Belum Telolet Juga

Senyaplah para suami, para lelaki, dan kerabat dalam relasi. Senyaplah semuanya seperti Zakharia sebelum menamai si bayi. Dalam senyap itu ditampungnya kritik dan protes perempuan tetangga: kok bisa tidak mengikuti kebiasaan tradisi?!

Game over, Saudara-saudara! Kalau orang sungguh mau menyambut Allah, ia mesti siap menanggalkan bahkan kebiasaan yang selama ini dianggap baik. Kalau orang sungguh mau mengalami perjumpaan dengan Tuhan, ia tak lagi bisa memperlakukan-Nya sebagai orang ketiga yang dijadikan bahan gosip. Sebaliknya, ia perlu menempatkan kebiasaan tradisinya sebagai objek dan berpaling kepada Allah sendiri: Du bist dran alias giliran-Mu! Ini adalah momen untuk mendengarkan Tuhan, juga dalam senyap. Momen itu tidak disediakan oleh blog ini (pembacalah yang menyediakannya).

Apresiasi perlu diberikan kepada aparatus negara yang belakangan dalam senyap bekerja menangkal gerakan teroris di bumi pertiwi ini, bahkan meskipun mungkin mereka tidak membutuhkan apresiasi itu. Orang waras tentu tahu bahwa gerakan sweeping mereka lebih terorientasikan pada kemanusiaan daripada gerakan pemeriksaan atribut (Natal). Ini curcol ya. Di satu sisi sedih bin prihatin saya melihat masih ada sekelompok orang yang merasa dirinya jauh lebih unggul daripada Allah yang mengenali hati manusia. Kenapa saya sebut merasa diri lebih unggul daripada Allah? Karena mereka mau mengambil alih kekuatan Allah yang bekerja lewat hati umat-Nya. Coba bayangkan, apakah Allah tidak mengetuk hati anggota dewan yang bancakan dengan anggaran? Apakah Allah tidak menyentuh hati mereka yang hendak melakukan korupsi?

Jadi, bahkan meskipun jelas-jelas ‘jangan membunuh’ itu adalah perintah Allah, mengapa orang yang membunuh pun de facto tidak dihabisi oleh Allah dengan petir atau gempa bumi atau tsunami atau apapun? Mengapa koruptor bisa leha-leha sementara para petani miskin berpanas hujan long march sekadar memperjuangkan nasib hidup mereka?
Oh, tenang, Pak, mereka nanti akan diadili Allah!
Kapan?
Ya nanti setelah kematian mereka!

Hahaha… lha ya itu, Mbah! Wong yang melanggar perintah Allah itu diadilinya nanti, mosok malah Anda mau memastikan orang menuruti tafsir Anda sendiri mengenai perintah Allah? Koruptor saja diadilinya nanti, mosok pakai kupluk saja mesti diadili sekarang? Mereka kan sudah diberi tahu, sudah paham, risiko biar ditanggung penumpang. Gitu aja kok repot!
Lho, justru karena itu soal tafsir kita sesama umat beragama, maka penegakannya ya sekarang ini, tidak tunggu nanti setelah kiamat.
Lha, kenapa kenapa bawa-bawa Allah segala? Tulalit (atau toilet?), belum ngerti juga susahnya membangun NKRI ini sampai sekarang! Mbok ya telolet saja dan move on gituloh.

Di lain sisi saya punya harapan bahwa aparat negara sebetulnya punya kemampuan dan wewenang untuk ‘menghabisi’ kelompok orang seperti itu. Ada satu rekaman yang kemarin saya tonton dan saya berharap bahwa semua aparat memiliki ketegasan seperti ini (yaitu, dalam menjaga kemajemukan), juga kalau tidak direkam.

Tuhan, semoga semakin banyak umat-Mu, apapun agamanya, yang membiarkan Engkau menjadi Allah, yang mendengarkan suara-Mu dalam hati dan tidak merancukannya dengan kepentingan diri dan malah mengancam NKRI. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Jumat, 23 Desember 2016

Mal 3,1-4;5,5-6
Luk 1,57-66

Posting Tahun Lalu: Game Over
Posting Tahun 2014: Apa Nama Sebuah Arti?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s