Si Penista Agama Itu

Dalam grup Whatsapp saya masuk posting seorang pendeta dari laman medsosnya mengenai kehati-hatian terhadap ceramah ZN (siapa eaaaaa). Keberatannya ialah, seorang Ahok yang mengucapkan nama kitab agama Islam didakwa sebagai penista agama, sementara si ZN ini bukan hanya mengucapkan nama kita, melainkan juga jelas-jelas menafsirkan teks kitab agama Kristen bisa berkeliaran bebas melakukan dakwahnya.

Eaaaa…. saia mah setuju-setuju saja keberatan itu tetapi ya begitulah jadinya kalau agama dicampuradukkan dengan politik. Ancur ya ancur. Sudah saya tulis dalam blog ini beberapa catatan mengenai suatu ketidakmungkinan dialog dan itulah yang dibuat sosok seperti ZN jika dialog itu dipaksakan: lebih bernuansa kompetitif daripada kolaboratif. Asumsi dasarnya tak dipahami dan tak dihargai dan masing-masing pihak hendak memerkosa teks dengan ideologi dasarnya itu sendiri. Maka, ini tak hanya berlaku bagi ZN, tetapi juga bagi penentang ZN: ngotot bahwa Kitab Suci memang mengatakan klaim Yesus sebagai Allah (beberapa ayat dalam bab satu Injil Yohanes misalnya).

Lha Romo ini pro ZN atau menentang ZN? Hahaha… saya bisa pro, bisa kontra, bergantung pada konteksnya dong! Nah, berarti Romo cari aman dong. Eaaa… silakan kalau mau menghakimi begitu, tetapi rasa aman saya tidak datang dari pro-kontra dengan ZN. Rasa aman saya terletak pada apakah saya punya relasi personal dengan Allah atau tidak. Itu saja. Celakanya, relasi macam ini rentan dijadikan objek pemikiran belaka seperti terjadi dalam salah satu debat ZN dengan seorang pendengar yang mengklaim diri damai dan damai itu dianggap palsu oleh ZN karena kedamaiannya muncul dari penyembahan individu yang tak pernah mengklaim diri sebagai Allah.

Lha, rak runyam to? Tak ada kesamaan asumsi dasar kok mau dialog, ya jelas debat kusirlah brow! Kalau mau saling menghargai, yang dihargai itu justru asumsi dasarnya: kematian dan kebangkitan Yesus atau syahadat dalam Islam. Itu saja. Celakanya, sebagian orang Kristen bisa jadi hendak memaksakan asumsi dasar itu kepada orang lain dengan modal seperti ZN: kutip sana kutip sini. Lha wong kematian dan kebangkitan kok diargumentasikan. Ini efektifnya ya dipersaksikan dong: dengan hidup orang yang bersangkutan itu sendiri, apakah ia memang mengalami dinamika kematian-kebangkitan itu, bisa move on atau bolak-balik mundur ke belakang, masa lalu kelabu!

Itulah mengapa Yesus mengalami serangan hebat sebagai seorang penista agama Yahudi. Ia menunjukkan ayat Kitab Suci, tetapi ya jelas gak mempanlah karena pendengarnya punya beban ideologis sendiri. Apakah pengikut Kristus mesti memaksa orang lain percaya kepada kebangkitan-Nya? Ya jelas tidaklah! Hidayah kok maksa. Lagipula, memangnya Tuhan itu bekerja cuma bisa lewat satu keyakinan? Ya tentu tidak toh! Apa Dia bergantung mutlak pada dakwah kita? Juga tidak! Yang penting orang jujur pada relasi pribadinya dengan Allah, cukuplah sudah sebagai awalnya. Selanjutnya tinggal merefleksikan seberapa konsekuen dan konsistennya orang terhadap relasi pribadi itu.

Ya Allah, mohon lindungan-Mu supaya kami anak-anak-Mu tidak baku hantam hanya karena saling tuduh penista agama. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA V
7 April 2017

Yer 20,10-13
Yoh 10,31-42

Jumat Prapaska V 2016: Menggambar Allah Lagi
Jumat Prapaska V 
2015: Mulutmu Hariwowmu
Jumat Prapaska V 2014: Kairos, Siapa Takut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s