Sense of Belonging Sesat

Kalau kemarinnya kemarin saya bawel soal simbol, hari ini soal sense of belonging. Ungkapan ini rupanya ditafsirkan oleh orang yang posesif dan jadilah saya ikut keliru memahami sense of belonging sebagai rasa memiliki.

Memang belonging sudah kaprah dikaitkan dengan kepemilikan. Aneh kan kalau ada peringatan bunyinya keep an eye on belongings? Belongings yang mana gituloh yang mesti diawasi? Maka, biasanya peringatan itu berbunyi keep an eye on your belongings. Belongings sendiri merujuk pada barang-barang, harta, atau benda tertentu.

Contoh lain yang juga mengindikasikan kekeliruan itu ialah terjemahan I belong to you atau sebaliknya you belong to me: aku milikmu atau engkau milikku! Saya curiga bahwa kata ‘milik’ itu memang bias orang posesif, apa-apa saja mau diklaim, dikungkung, dikuasai, diikat dengan dirinya mentang-mentang dekat. Pengertian ini diperkuat lagi dengan ungkapan Jawa melu handarbeni yang dalam bahasa Indonesia tentu jadi rasa memiliki.

Akan tetapi, sense of belonging bukanlah soal rasa memiliki. Kalau saya mengatakan I belong to you kepada Anda (iya, Anda), itu berarti saya menempatkan diri sebagai bagian dari Anda (iya, Anda). Saya mengecilkan diri saya dan meletakkannya dalam kebersamaan dengan Anda. Itu sama sekali tidak berarti bahwa saya milik Anda (iya, Anda). Maka, I belong to this beloved country sama sekali tidak berarti bahwa saya milik negeri ini, tetapi saya menjadi bagian dari negeri ini. Begitulah sehingga kalau suatu ember diklaim belongs to me itu berarti si ember jadi bagian dari diri saya. Belum tentu embernya sendiri adalah kepunyaan atau hak milik saya karena bisa saja saya masih kredit ember dan belum lunas!

Dengan demikian, mengenai kepemilikan pun orang perlu berpikir secara heuristik. Pada saat Anda mengatakan “Agama saya mengatakan bla bla bla”,  Anda perlu sadar bahwa “agama saya” itu sebetulnya “tidak ada”. Pernyataan itu cuma mau mengatakan bahwa Anda menempatkan diri sebagai bagian dari agama tertentu, tetapi Anda tak pernah bisa membuktikan bahwa agama tertentu itu adalah milik Anda dan sebaliknya bahwa Anda adalah milik agama tertentu itu.
Misalnya Anda mengatakan bahwa inti agama Kristen/Katolik adalah kasih karena dalam agama Kristen/Katolik dikenal Allah yang adalah kasih. Dengan segala hormat kepada kesalehan Anda, kata-kata Anda itu adalah pret alias gombal amoh! Sebaliknya, sikap penyerahan kepada Allah YME juga tidak bisa direduksi sebagai hak milik agama Islam. Begitu seterusnya sehingga bangsa manusia ini multibelonging dalam hidup beragama.

Meskipun saya berlabel Katolik, saya tidak cuma jadi bagian agama Katolik, tetapi juga agama Islam yang juga dekat dalam hidup saya. Penelitian terbaru mengenai negara Islami dengan tolok ukur nilai-nilai Islami juga menunjukkan bahwa nilai Islami tidak eksklusif. Orang beragama lain, atau bahkan yang tak beragama, bisa jadi bagian dari nilai Islami itu. 

Hubungannya dengan teks hari ini?
Saya perhatikan keterangan Elisabet. Ia tidak mengatakan “anakku yang di rahim”, melainkan “anak yang di dalam rahimku”. Anak yang di dalam rahimnya, sebagaimana Elisabet, belongs to a greater world, dunia yang dikuasai Allah, dan itulah yang membuat Elisabet bisa ikut bergembira, bukan klaimnya terhadap anak atau hidupnya sendiri.


HARI KHUSUS ADVEN
Jumat, 21 Desember 2018

Kid 2,8-14
Luk 1,39-45

Posting 2017: Terlambat Buru-buru
Posting 2016: Demen Amat sama Atribut

Posting 2014: Mari Gembira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s