Tan Telolet Tan

Andaikan mayoritas sopir bus tolelot atau telolet itu perempuan, mungkin yang viral di dunia daring adalah judul posting ini, halah. Yang muncul dalam memori saya ketika sebentar mengamati demam om telolet om itu adalah ketika dalam suatu perjalanan di sekitar Gombong saya lihat dari kejauhan beberapa anak setengah telanjang berdiri di atas jembatan sungai di tepi jalan aspal. Mereka mengambil posisi menembak dengan menggunakan sebilah kayu dan mengarahkan senjatanya ke mobil yang saya naiki. Ketika mobil mendekat, saya keluarkan tangan dengan posisi jari seperti pistol terarah kepada mereka dan saya teriakkan dor tiga kali dan satu per satu anak itu berteriak dan menjatuhkan diri ke sungai…. dan saya tertawa. Iki sing edan sopo…

Permainan itu memang menggembirakan, tetapi orang tak perlu mempermainkan kegembiraan, horotoyoh… angel po ra? Jika frase ‘om telolet om’ itu direspon sopir dengan klason kelas dunianya, si pengujar frase itu bolehlah tertawa gembira. Akan tetapi, hukum kerohanian tetap berlaku di situ: kelebayan bertendensi menjadikan kegembiraan itu sebagai objek dan dengan demikian menurunkan kadarnya jadi target utak-atik-otak yang dibalut nafsu yang malah menjauhkan kegembiraan itu sendiri. Setelah orang mengalami ekstase kegembiraan, ia tetap perlu mendarat dengan jawaban pertanyaan njuk ngopo, trus ngapain, so what gituloh, dan sejenisnya. Bayangkanlah pemburu telolet ini tertawa cekakakan di atas motornya sampai sebelum ia menabrak atau ditabrak truk. Tragis aja.

Kegembiraan yang disodorkan bacaan hari ini bukanlah kegembiraan tragis. Ini adalah kegembiraan autentik yang muncul dari dalam dan orientasinya tidak kembali ke dalam diri sendiri. Kata kunci untuk memahami kegembiraan Maria barangkali adalah ταπείνωσιν (tapeinosin, sejenis mi atau tape Korea barangkali): perendahan, kerendahan. Maria sadar diri bahwa di hadapan Tuhan, dia nothing, nobody, pokoknya gak ada apa-apanya. Akan tetapi, justru karena Allah juga bekerja dalam nothingness itulah yang membuat Maria bergembira. Ini lebih dari sekadar senang karena aktualisasi diri atau pemenuhan kebutuhan achievement. Maria, juga Hana dalam bacaan lain, bergembira karena kebesaran Tuhan dan pertanyaan njuk ngopo trus ngapain itu dijawabnya dengan kembali ke ranah konkret: kembali ke rumahnya untuk mempersiapkan kelahiran anak, satu paket dengan suka duka pendidikannya.

Celakanya, tak sedikit orang yang mengaku beriman dan orientasinya cuma mengejar ‘kegembiraan’ dan menjauhi kesusahan. Loh, ya wajar to, Rom? Orang kan maunya mencari kemudahan, itu kenapa teknologi berkembang! Eaaaa…. betul, kembali ke filsafat main-main tadi: janganlah mempermainkan kemudahan, janganlah mempermainkan kebahagiaan. Itu mengapa Maria tidak terus tinggal bersama Elisabet dalam euforia. Ia mesti mendarat dengan status dan tanggung jawab konkretnya. Kalau tidak begitu, orang cuma ngerti kebahagiaan semata sebagai buah ‘Om toilet Om’!

Ya Tuhan, semoga hidup kami sungguh berasal dari-Mu dan kembali pula kepada-Mu. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Selasa, 22 Desember 2016

1Sam 1,24-28
Luk 1,46-56

Posting Tahun Lalu: Mahmud Bergiranglah
Posting Tahun 2014: Joged karena Bayi Tabung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s