Nonton Salib

Mungkin menarik melihat bagaimana patung Yesus di palang salib dipersepsi orang. Bisa jadi kalung salib dengan corpus (bacanya korpus ya) Yesus itu dilihat sebagai identitas eksternal: pemakainya berafiliasi pada agama Kristen Katolik (bukan Kristen Protestan). Bisa juga orang menganggap pemakainya adalah pemuja berhala. Bisa juga orang menertawakan keyakinan pemakainya karena menganggapnya ditipu oleh Paulus. Kalau patungnya lebih besar sedikit, mungkin orang melihat bodi seksi dan yang punya viktor (vikiran kotor), entah apa yang dipikirkannya…

Entah percaya atau tidak, konon Nabi Musa menegakkan patung ular tembaga yang membuat umat Israel tersembuhkan dari bisa ular yang mematikan. Yang ditatap patung ular tembaga. Lha, kalau yang ditatap itu corpus Yesus, apa orang yang kena pagut ular berbisa mematikan itu bakal sembuh? Wanda’ tau ya, belum pernah coba. Kalau Anda mau coba, silakan, tak usah ajak-ajak saya.

Memandang corpus Yesus, dalam perspektif Katolik, adalah memandang materialitas yang jadi ujung dari segala penderitaan, yaitu kematian. Segala jenis penderitaan (fisik, psikis, rohani, moral) bermuara ke situ: corpus yang tak berdaya. Nah, secara teoretis, itu relatif mudah diterima meskipun tak semua orang juga bisa memahaminya sebagaimana dialog Yesus dan orang-orang Yahudi lainnya menemui jalan buntu. Yesus tak mampu menjelaskan lebih gamblang lagi soal identitas dirinya karena memang cakrawala pandang mereka tak bisa merambah dimensi adikodrati. Salah satu indikatornya ialah reaksi dagelan orang Yahudi itu sewaktu Yesus mengatakan bahwa mereka takkan mungkin mengikuti Yesus (karena mereka akan mati dalam keberdosaan mereka). Mereka bilang,”Oh, jadi lu mau bunuh diri [yang adalah tindakan dosa]? Gih sono dahgw kagak ikutan!”

Pembaca teks Yohanes sekarang mungkin cakrawalanya sudah lebih luas daripada orang Yahudi saat itu persis karena sudah melihat seluruh sejarah peristiwa Yesus dan mengambil posisi tertentu (yaitu percaya pada kematian dan kebangkitannya). Artinya, secara teoretis bisa mengerti bahwa memandang corpus Yesus berarti memandang penderitaan dalam perspektif kebangkitan. Sederhananya, ia diandaikan percaya bahwa di balik setiap penderitaan itu ada titik terang. Itu teorinya….

Praktiknya, bergantung pada bagaimana orang membuat pilihan-pilihan hidupnya dalam situasi penderitaan. Ada orang yang berusaha menghindari aneka penderitaan. Ada sebagian yang terpaksa menanggung penderitaan. Ada juga yang mencari penderitaan semata demi penderitaannya itu sendiri (karena menemukan kenikmatan dalam penderitaan). Akan tetapi, ada yang membuat pilihan tertentu justru karena tahu bahwa konsekuensi pilihannya adalah penderitaan.

Derita tidak mendapat makna dari dirinya sendiri, tetapi dari konteks tanggapan terhadap cinta Allah dan jelaslah bahwa tidak semua penderitaan bisa dikonversi sebagai corpus Yesus yang tersalib itu. Konversi itu terjadi ketika orang konsisten pada azas dan dasar hidupnya: juga kalau ternyata penderitaan itu adalah akibat kekonyolan orang, ia diberi peluang untuk bertobat. Di situ, ada konteks pengampunan, dan memandang penderitaan bisa jadi menyembuhkan jika orang bertobat dan memberi pengampunan.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mau bertobat dan mengampuni. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA V
15 Maret 2016

Bil 21,4-9
Yoh 8,21-30

Posting Selasa Prapaska V 2015: Smart Life, Dumb People
Posting Selasa Prapaska V 2014: Tak Tahu Diuntung, Tak Bersyukur