Demen Amat sama Atribut

Belum bosan saya mengulangi pernyataan ini: kebahagiaan sejati tak terletak pada hal memiliki sesuatu (rumah mewah, mobil keren, pacar cantik, istri modis, jabatan tinggi, misalnya). Pada apa dong? Bacaan hari ini menunjukkan salah satu perspektif: pada perjumpaan nyata. Loh, ya sama aja toh, Rom, orang bahagia ketika ia memiliki perjumpaan nyata?
Dasar wong kemaruk, apa aja mau dikungkung dengan frame memiliki! Perjumpaan tak bisa dimiliki, bukan karena itu benda abstrak, melainkan karena perjumpaan adalah soal memperluas cakrawala egoistik orang dalam tindak pemberian dirinya. Bayangkanlah Anda duduk atau berdiri menunggu kedatangan TransJakarta atau TransJogja (Istimewah) bersama puluhan penumpang lain. Kebersamaan Anda bersama orang lain tidak menjamin adanya perjumpaan sampai terjadi, misalnya, Anda melihat sapu tangan terjatuh dari tas seorang nenek tua dan Anda mengambilkan sapu tangan itu dan memberikannya kepada nenek tua itu seraya berkata,”Terimalah dan makanlah #eh…” dan nenek tua itu mengedipkan sebelah matanya kepada Anda ciyeh...

Perjumpaan terjadi bukan pada saat Anda menatap kerlingan mata nenek tua itu, melainkan saat Anda membuka diri pada apa yang terjadi pada pribadi lain dan pribadi lain itu juga menyadari kehadiran Anda dan kalian semua bergembira dan mungkin hidup bahagia sebagai suami istri, hahaha… Anda sehat?
Kegembiraan sejati terjadi ketika orang berurusan dengan Liyan (Yang Lain) seperti digambarkan dalam bacaan hari ini ketika Elisabet (representasi Perjanjian Lama) berjumpa dengan Maria (wakil kontingen Perjanjian Baru). Sekurang-kurangnya ada dua hal yang bisa dipetik dari kisah sederhana ini. Maria, setelah menerima kabar sukacita, bergegas ke kota saudarinya itu… 100 kilometer zaman itu bo’! Kegembiraannya itu hendak ia bagikan kepada saudaranya di tempat yang jauh. Jarak tak jadi hambatan. Pokoknya, kegembiraan itu mesti dibagikan kepada yang lain. Itu pada dirinya sudah membahagiakan: berbagi kegembiraan dengan yang lain.

Kedua, kegembiraan sejati itu ternyata muncul dari dalam. Tentu saja Elisabet gembira karena dikunjungi saudaranya, tetapi sebagai seorang ibu ia tahu benar bahwa sesuatu terjadi dalam rahimnya ketika Maria yang baru hamil muda itu datang. Yang ada dalam rahimnya melonjak kegirangan, bukan karena bakal jadi anak badung, melainkan karena ada jenis setrum tertentu: Roh Allah sendiri. Begitulah, orang sungguh happy karena berurusan dengan Yang Lain dari kedalamannya, bahkan bukan karena atribut suci agama.
Loh, kan Elisabet itu bilang “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Rom? Ibu Tuhanku itu kan atribut? Betul, tetapi atribut itu datangnya dari dalam. Dia bisa nyebut atribut itu setelah ia penuh dengan Roh Kudus; coba ya baca teksnya. [Kalo’ cuma baca teks ini mah ujung-ujungnya menganggap tulisan saya ini sebagai renungan, hahaha… lha wong gak baca konteksnya.]

Kebahagiaan tidak terletak pada hal memiliki sesuatu, tetapi pada perjumpaan nyata dengan Yang Lain, pada disposisi orang untuk mengenali, memahami Yang Lain, martabat-Nya, kepribadian-Nya. Orang sungguh happy ketika ia membuka diri, menerima Yang Lain itu, mencintai-Nya, mengikuti-Nya. Atribut malah cuma bikin orang ribet dengan fatwa atau reaksi terhadapnya. Eaaa… mari berlangganan fatwa dan dijamin kita tidak sampai pada kedalaman.

Ya Allah, mohon rahmat keterbukaan hati untuk mengalami perjumpaan dengan Yang Lain, yang sungguh membahagiakan. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Rabu, 21 Desember 2016

Kid 2,8-14
Luk 1,39-45

Posting Tahun Lalu: Mari Gembira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s