Gusti Ngantuk

Anda mungkin sering mendengar ungkapan bahasa Jawa “Gusti ora saré” alias “Tuhan tidak tidur”, tetapi pernahkah Anda membaca tulisan bahwa “Tuhan ngantuk”? Pasti pernahlah karena Anda sudah sampai pada kalimat ini. Seperti itulah ungkapan-ungkapan yang disebut antropomorfis: upaya memberi kualifikasi terhadap Tuhan dengan atribut-atribut manusiawi, karena memang hanya dengan bahasa manusiawi itulah orang bisa mengerti sesuatu. Apakah Tuhan memang tidak tidur? Tak usah mempersoalkannya karena ini juga ungkapan bersifat heuristik. Poinnya: Tuhan senantiasa eksis gimana pun cara dan manifestasinya. Kalau Tuhan memang tidak pernah tidur, boleh dong Dia ngantuk gitu.

Njuk kayak gimana ya kalau Tuhan ngantuk? Thêklak-thêkluk gitu mungkin? Haiya mboh. Yang lebih ngeri tentu dampaknya kalau Tuhan thêklak-thêkluk. Tapi jangan diteruskanlah gaya antropomorfisnya, nanti malah ngoyoworo cari perkara, kecuali kalau iman Anda sudah tak dipengaruhi perkara-perkara remeh duniawi ini. Misalnya, nyawa belum terkumpul karena bangun kesiangan, lalu Anda mantapkan hati untuk memakai sepatu jogging dan begitu keluar rumah hujan mulai turun. Anda kembali ke rumah berharap hujan segera berhenti sambil olah raga di tempat dan ternyata hujan tak naik-naik juga. Anda lepaslah sepatu Anda dan pada saat hendak masuk ke rumah, Anda lihat matahari bersinar keren dan hujan benar-benar naik. Anda berminat memakai sepatu lagi dan jogging? Benar-benar remeh bukan?

Yang dialami tokoh dalam teks bacaan hari ini bukan perkara remeh. Ini disinggung oleh Paus Fransiskus pada saat doa Angelus (bacanya: anjelus, artinya malaikat) 24 Juni lalu. Zakharia dan Elisabet, sebagaimana pasutri Yahudi lainnya, sungguh mendambakan keturunan sebagaimana sewajarnya orang menikah. Kita ingat bahwa keturunan diyakini sebagai berkat Tuhan kepada pasutri. Akan tetapi, sampai lewat masa produktif Elisabet, Zakharia tak kunjung mendapat momongan darinya. Bisa jadi mereka merasa kecewa, direndahkan, disisihkan dari berkat Tuhan itu. Lebih dari itu, harapan mereka bisa jadi pupus.

Pupus harapannya itu sedemikian dahsyatnya sehingga ketika mendapat kabar mengenai Elisabet yang akan mengandung, Zakharia tetap tak percaya, karena hukum alam tak mengizinkannya. Zakharia seakan lupa bahwa hukum alam itu tak dicipta manusia dan Allah Yang Mahabesar ini tak bergantung pada logika atau kemampuan manusia menafsir hukum alam, yang sangat terbatas. Karena ketidakpercayaan itu, Zakharia dibungkam, kelu lidahnya sampai nubuat yang tidak dipercayainya sungguh terjadi.

Orang beriman, yang multibelonging itu, semestinya belajar menaruh trust dan diam di hadapan misteri Allah dan mengontemplasikan pekerjaan-Nya dalam kerendahhatian dan keheningan. Kalau tidak, orang beriman hanya akan jadi orang pinggiran yang merasa diri beriman tetapi sebetulnya cuma bermain-main di wilayah pinggiran: agama. Wilayah pinggiran ini yang biasanya dimanfaatkan oleh para predator kekuasaan. Tanpa kontemplasi tadi, pekerjaan Allah yang dinyatakan dalam sejarah tak tertangkap batin karena… Tuhan ngantuk pun melampaui imajinasi manusia (mungkin Dia lupa belum kasih keturunan pada Zakharia 😂), gimana dengan pekerjaan-pekerjaan-Nya, jal?
Zakharia terlambat mengontemplasikan kebesaran Allah, tetapi katanya better late than never, dan kontemplasinya berujung pada selesainya kekeluan lidah. Ia memuji Tuhan dengan kidungnya dalam teks hari ini.

Ya Allah, mohon rahmat keheningan batin supaya kami semakin mampu menangkap misteri pekerjaan besar-Mu dalam hidup kami. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Senin, 24 Desember 2018

2Sam 7,1-5.8b-12.16
Luk 1,67-79

Posting 2016: Telolet Comes and Goes
Posting 2015: Allah Melawat, Manusia Ngelayap

Posting 2014: Bagaimana Memberkati Tuhan?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s