Fully Charged

Ternyata saya belum mati juga meskipun handphone saya lebih kerap tak bernyawa dan bertengger di meja atau berdiam diri manis di saku atau di mobil atau di manapun dia berada. Handphone saya gak banyak omong, dan ternyata kok ya masih hidup sayanya. Mungkin orang lain yang jengkel sampai mati karena hape saya yang senantiasa keeps silent ini. Entahlah, saya mungkin memang berada di dunia lain, tetapi saya memegang prinsip golden rule dalam hal ini: saya tak akan mengganggu kesibukan orang lain seturut jadwal kegiatannya dengan tuntutan komunikasi real-time, pun kalau saya dalam kondisi darurat; dijawab ya syukur, gak dijawab ya syukur.

Tapi bukan itu pokok yang hendak saya bicarakan di sini. Saya lebih risau dengan hape yang tak bernyawa padahal saya butuhkan sebagai gps daripada karena alasan telpon-telponan atau sms/wa/medsosan. Apalagi kalau sampai lupa bawa charger dalam perjalanan ke tempat-tempat baru. Mateng deh. Bisa saya mengerti bagaimana rasanya kalau orang doyan medsos via handphone dan hapenya ngedrop!

Hape saya gampang ngedrop dan menurut saran tetangga sebaiknya batrenya diganti. Terhadap saran itu saya ragu-ragu: gek-gek harga batre aslinya lebih mahal daripada harga hapenya. Memang njelehi sih. Lha wong sudah dicas penuh kok dalam hitungan beberapa jam sudah minta cas lagi. Ampun deh. Ini pasti gara-gara grup macam wa yang anggotanya cinta ucapan ultah. Kalo’ 10 grup saja dan anggotanya 600an orang apa ya gak hampir tiap hari ada yang ultah ya? Semuanya nebeng di grup untuk eksis mengucapkan selamat ulang tahun. Alhasil, meskipun hape saya keeps silent, batrenya tetap kerja keras untuk menampung aneka ucapan met ultah dll itu.

Tapi bukan itu pokok yang hendak saya bicarakan di sini. Saya tiba-tiba teringat frase ‘penuh rahmat’ dalam doa Salam Maria dan teks bacaan hari ini. Hape tak mungkin fully charged sepanjang segala abad. Bisa jadi orang pun tak mungkin ‘penuh rahmat’ sepanjang segala abad. Akan tetapi, peristiwa kabar malaikat kepada Maria ini meyakinkan saya bahwa mungkinlah orang ‘penuh rahmat’ sepanjang segala abad. Tentu saja, karena rahmat itu bukan dari manusia sendiri, bukan juga seperti barang yang bisa dilestarikan dengan ruang hampa udara atau diberi air keras atau formalin atau bagaimanalah. Penuh rahmat berarti dicintai secara utuh oleh Allah dan kalau begitu, apa ada orang yang tidak dicintai Allah secara utuh?

Cinta itu bisnis Allah dan sifatnya abadi. Maria fully charged dan batrenya berfungsi sempurna karena disposisi yang dikembangkan dalam dirinya: aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.

Ya Allah, mohon batre original yang memampukan kami menanggapi kehendak-Mu dengan pilihan-pilihan hidup kami. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
20 Desember 2016

Yes 7,10-14
Luk 1,26-38

Posting Tahun 2014: Hamba Tuhan Tuh Apa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s