Sekadar Simbol?

Pada mulanya adalah sebuah komik.

Latar belakangnya adalah narasi yang sudah diulas pada link ini. Mengenai duduk perkaranya sendiri saya tak ambil pusing, apalagi kalau sudah tersusupi agenda politik. Catatan ini saya buat sekadar untuk memberantas kebodohan (orang beragama) dan memerangi kemiskinan, habis gelap terbit terang hari depan c(em)erlang.

Maka, aneka fenomena yang terjadi seperti baru-baru ini terjadi di kota pelajar baiklah dilihat dalam bingkai bagaimana kebodohan bisa menghantui orang beragama. Maaf, ini sama sekali bukan untuk mendiskreditkan orang beragama atau mendorong orang supaya jadi agnostik atau bahkan ateis. Saya sendiri memercayai kebaikan agama, cuma gak mau dibodohi aja. Kalau butuh penjelasan agak ribet, silakan baca posting Agama Penjajah.

Saya mulai dengan mengkritisi ungkapan seperti “Itu cuma simbol” karena ungkapan itu sangat korup sehingga asosiasinya juga bisa keliru: disamakan dengan tanda.
Contoh: traffic light itu bukan simbol, melainkan tanda yang menandakan sesuatu (anjuran untuk bablas, hati-hati atau berhenti). Yang menghubungkan antara tanda dan yang ditandakannya hanyalah konsensus, kesepakatan orang. Tidak ada hubungan logis antara warna merah dan berhenti. Kalau Anda melanggar lampu merah, itu cuma berarti Anda melanggar konsensus. Mau dicap tak disiplin, mbalélo atau egois, cap itu tidak membuat lampu merah jadi hijau atau membuat sekujur tubuh Anda jadi merah.

Simbol lebih daripada sekadar konsensus karena punya hubungan logis dengan hal yang disimbolkannya. Misalnya, andaikanlah jabat tangan adalah salah satu simbol perdamaian, persetujuan, atau kerja sama. Tindakan berjabat tangan, dengan demikian, sekaligus menghadirkan perdamaian, persetujuan, atau kerja sama itu. Di sini, kalau orang tak mau berjabat tangan, ia tak hanya melanggar konsensus jabat tangan sebagai tanda, tetapi juga memang tak mau berdamai, setuju, atau kerja sama. Yang simbolis mesti terkait dengan hal yang disimbolkan.
Kalau tidak gitu, bayangkanlah, Anda mendapat hadiah mobil mini Cooper dan saat penyerahan hadiah itu kepada Anda diberikan kunci besar sebagai simbol hadiahnya. Setelah itu, Anda tak kunjung dapat mobilnya. Kêtipu deh, itu kunci besar bukan simbol mobil mini Cooper.

Yang sekarang lagi santer diberitakan adalah tanda salib, yang bikin orang kèdêr. Yang kèdêr ini cuma orang beragama yang kurang satu strip sih. Tanda salib bukan simbol salib. Tanda salib hanyalah tanda identitas tertentu, misalnya agama Kristen atau Katolik. Selanjutnya, agama Kristen atau Katolik itu juga cuma tanda kekristenan atau kekatolikan. Akan tetapi, kekristenan atau kekatolikan itu adalah simbol iman, yang jebulnya bukan satu-satunya simbol. Keislaman adalah juga simbol iman. Kekristenan, kekatolikan, keislaman, kepercayaan lainnya merupakan simbol iman manusia terhadap sesuatu yang transenden, yang mengatasi hidup manusia sendiri.

Ketidakcermatan orang beragama melihat hal ini malah mencederai hidup keagamaannya sendiri, yang kadang-kadang jadi tampak lucu seperti digambarkan komik di atas (kalau tidak mengerikan seperti Siria atau Marawi).
Orang beragama yang kurang satu strip lebih concern pada tanda salib daripada simbol salib; lebih gampang bikinnya, saking mudahnya, orang ateis pun bisa melakukannya. Simbol salib, jauh lebih runyam karena hidup orangnyalah yang jadi simbolnya dan to tell the truth, tak banyak orang Kristen/Katolik yang hidupnya happy sebagai simbol salib: lebih memilih simbol kemakmuran atau kemuliaan. Kalau terpaksanya memilih simbol salib pun, penuh keluh kesah dan menggerutu. Alamak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s