Telolet Comes and Goes

Konon Patriarch Aleksandria yang bernama Cyril pernah mengatakan (atau menulis? Entahlah, pasti tidak mengetik) kurang lebih begini: Dunia ini dulu error karena mengabdi ciptaan, alih-alih Penciptanya, dan dikabuti oleh ketidaktahuan. Malam gelap merubuhi pikiran semua orang sehingga tak mungkinlah mereka melihat sosok Allah yang hadir dalam sejarah.

Kenapa Bung Cyril ini memakai keterangan waktu ‘dulu’ seakan-akan pada zamannya dunia itu gak error ya? Apa ada orang beriman yang menganggap diri benar dan mengerrorkan orang lain? Bukankah mengabdi ciptaan dan hantu ignorance itu tendensi abadi manusia sehingga ia bisa mengafirkan orang lain? Bukankah attachment itu merupakan kecenderungan orang terhadap apa yang disukainya? Bukankah orang beragama bisa keblinger dengan agamanya sendiri sehingga ia berlagak sebagai pembela agamanya? Bukankah orang sekarang pun bisa jadi berlagak seperti Daud yang hendak menyogok Allah dengan mendirikan rumah Tuhan seperti dikisahkan dalam bacaan pertama?

Pastinya Om Cyril ini tidak belajar dari fenomena ‘Om Telolet Om’. Maklum, telolet belum ada pada abad ke-5. Akan tetapi, sebetulnya beliau mesti tahulah prinsip telolet comes and goes dan prinsip ini juga berlaku untuk hidup rohani. Kalau begitu, Bang Cyril ini pastinya mengatakan begitu tadi bukan dalam rangka mengafirkan orang lain (meskipun ia terlibat dalam pertentangan sengit dengan kelompok Nestorian dan ia sendiri dianggap kafir), melainkan dalam bingkai membongkar kesadaran orang yang cenderung mengabdi ciptaan lebih daripada mengabdi Sang Pencipta.

Njuk apa hubungannya je, Rom, antara telolet comes and goes dan tendensi mengabdi ciptaan lebih daripada mengabdi Sang Pencipta itu? Ya lihat atau alami saja itu ‘Om Telolet Om’. Gembira seperti anak-anak itu gak sewaktu telolet berbunyi?
Ya, gembira.
Njuk kalau gembira apa lalu teloletnya di situ terus?
Enggak, telolet itu lewat seiring dengan berlalunya si pembawa telolet.
Lha, apakah Anda mau mengejar pembawa telolet itu ke mana ia pergi?
Enggak (masih ada telolet lainnya nanti).
Anda masih gembira meski tak mengejar pembawa telolet itu?
Masih.
Jadi, telolet comes and goes dan Anda tetap gembira.

Itulah warta gembiranya. Telolet itu datang dan pergi tetapi orang tetap gembira. Kegembiraan macam itulah yang muncul dari kesadaran orang akan lawatan Allah. Sayangnya, orang punya tendensi untuk mengabdi pembawa telolet itu lebih daripada menghidupi telolet dalam hidup konkretnya. Ini tragedi yang terus berulang. Orang mau membekukan pembawa telolet itu demi ritual agamanya. Orang mau membakukan bayi Yesus dalam Natal dan segala atributnya yang digelembungkan oleh kultur konsumerisme. Nah, pada ribut dengan atribut dan telolet lewat tanpa sempat bergembira karenanya. Pengabdian kepada Allah tidak terletak pada pembakuan atribut yang rawan jadi pemecah kemanusiaan, tetapi pada realisasi Roh telolet dalam tindak saling mengasihi antarmanusia sendiri.

Ya Allah, semoga kegembiraan dari lawatan-Mu menguatkan kami untuk saling menghargai keragaman kami. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Sabtu, 24 Desember 2016

2Sam 7,1-5.8b-12.16
Luk 1,67-79

Posting Tahun Lalu: Allah Melawat, Manusia Ngelayap
Posting Tahun 2014: Bagaimana Memberkati Tuhan?

4 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s