Vibrasi Apa

Pada saat jatuh cinta (ini hanya bisa dimengerti mereka yang pernah jatuh cinta loh ya), Anda tidak kenal penundaan untuk menemui orang atau hal yang kepadanya Anda jatuh cinta. Yang ada hanyalah menunda hal-hal lain demi berjumpa dengan sosok yang jadi objek jatuh cinta Anda ini. Anda bisa menunda makan, menunda main, bahkan mungkin melewatkan siaran pertandingan liga Inggris demi menemui sosok yang Anda jatuhi cinta atau jatuh-cintai [loh, jatuh cinta kan intransitif, Rom].

Teks bacaan hari ini menampilkan sosok Maria yang seakan-akan tak dapat menunda-nunda lagi untuk mengunjungi Elisabet, saudaranya yang sedang hamil enam bulan. Apakah ia jatuh cinta pada Elisabet? Saya kira tidak, tetapi karena karakter jatuh cinta itu juga bagian dari cinta universal, keterburu-buruan Maria untuk menemui Elisabet menunjukkan bahwa memang gairah cinta itu meluap-luap dan seakan-akan tak bisa memuat kosa kata “besok saja”, “kapan-kapan”, “tunggu dulu”, “setengah jam lagi”. Gairah cinta macam ini seakan-akan hanya kenal istilah “sekarang juga”.

Tidak hanya soal waktu, gairah cinta yang menggerakkan Maria juga mengesampingkan aneka bahaya. Perjalanannya ke tempat Elisabet pasti bukanlah perjalanan via trans-Papua atau trans-Kalimantan atau trans-Jawa di era Jokowi, melainkan perjalanan lewat medan yang sulit; tak ada infrastruktur yang bisa dimakannya [lha yang mau makan infrastruktur juga siapa]. Akan tetapi, bahaya itu tak seheboh gairah cinta Maria yang bakal jadi mahmud.

Ini gairah cinta yang membuat sense of belonging Maria terpaut pada sosok yang rupanya juga njawil Elisabet, yaitu Allah sendiri. Inilah cinta dari dalam yang membuat vibrasi rohani yang beresonansi dengan pribadi-pribadi lain yang jadi bagian dari rencana besar keselamatan Allah.

Kalau begitu, baiklah setiap umat beriman berefleksi: vibrasi apa yang timbul dalam dirinya dan apakah vibrasi itu juga menggetarkan orang lain yang hidupnya juga penuh cinta Allah. Ada banyak performance yang bisa menggetarkan orang lain untuk bergembira. Ada performance lain yang bisa menggetarkan orang lain untuk berdemonstrasi. Ada juga yang menggerakkan orang lain untuk mengganti presiden. Dari mana vibrasi yang muncul akan terlihat jika ditelusuri faktor-faktor yang bermain: duit, kuasa, cinta. Kalau dari tiga hal ini, cinta menempati urutan kedua atau terakhir, itu pertanda bahwa vibrasinya menyesatkan.

Semakin duit dan kuasa raib, semakin cinta mendapatkan tempat tersucinya, semakin vibrasinya menggembirakan banyak orang.
Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin tergetar oleh cinta-Mu lebih daripada kuasa dan uang. Amin.


HARI MINGGU ADVEN IV C/1
23 Desember 2018

Mi 5,1-4a
Ibr 10,5-10
Luk 1,39-45

Posting 2015: Shalom Gombal

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s