Agama Kok Kompetitif

Kalau orang menghadap matahari, ia menatap terang yang bisa jadi menyilaukan mata, tetapi jika ia membelakanginya, yang dilihatnya ialah bayangan dirinya sendiri. Begitu kira-kira bisa digambarkan bagaimana suasana orang yang berseteru dengan Yesus dari Nazaret. Mbok benarnya seperti apa, inspiratifnya bagaimana penjelasan Yesus itu, orang-orang ini cuma melihat sisi gelap yang sebetulnya adalah proyeksi ambisi gelapnya sendiri. Tak mengherankan bahwa mereka menganggap Yesus ini kerasukan setan karena omongannya sudah gak masuk nalar mereka yang terserang niat busuk mempertahankan kenyamanan privilese, kekuasaan, kekayaan, nama baik yang mereka miliki.

Ini bukan soal saya membela Yesus [sekali lagi, ngapain juga saya membela dia] dan menilai orang-orang Yahudi yang gelap mata itu jahat. Ini masih kelanjutan refleksi kemarin soal paham Allah, soal agama Allah, soal Kebenaran. Berhadapan dengan terang kebenaran, orang tak bisa membelakanginya sekadar untuk menghindari kesilauan. Tentu saya tak bisa mengidentikkan terang itu sebagai KPK atau Ahok, misalnya. Terlalu jauh. Sama halnya dengan menganalogikan paslon bukan nomor dua seperti Kristus karena punya kasih seperti Kristus begitulah. Aih aih aih…. memang agama itu kalau diseret ke politik ya jadi lucu-lucu (belum kapok juga dengan doa berapi-api sewaktu pilpres kali lalu yang menyebut-nyebut salah satu capres sebagai orang yang dikehendaki Allah sebagai presiden, ya ampun, ya ampun, ya ampun)!

Kebenaran sejati mengatasi klaim-klaim historis bahkan meskipun kenyataannya Kebenaran itu juga memanifestasikan diri dalam peristiwa-peristiwa historis. Itulah yang sedang diwacanakan Yesus, tetapi oleh penentangnya selalu ditangkap sebagai wacana linear. Contoh dalam teks bacaan hari ini ialah ketika Yesus mengatakan,”Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Ini tak terpahami persis karena memang orang-orang Yahudi penentangnya itu cuma bisa melihat tampilan fisik penuturnya dan kemanusiaan Yesus cuma ditangkap sebagai orang Timur Tengah berambut panjang, berjenggot, berkulit sawo gosong, dan sebagainya. Kata “Aku” kehilangan transendensinya karena orang tidak tertarik menuntut dirinya sendiri menggapai yang transenden itu.

Susah, Mo. Iya nih, rasakno, saya terusin aja. “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” itu maksudnya bukan mengatakan bahwa Yesus jasmaniah ini umurnya ribuan tahun; jelas bukan. Dia belum lima puluh tahun, dan takkan pernah sampai umur itu. Dia yang menciptakan Abraham itulah yang usianya mengatasi ribuan tahun dan si Yesus ini punya relasi istimewa dengan Sang Pencipta itu sedemikian rupa sehingga bisa masuk dalam keilahian Allah. Apakah ini hak eksklusif Yesus? Gak juga. Hak istimewa itu bisa dimiliki siapapun, apapun agamanya, sejauh ia menatap terang, dan bukan membelakanginya. Orang macam ini memanfaatkan seluruh olah rasa, pikir, dan kehendak untuk menangkap kehendak Allah. Metodenya kolaborasi, bukan kompetisi, pun jika itu diterapkan pada agama. Maka, kalau orang memakai agama untuk politik kompetitif (dipakai untuk klaim politik, ribut dengan jumlah pengikut misalnya), itu jadi indikasi bahwa agama (baca: orang-orangnya) tak mendapat rida Allah.

Ya Allah, mohon rahmat keterbukaan hati supaya kami dapat melihat terang-Mu dalam perjumpaan kami dengan yang lain. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA V
6 April 2017

Kej 17,3-9
Yoh 8,51-59

Kamis Prapaska V 2016: Gosip Aja
Kamis Prapaska V 
2015: Batu Mulia
Kamis Prapaska V 2014: Ikut Dia, Kagak Ada Matinye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s