(Soto) Anak Sulung

Perjumpaan dengan teman SD-SMP yang berkunjung ke kota domisili saya menjelang natal tahun ini membantu saya menafsirkan misteri Natal dengan bacaan dari Lukas. Kok isa ya?

Sebetulnya perjumpaannya sendiri ya biasalah seperti perjumpaan kawan lama: menggembirakan, menghibur, meneguhkan, dan pantas disyukuri [tanpa banyak planning ndelalahnya malah waktunya klop]. Hanya saja, kali ini saya mendapat keterangan istimewa dari hidup yang dibagikan teman saya ini, yang bersama suaminya rupanya jadi tour guide untuk kawan lama mereka dari negara tetangga. Entah bagaimana, pokoknya dibagikannyalah pengalaman sebagai orang tua mendidik anaknya. Ini orang tua Muslim yang tak saya ragukan komitmennya meskipun teman saya sendiri (sang istri) berpendidikan di sekolah-sekolah Katolik.

Saya bersyukur bahwa anak-anaknya diberi modal yang sangat baik untuk menjalani hidup mereka dengan menemukan orientasi yang kiranya klop dengan cita-cita dan potensi mereka sendiri. Ini bukan tipe orang tua yang “mama jadi dokter dan itu bagus dan prospektif jadi sebaiknya kamu jadi dokter” atau “papa jadi politikus dan bisa busuk tapi makmur jaya jadi sebaiknya ikuti papa”. Ini tipe orang tua yang menyadari anak-anak sebagai ‘titipan Tuhan’ dan tugas mereka adalah membangun pondasi supaya anak-anak mereka menjadi diri sendiri yang sesungguhnya, hidup seturut jati diri dan identitas yang klop dengan pribadi umat beriman [bukan yang ritualistik, legalistik]. Itulah yang juga saya mengerti dari teks Lukas untuk malam Natal tahun ini.

Dari sekian ayat yang disodorkan, Lukas cuma menyebut kelahiran Yesus dalam dua ayat: tibalah waktunya Maria bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung. Kok isa disebut sulung, wong dia itu anak tunggal, gak ada yang kedua dan seterusnya?
Karena, Lukas mempertimbangkan tradisi Yahudi juga yang akrab dengan hukum mengenai anak sulung. Dalam tradisi itu, kesulungan merujuk pada pembaktian anak kepada Allah Yang Mahabesar. Masih Anda ingat berkat anak sulung yang dulu jadi rebutan antara Esau dan Yakub. Anak sulung dibaktikan bagi Allah. Anak sulung disucikan atau dinazarkan atau dikhususkan bagi Allah. Maksudnya? Ya reservasi untuk Allah. Maksudnya, biar jadi pastor, ustad, pendeta gitu?

Ya bukan gitu juga kale’. Membaktikan anak kepada Allah berarti menuntunnya sedemikian rupa sehingga hidup anak itu benar-benar merefleksikan desain Allah yang sesungguhnya sesuai dengan seluruh modalitas yang ada padanya. Singkatnya, membaktikan anak sulung kepada Allah itu berarti soal memupuk seluruh kapasitas yang ada dalam diri anak itu supaya hidupnya sesuai dengan panggilan pribadinya. Panggilan pribadi tidak identik dengan cita-cita jadi dokter, seniman, ahli hukum, arsitek, pastor, dan seterusnya. Panggilan pribadi lebih berkenaan dengan “dokter yang bagaimana atau seperti apa”, “seniman yang keberpihakannya kepada duit atau kemanusiaan”, “arsitek yang peduli lingkungan atau peduli income“, “pastor yang dibeli politikus untuk memberikan suara umatnya atau yang mempertobatkan politikus busuk” dan seterusnya.

Menjadi orang tua yang dapat membaktikan anak sulung pada zaman now mengandaikan ketrampilan dialog untuk bersama-sama menemukan apa yang sekiranya dikehendaki Allah dari hidupnya.
Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu mengenali panggilan hidup kami sendiri dan membantu sesama untuk mengenali panggilan hidupnya di hadapan misteri hadir-Mu dalam hidup kami. Amin.


MALAM NATAL Tahun C
Senin, 24 Desember 2018

Yes 9,1-6
Tit 2,11-14
Luk 2,1-14

Posting 2015: Bukan Kelahiran Anak Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s