Khilaf (Lagi) Ah

Saya kaget mendapat inspirasi bahwa ide khilafah itu klop dengan teks bacaan hari ini, yang sudah dibacakan dua belas hari lalu dan bahkan dalam lingkaran liturgi tahun B dibacakan pada Minggu Adven IV. Apa pentingnya sih ini teks sampai mesti diulang-ulang gitu? Jebulnya, pentingnya teks ini malah saya lihat dalam perbandingan dengan ide khilafah. Kok isa ya?

Saya bukan ahli khilafah tetapi saya bisa mengerti bahwa khilafah pastilah menentang sekularisme, yang memisahkan agama dari negara. Perbedaan penting antara khilafah dan demokrasi terletak pada agen pelaku musyawarahnya. Pelaku musyawarah dalam demokrasi dengan slogan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, tentu adalah seluruh rakyat dan karena tak mungkin ratusan juta orang reuni untuk bermufakat, diperlukan sistem representasi, yang bisa mengakomodasi suara rakyat.

Sementara itu, musyawarah mufakat dalam khilafah dilakukan oleh ‘rakyat’ tertentu, yaitu ‘rakyat agama’, dengan keyakinan bahwa kekuasaan mutlak ada pada Tuhan. Nah, ini awesome 😮, klop dengan inspirasi teks hari ini: Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu. Kehendak Tuhan itu superior terhadap kehendak hamba-Nya, dan kehendak Tuhan itulah yang mesti direalisasikan. Kalau ini sungguh bisa direalisasikan dalam satu negara, pemerintahan itulah yang disebut sebagai teokrasi. Contohnya tentu saja Gereja Katolik yang dulu punya kuasa penuh dalam negara-negara di Eropa. Khilafah juga masuk di sini.

Menariknya, Gereja-Negara Katolik itu sudah selesai secara definitif setelah Revolusi Perancis. Memang masih ada sebagian kelompok romantis dalam Gereja Katolik yang hendak mengembalikan kejayaan masa lalu Gereja, tetapi ini biasanya lebih berkenaan dengan urusan internal (biasanya menyoal liturgi atau perdebatan moral). Gereja Katolik tak lagi berpretensi sebagai pemegang tampuk pemerintahan sekular. Ini tentu tidak berarti memisahkan diri dari negara karena Gereja Katolik menempatkan diri sebagai kekuatan moral dalam relasinya dengan negara.

Khilafah sebetulnya juga sudah usai tak lama setelah Perang Dunia I berakhir. Akan tetapi, saya kira, karena tak ada hirarki dalam Islam, kelompok romantis bisa berkembang lebih leluasa, bukan cuma soal internal, melainkan juga soal tata negara. Agenda orang romantis ini seperti agenda paslon yang menyerukan semacam “Make America great again!“.

Loh, bukankah bagus, Rom, membuat kehendak Allah itu terwujud di bumi ini? Bukankah doa Bapa Kami juga isinya ‘menjadikan kehendak-Nya nyata di atas bumi’?
Betuuuuul, itu mengapa ide khilafah cool alias awesome, klop dengan pernyataan “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku seturut kehendak-Mu”.
Kekuasaan absolut memang hanya ada pada Tuhan.

Meskipun demikian, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kita sekarang sadar bahwa kehendak Tuhan itu tak lagi bisa dimonopoli agama, perspektif, oknum tertentu. Orang butuh semacam képologi nan rendah hati sekaligus epistemological humility. Memang segalanya jadi lebih gampang jika kebenaran bisa dimonopoli agama tertentu. Akan tetapi, itu akan terasa seperti menonton TV hitam putih. Masih bisa ditemui abu-abu (untuk merujuk kompromi), tetapi warna pokoknya cuma hitam putih, tak seindah aslinya. Hidup begini membuat orang jadi cupet dan inferior terhadap hidup yang senantiasa berubah-ubah, gamang dan takut terhadap dunia baru yang butuh tanggapan baru.

Hidup yang seindah aslinya lebih menggerakkan orang untuk bersyukur bersama yang lain.


HARI KHUSUS ADVEN
Kamis, 20 Desember 2018

Yes 7,10-14
Luk 1,26-38

Posting 2017: Hidup Bukan Nganu
Posting 2016: Fully Charged

Posting 2014: Hamba Tuhan Tuh Apa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s