Keliatannya Aja Bebas

Terus terang saya bosan dengan tema yang hari ini saya tangkap dari teks yang disodorkan penanggalan liturgi Gereja Katolik: kebebasan dan kebenaran. Ndelalahnya kemarin lusa saya sempat ngobrol dengan beberapa penulis dan bahannya juga sebetulnya masuk dalam tema hari ini. Salah satu kegelisahan penulis muda kita ini ialah bahwa aneka macam rumusan azas dan dasar itu menjadi suatu bahan indoktrinasi. Orang punya kebebasan untuk menolak atau menyangkalnya.

Ya memang, azas dan dasar itu kristalisasi dari suatu prinsip dasar realitas yang dari perspektif iman kepada Pencipta merupakan hukum yang berlaku universal. Tentu orang bisa menyangkalnya, tetapi yang disangkalnya hanyalah rumusan, bukan prinsip dasar realitasnya sendiri. Saya kelupaan membagikan pengalaman Augustinus yang sepanjang hidupnya bergulat dengan tema kebebasan dan kebenaran ini. Barangkali Augustinus muda menentang indoktrinasi Gereja Katolik, tetapi ia mencobanya dengan memakai indoktrinasi lain: lewat filsafat, lewat teosofi, lewat gaya hidup yang amburadul.

Dengan kata lain, Augustinus skeptis terhadap jalan yang ditawarkan Gereja, tetapi dia sendiri tak menemukan alternatif selain aneka macam indoktrinasi. Jadi, kesan saya, azas dan dasar pun tak bisa diterima sebagai indoktrinasi. Itu adalah rumusan yang mengundang orang untuk mengkontemplasikan hidup yang serba mawut dalam perspektif yang lebih tertata, sekurang-kurangnya dari orientasi manusia sendiri. Perspektif ini tidak diperoleh dari perang ideologi atau perang indoktrinasi. Perspektif ini diperoleh dari suatu keterlibatan hidup afektif seseorang dalam relasinya dengan sumber kebenaran.

Setelah pergumulan panjangnya, Augustinus menulis kurang lebih begini: Allah menganugerahkan suatu kemampuan intuitif dalam hati kita untuk memandang segalanya dengan cinta, sejauh kita jatuh cinta pada keindahan rohani dan semerbak wangi Kristus demi keakraban dengan-Nya. Wahsik sik sik, Mo! Ha njuk yang bukan Kristen gimana jatuh cintanya wong gak mengimani Kristus?
Siapa bilang gak mengimani Kristus? Hmmm… saya ragu-ragu. Kesan saya, atau keyakinan saya, semua orang punya dinamika seperti yang dialami Augustinus. Hanya saja, mungkin jalurnya berbeda. Ini masih bisa diperdebatkan, tetapi saya kok gak begitu sreg dengan metode debat ya. Maklum, itu level kognitif belaka.

Orang bisa jatuh cinta pada keindahan rohani yang diterakan dalam Kitab Suci juga kok. Augustinus memberi rambu-rambu autentisitas cinta itu: orang bebas karena kebenaran yang berasal dari rahmat Allah. Kalau cintanya seperti budak di bawah bayang-bayang hukum, ia tidak sedang berada di jalur kebebasan. Aktif sih dalam kegiatan keagamaan, tetapi aktivitas itu diikutinya semata untuk lari dari stress. Aktif sih dalam karya sosial, tetapi kegiatan itu dijalankannya karena kebencian kepada pihak tertentu atau semata menjalankan kewajiban. Giat sih memeras otak untuk mencari rumusan kebenaran, tetapi tindakan itu diagendakan untuk menyerang otoritas rohani yang de facto membantu orang menemukan jalan hidup terbaiknya. 

Orang-orang aktif macam itu hidup dalam bayang-bayang hukum yang bahkan tak disadarinya. Dia tak bebas seperti kelihatannya karena Cinta absen dalam pilihan-pilihannya. No freedom without love.

Ya Allah, semoga kami semakin cinta pada kebenaran-Mu, pun kalau kepalaku masih panas. Amin.


HARI RABU PRAPASKA V
16 Maret 2016

Dan 3,14-20.24-25.28
Yoh 8,31-42

Posting Rabu Prapaska V 2014: Kebebasan Macam Apa

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s