Situ Waras?

Pernah lihat anjing-anjing berkelahi untuk sekadar refreshing? Pernah lihat mereka berkelahi serius saling cakar dan berdarah-darah? Kiranya lebih mengerikan ya? Andaikan itu terjadi pada manusia, bisa jadi lebih mengerikan, dan sebelum mengerikan, mungkin lebih dulu menjijikkan, apalagi kalau terjadi di gedung dewan perwakilan. Akal gak jalan ya okol dipertontonkanlah, kalau tak bisa dipertontonkan di gedung dewan atau debat ya di mana gitulah, eaaaaa…..

Memang seperti ada ambang batas yang memaksa orang untuk mengambil keputusan fatal yang bukan hanya mencederai karakternya, melainkan juga menyudahi karakternya dan bahkan hidupnya. Bisa jadi karena uang 100 ribu, ulangan buruk dan jadi bahan bullying, putus cinta [Emang bisa cinta putus? Menurut saya sih enggak, yang bisa putus tuh kontrak], suami lari tunggang langgang, masyarakat yang melakukan pressure tiada henti pake’ al[hayo!]kitab, dan sebagainya. Itu bisa jadi kondisi yang menempatkan orang pada situasi ketidakbermaknaan dan memilih kiamat dini.

Bacaan hari ini menyodorkan pertentangan yang semakin keras antara Yesus dan orang-orang Yahudi dan orang banyak ini menganggap Yesus hendak memilih kiamat dini itu karena dia mengatakan,”Ke tempat aku pergi, tak mungkin kamu datang.” Waras juga orang-orang itu karena di balik penilaian mereka itu tersirat pendirian bahwa mereka tak akan ikut bunuh diri. Meskipun demikian, kita tahu, kewarasan hanyalah suatu necessary condition atau bottom line untuk hidup beriman. Maksudnya, tak ada orang yang klaim keimanan atau keagamaannya valid jika tak punya kewarasan. Taruhlah misalnya orang-orang yang berpikiran agamanya sebagai agama paling benar dan pengikut agama lain adalah kafir dan munafik (Anda sehay?).

Orang yang waras pun belum tentu menangkap wacana yang disodorkan Yohanes karena bisa jadi orang terbelenggu pada persoalan identitas Yesus yang penuh polemik: nabi, manusia, Tuhan, genderuwo, atau apa? Itu mengapa orang-orang Yahudi itu beranggapan bahwa Yesus bunuh diri. Jelas-jelas mengatakan bahwa ia akan mati, juga karena klaim-klaimnya yang merupakan penistaan agama. Gak mau tobat juga nih anak!

Padahal, yang senyatanya perlu bertobat justru mereka yang memakai topeng agama (mayoritas sedunia), topeng tokoh agama, topeng ahli agama, dan sebagainya. Konsekuensi kematian yang diambil Yesus bagi pemakai topeng ini adalah bunuh diri, sama sekali tak punya nuansa atau makna untuk mengarahkan perhatian orang pada perkara-perkara ‘tinggi’, yaitu perkara penegakan kebenaran ilahi yang tolok ukurnya bukan lagi mayoritas-minoritas [yang bisa dibalut mulut manies demi mendulang dukungan: golongan) atau pribumi-impor. Tolok ukurnya adalah kesucian, dan kesucian adalah persoalan tersambungnya ranah keilahian dan kemanusiaan.

Itu mengapa bahkan hukum perlu terus menerus dipercantik dengan insight ‘keilahian’ juga yang membawa hidup lebih manusiawi. Kasus seorang suami yang dibui lantaran menanam ganja demi pengobatan istrinya (yang akhirnya meninggal, RIP) bisa jadi acuan untuk merefleksikan hal ini. Tentu, yang bakal hangat sampai pilgub dua minggu lagi tak luput dari pokok refleksi ini: apakah pilihanku didasarkan pada tindakan keputusasaan tanpa harapan lantaran hilangnya akal sehat, atau pada harapan untuk menegakkan tonggak kebenaran yang pada ujungnya nanti membela kemanusiaan secara lebih utuh.

Ya Allah, mohon rahmat kewarasan. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA V
4 April 2017

Bil 21,4-9
Yoh 8,21-30

Selasa Prapaska V 2016: Nonton Salib
Selasa Prapaska V 2015: Smart Life, Dumb People

Selasa Prapaska V 2014: Tak Tahu Diuntung, Tak Bersyukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s