Keluhuran Islam

Kemarin sudah saya jelaskan bahwa kalau orang mau jujur, sebetulnya Kitab Suci Kristen itu tidak penting, eh… salah, Kitab Suci Kristen itu, meskipun inspirasinya datang dari Roh Kudus, ditulis oleh makhluk historis yang tak terlepas dari kepentingan tertentu. Penulis Matius, misalnya, maunya bikin mantap orang Yahudi yang percaya pada Yesus dengan meyakinkan mereka bahwa Yesus ini benar-benar keturunan Daud. Kok Romo tau maunya penulis Matius gitu? Pertama, sok tau. Kedua, kata guru saya gitu. Ketiga, kalau membandingkan dengan teks Injil lain memang tulisan Matiuslah yang kental dengan perbendaharaan Yahudi. Jadi, saya sebagai orang bukan Yahudi, gak mau dong membaca teksnya untuk kepentingan identitas Yahudi.
Lha emangnya identitas Romo apa? Nah itulah problem saya, gak jelas, wkwkwkwk.

Pokoknya, selain karena narasi kelahiran Isa dari teks suci Islam (Maria sendirian bergumul dengan kandungannya di bawah pohon kurma), saya bersyukur karena ada versi dari Matius yang membuka perspektif umat beriman juga. Gak banyak sih yang dipaparkan Matius mengenai Yosef. Figurnya tetap tersembunyi di balik sosok Maria yang lebih menonjol. Akan tetapi, yang tak banyak itu jebulnya penting untuk disimak.

Jadi ceritanya gini (belum-belum kok sudah kesimpulan): Maria itu baru bertunangan kok ndelalahnya sudah hamil [lha ya masih mending toh daripada gak tunangan, gak punya rencana married, jebulnya berbadan dua, njuk kelak bayinya dibuang😡]. Yosef sudah selayaknya menceraikan Maria karena dia tahu betul bahwa yang dikandung Maria bukan benihnya dan itu sesuai dengan hukum yang berlaku (mereka tidak beragama Katolik). Akan tetapi, Yosef menemukan solusi lain. Ini mudah saya ketik, tetapi entahlah apa yang sesungguhnya terjadi pada Yosef.

Bisa jadi dia marah besar pada Maria loh. Siapa tahu? Bisa jadi Yosef bergumul dengan prasangkanya sendiri terhadap Maria. Bisa jadi mereka cekcok di belakang rumah secara sembunyi-sembunyi (karena mereka memang mestinya gak boleh ketemu sebelum hari perkawinan). Entahlah, saya benar-benar tidak tahu, tetapi taruhlah Yosef dan Maria ini taat hukum, dan berita mengenai kehamilan Maria itu mesti dirahasiakan: Yosef bergumul berat. Ia sendiri tak habis pikir bagaimana mungkin Maria bisa hamil karena ia tak sekali pun menyentuhnya setelah bertunangan! Ini pasti perbuatan lelaki lain! Uji DNA pun Yosef jelas yakin.

Justru itulah yang menarik saya: ia tidak menyerahkan dirinya pada bukti uji DNA (belum ada sih), menyingkirkan fokus perhatian pada baliho #eh… pada kemungkinan perselingkuhan, pengkhianatan Maria dan kemarahannya sendiri pada Maria. Dalam pergumulannya itu, ia menyerahkan diri pada inspirasi dari malaikat, dan keputusannya bulat: positif mengambil Maria sebagai istrinya meskipun anak yang dikandungnya bukan benihnya sendiri.

Penyerahan diri kepada inspirasi malaikat, penyerahan diri kepada Allah, di kepala saya terasosiasikan dengan Islam. Kalau tak ada Islam, entahlah apa yang terjadi pada Yosef dan Maria. Saya kira, kalau tak ada Islam, kehendak Allah terabaikan dan Yosef membiarkan kemanusiaan Maria dan yang dikandungnya ancur ya ancur dirajam orang-orang yang taat hukum tapi tak pernah sungguh-sungguh mengkaji ulang keadilan hukumnya.

Tuhan, mohon rahmat-Mu supaya semakin banyak orang yang menghidupi keluhuran Islam dan kemanusiaan sungguh dibela lebih daripada sentimen keagamaan yang sempit. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Selasa, 18 Desember 2018

Yer 23,5-8
Mat 1,18-24

Posting 2017: Siyap, Bos!
Posting 2015: Mana Komitmennya?
 
Posting 2014: Terlanjur Married

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s