Gembala 4.0

Jadi gembala di masa revolusi industri 4.0 saya kira pekerjaannya akan sangaaaaat ringan, tetapi mungkin ini bukan jenis pekerjaan padat karya yang bisa bertahan lama. Soalnya, kata teman saya yang juga adalah pastor (bahasa Latin yang artinya memang gembala) lulusan Oxford, jenis pekerjaan yang repetitif (berulang-ulang) itu akan diambil alih oleh robot. Bahkan, kata teman saya yang lain yang juga adalah pastor dan bersekolah di Aussie, suplai makanan untuk hewan dan jadwal musim kawin pun bisa dilakukan robot. Maksud saya bukan robotnya yang kawin, melainkan robot ini bisa mendeteksi siklus hewan dan menentukan bagaimana treatment yang perlu diberikan kepada hewan dari A sampai Z. Irit tenaga manusia, dan kalau ini ada di wilayah perbukitan seperti di wilayah Alpen sana, betapa menyenangkannya jadi gembala di tempat berpemandangan indah dengan udara sejuk [tapi ya mboh ding kalau setiap hari rutin begitu terus 😂].

Sebaliknya, denger-denger, gembala dalam masyarakat Yahudi jumlahnya banyak dan kelompok ini merepresentasikan kategori rakyat jelata terendah. Dulu saya pikir itu cuma soal keterbatasan penghasilan seperti saya, jebulnya lebih mengerikan daripada itu. Saya tidak begitu yakin sih karena ini dapat dari sumber kedua, katanya para gembala ini karena siang malam hidup bersama gembalaannya, mereka jadi semacam najis gitu sehingga yang berkontak ria dengan mereka ya ikutan najis. Mereka tak boleh ikut beribadat (bisa dibayangkan gimana aromanya dong), tak bisa jadi saksi di pengadilan (hanya karena mereka dianggap najis), dan bahkan dianggap tak jujur (mungkin karena sering melanggar batas wilayah penggembalaan dan mungkin mengambili hasil kebun orang). Pokoknya, mereka ini termasuk yang tersingkirkan dari tata masyarakat.

Nah, kalau orang yang terkibaskan dari masyarakat Yahudi yang sangat religius itu mendapat berita kedatangan Mesias yang katanya akan membebaskan mereka dari ketersingkiran mereka, tidakkah mereka malah mengalami semacam teror? Maksud saya, bukankah mereka sewajarnya takut kalau berita itu betul, atau sebaliknya, tak peduli lagi terhadap sakralitas Mesias? Berita betul kok malah takut? Ya karena siapa juga mau percaya pada pewartaan orang najis? Tak peduli pada sakralitas Mesias maksudnya? “Terserahlah mau gimana dari dulu juga sudah dibicarakan begitu tapi hidupku ya begini-begini aja.” “Terserahlah lu mau omong apa soal keadilan sosial, soal infrastruktur, soal busuknya Orba. Nyatanya hanya paslon ini yang duitnya mengucur ke gue dan cukup untuk bikin dapur ngebul.”

Akan tetapi, menurut penuturan teks bacaan hari ini memang warta gembira kedatangan Mesias itu disampaikan pertama kali kepada para gembala. Maka, tak mengherankan bahwa ketika mereka mendapati keluarga baru di Betlehem, orang-orang terheran-heran terhadap apa yang diwartakan oleh para gembala nan najis itu. Kok bisa-bisanya orang najis omong mengenai anak yang baru lahir itu? Entah apakah anak itu Mesias atau bukan, para gembala itu dikatakan kembali sambil memuji dan memuliakan Allah atas segala hal yang mereka dengar dan mereka lihat, yang klop dengan warta yang mereka terima.

Natal bukan lagi soal Mesias atau bukan, melainkan soal sabda Allah yang menghancurkan kategori manusia (termasuk agama) supaya hidup orang kembali jadi pujian dan kemuliaan-Nya. Caranya sudah disinggung pada posting (Soto) Anak Sulung kemarin, bukan? Selamat Natal.


FAJAR HARI NATAL
Selasa, 25 Desember 2018

Yes 62,11-12
Tit 3,4-7
Luk 2,15-20

Posting 2014: Selomot Notol

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s