Manakah Agama Allah?

It is quite human of us to find security in the religion of God rather than the God of religion, kata Larry Gillick SJ (Sopo kuwi? Mboh, pokokmen kancane kancaku). Maksudnya? Orang lebih ayem dengan agama Allah daripada dengan Allah yang hendak digapai oleh agama itu sendiri. Kenapa? Karena kalau sudah nyebut agama Allah, orang serasa berurusan dengan sesuatu yang tak boleh dipersoalkan lagi, lha wong ini agama Allah kok: siapa yang mau melawan Allah? Tetapi ya di situlah persoalannya. Agama Allah itu secara faktual hanyalah agama bikinan manusia yang asal-usulnya dilekatkan pada Allah. Kalau tidak punya kesadaran sejarah macam ini, orang jatuh pada kebenaran palsu bahwa Allah itu satu DAN hanya ada dalam satu agama. Nah, di situ orang merasa safe karena dalam benaknya ia sudah berada pada track yang benar.  

Pada umumnya orang berhenti di situ dan tak peduli lagi pada dinamika God of religion. Allah agama adalah sosok Allah yang rapuh, yang justru mesti diperkokoh dengan paham Allah agama lain: Islam, Kristen, Katolik, Yahudi, Buddha, Hindu, dan sebagainya. Nah, pengokohan inilah yang sangat dinamis dan membuat orang beragama tak nyaman karena ia mesti mempertanyakan aturan atau hukum tradisi agamanya sendiri. Akan tetapi, jika orang beragama sungguh concern dan memakai pendekatan yang tepat, saya yakin, ia akan semakin radikal tanpa jatuh pada radikalisme atau fundamentalisme tetapi sekaligus merdeka inklusif tanpa jatuh pada relativisme atau apatisme terhadap agama.

Bacaan kedua hari ini mengindikasikan pertentangan antara orang Yahudi yang mengikuti Yesus dan orang Yahudi yang menolak Yesus. Teksnya sendiri adalah wacana Yesus dengan orang Yahudi yang percaya kepadanya yang berujung pada Allah agama: kalau kamu memercayai Allahmu satu, kamu pun akan mencintai pribadi yang datangnya dari Allah. Dengan kata lain, kalau kamu mengklaim bahwa agamamu adalah agama Allah [yang tak lain adalah agama bikinan manusia tetapi diyakini berinspirasikan Allah], kamu juga mesti konsekuen mengasihi Allah yang menginspirasi agama lain. Lha, karena mengasihi itu juga menuntut pengorbanan, bisa jadi kamu mesti mawas diri dan mengoreksi cara beragamamu sendiri.

Inilah yang kerap dilesapkan tokoh agama dengan nasihat moral: saling menghargai. Nasihat moral ini, meskipun jelas-jelas nasihat yang baik, bisa menyesatkan juga loh karena di situ terkandung niat: lu jangan utak-atik cara gue, dan gue gak utak-utik cara lu. Kenapa ini menyesatkan? Karena di situ diandaikan cara beragama setiap orang sudah benar dan tak perlu diutak-utik dan menghormati berarti sakkarepmu sing penting jangan menyinggung agamaku. Di balik jargon saling menghormati itu tak tersedia keyakinan dan harapan bahwa Allah yang satu itu juga bicara melalui agama lain dan karenanya orang tak hendak belajar dari Allah yang bicara melalui agama lain itu: God of religion. 

Berbagai intrik politik yang menyeret agama di negeri ini mudah terjadi karena jauh lebih banyak orang yang itu tadi: lebih nyaman dengan agama Allah daripada Allah agama; lebih hobi mengurusi bentuk formal agama daripada relasi personal Allahnya.

Ya Allah, bantulah kami supaya semakin mampu melihat kehadiran-Mu juga dalam agama lain. Amin.


HARI RABU PRAPASKA V
5 April 2017

Dan 3,14-20.24-25.28
Yoh 8,31-42

Rabu Prapaska V 2016: Keliatannya Aja Bebas 
Rabu Prapaska V 
2014: Kebebasan Macam Apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s