pemeran utama Andrew Garfield. Kisah nyata, meskipun tidak berarti seluruh kenyataannya memang seperti yang divisualisasikan dalam film itu. Kalau sudah pernah menonton ya syukur, kalau belum juga gapapa, tak usah repot-repot, tetapi tak perlu berharap postingan ini adalah spoiler film itu.

Film itu menunjukkan pergumulan Desmond Doss mengenai larangan membunuh dalam sistem kepercayaan yang dianutnya. Sampai dalam peperangan pun ia tak pernah menggunakan senjata sama sekali dan di akhir film malah dia berhasil mengevakuasi 75 tentara, alih-alih membunuh tentara musuh. Sebagian penonton tentu boleh menuduhnya sebagai sosok religius yang naif, tetapi apa arti kenaifan di hadapan kenyataan bahwa tindakannya membela kehidupan tanpa kekerasan itu sungguh berbuah?

Memang tidak mudah mengerti teks bacaan hari ini yang menyinggung-nyinggung soal atas-bawah. Si guru mengklaim berasal dari atas, sedangkan kita ini dari bawah. Dia bukan dari dunia ini, kita dari dunia ini, kecuali kalau kita sungguh memiliki kesadaran yang ditularkan si guru itu. Desmond Doss barangkali justru menggelitik orang untuk konsekuen dengan kesadaran macam itu: ia menyerahkan segalanya kepada Allah dan yang dibuatnya ‘hanyalah’ small acts of justice dengan prinsip dasar yang dipegangnya untuk tidak membunuh.

Berbagai rasionalisasi bisa diarahkan pada pilihan semacam itu, tetapi rasionalisasi manakah yang bisa bertahan di hadapan keadilan Allah, yang tak bisa diketahui manusia secara mutlak? Kata seorang teolog Amerika dari Gereja Kristen Menonit (turunan Anabaptis), good society in sinful world is by definition impossible. Namanya dunia bobrok, mau merumuskan good society bagaimana sehingga rumusan itu sempurna? Sebaik-baiknya dunia bobrok ya tetaplah tak sempurna dan sesama anggota dunia bobrok, tak seorang pun bisa mengklaim dirinya lebih berharga daripada makhluk lain sebagai alasan untuk membunuh.

Saya tidak dalam posisi membela atau menentang pilihan Desmond Doss atau tokoh pasifisme, tetapi saya hendak kembali kepada keyakinan bahwa di balik dunia fisik ini ada kekuatan ‘tak kelihatan’ yang sedang bermain, dan bukannya tidak mungkin kekuatan itu berasal dari ‘roh jahat’. Saya tidak tahu apakah proxy war melawan kekuatan ‘roh jahat’ itu bisa dianggap sebagai kekerasan dan kalau memang begitu, apakah kekerasan terhadap kekuatan ‘roh jahat’ itu berada pada jalur untuk melanggar larangan membunuh. Kok saya jadi galau ala Desmond Doss ya?

Meskipun demikian, tentu ada yang bisa dipelajari dari orang-orang seperti Desmond Doss ini: penyerahan diri bukan kepada kekuatan dunia, melainkan kepada Allah sebagai Tuan atas dunia ini. Selebihnya, silakan didiskusikan baik-baik supaya kesejahteraan bersama dan keadilan sosial bisa senantiasa diupayakan bersama di dunia yang bobrok ini; bisa dengan small acts of justice, tetapi bisa juga dengan pendekatan struktural, sumonggo.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan menemukan kehendak-Mu dalam hidup kami . Amin.


HARI SELASA PRAPASKA V
20 Maret 2018

Bil 21,4-9
Yoh 8,21-30

Posting Tahun 2017: Situ Waras?
Posting Tahun 2016: Nonton Salib
Posting Tahun 2015: Smart Life, Dumb People

Posting Tahun 2014: Tak Tahu Diuntung, Tak Bersyukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s