Jalan Berpikir

Dulu sewaktu kecil secara naif saya berpikir bahwa orang menikah itu mesti otomatis punya anak. Saya tidak tahu bahwa jebulnya kemunculan anak itu tidak otomatis terjadi. Dengan modal saling pelotot saja tak cukup alasan untuk kelahiran anak baru. Setelah agak besar sedikit saya pun secara naif berpikir bahwa sexual intercourse antara laki-laki dan perempuan pasti menghasilkan anak. Jebulnya #tidaksemudahituferguso. 

Tentu [sekarang ini] ada fakta sebaliknya: ada yang sekali intercourse saja lalu mak brojol tiga anak sekaligus, atau setiap tahun mencetak anak baru selama sebelas tahun, entah karena tinggal di pinggiran rel atau karena hobi jualan [iki omong apa sih Rom?]. Jadi, ternyata ada yang mudah, tapi ada juga yang susah. Njuk ngopo?

Mari tilik akhir teks bacaan hari ini. Di situ dituliskan kegirangan Elisabet istri Zakharia. Kenapa? Karena menurutnya, Tuhan berkenan menghapuskan aibnya di depan orang. Loh, apa aibnya? Ya itu, mandul sekian lama, tapi di penghujung hidupnya akhirnya mengandung anak.
Artinya, pada zaman itu, di tempat Elisabet, kemandulan dan tak punya anak dianggap sebagai aib. Sebaliknya, punya banyak keturunan itu klop dengan janji Allah kepada Abraham untuk punya keturunan bangsa besar.

Apakah tolok ukur aib itu mesti dipertahankan zaman now? Mempertimbangkan kenyataan bahwa jebulnya punya anak itu bisa jadi perkara mudah dan susah, rasanya jadi tidak adil kalau tolok ukur aib tadi diterapkan. Aneh dong kalau yang di pinggiran rel itu beranak pinak tak terbatas dan hidup jadi semakin susah tapi disebut banyak berkah sedangkan yang sudah berusaha keras dengan aneka konsultasi dan koreksi tak kunjung dapat momongan tapi disebut punya aib! Ini bukan dalam rangka membela diri karena saya tak punya momongan, hahaha… Aneh aja bahwa aib atau kutukan Allah itu diukur dengan jumlah anak. Rasa saya, itu tak relevan lagi.

Yang tetap relevan ialah bahwa kehadiran anak itu dihubungkan dengan narasi Zakharia yang bergumul dengan kepercayaan kepada Allah. Zakharia terus berkutat dengan cara berpikir manusia; begitu juga halnya Elisabet memikirkan aib di depan orang, meskipun ia bersyukur Allah mencabut aibnya. Poin utamanya bukan lagi cara pikir manusia, aib di depan manusia, melainkan cara berpikir Allah yang kepadanya pikiran manusiawi belaka mesti ditundukkan.

Konkretnya, kehadiran anak tidak lagi dipikirkan seperti yang saya pikirkan saat kecil dan agak besar tadi, tetapi sebagai bagian dari rencana atau kehendak Allah dalam hidup manusia. Kalau tidak, hal ini cuma akan jadi aib, entah anak baru hadir atau tidak. Kalau anak baru hadir, suami-istri tak mengurusnya baik-baik (entah karena tak bisa atau tak mau; entah karena tak punya rencana atau tanggung jawab); kalau anak baru tak hadir, suami-istri stres, sinting, ngotot dengan usaha sendiri daripada terus mencari apa yang sungguh dikehendaki Allah di dunia yang penuh ketidakadilan ini.

Akhirnya, semoga masa Adven ini jadi pengingat supaya orang beriman sungguh lebih peduli pada jalan pikiran Allah (yang susahnya setengah mati dimengerti) daripada ngèyèl dan nggugu karêpé dhéwé (yang tentu saja jauh lebih gampang). Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Rabu, 19 Desember 2018

Hak 13,2-7.24-25a
Luk 1,5-25

Posting 2017: Dasar Majenun
Posting 2016: Sahabat Syaiton

Posting 2015: Imam Dukun
 
Posting 2014: Tong Kosong BerbuNyi NyiNyiR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s