Terlambat Buru-buru

Tadi siang saya sudah diingatkan sekretariat kampus bahwa saya belum mengumpulkan dua paper. Sebetulnya bukan diingatkan sihwong pasti beliaunya yakin bahwa saya ingat akan dua paper yang belum saya tumpuk (padahal cuma numpuk dua paper apa susahnya ya? Tinggal tumpuk aja kan? Kalau perlu di atas tumpukan itu dikasih batu biar gak terbang tertiup angin ciyeh….); lebih tepatnya ditagih supaya papernya dikumpulkan.

Mak jegagig… saya memohon, memelas, bergaya sedemikian rupa supaya masih boleh mengumpulkan paper besok; dan dijawab boleh (soalnya kalau dijawab tidak boleh pun ya sama saja saya tetap baru bisa mengumpulkan paper besok); dan ternyata teman di sekretariat ini mengatakan bahwa besok masih bisa. Waduuuh…. terima kasih banyak. Orang ini jangan-jangan adalah Yesus juru selamat sesungguhnya, hahaha….

Situasinya jadi seperti situasi yang disodorkan dalam bacaan ini, barangkali. Saya buru-buru cek pada aplikasi Kitab Suci dengan konten tulisan para ahli dan tersadarlah saya bahwa terjemahan bahasa Indonesia di kalimat awal ternyata tak membuat saya paham. Di teks Yunani ada kata μετὰ σπουδῆς yang dalam bahasa Latin cum festinatione yang padanan Italianya in fretta yang kalau diinggriskan jadi with haste dan diindonesiakan mestinya jadi belok kiri boleh langsung dan ternyata di teks Kitab Suci yang saya pegang bunyinya memang ‘langsung’, gitu. Kok bisa pas ya? Ya tentu saja bisa karena ‘belkibolang’ tadi cuma situasi subjektif saya yang setiap mau belok kiri mesti lihat dulu ada keterangan boleh langsung atau tidak. Padahal sih terjemahan bahasa-bahasa asing tadi sebetulnya tak terhubung secara dekat dengan ‘langsung’.

Frase “langsung berjalan” pada terjemahan bahasa Indonesia tak begitu bunyi bagi saya. Memang bisa diberi penjelasan, tetapi tetap lebih mudah menangkap langsung dari bahasa-bahasa lain tadi karena ternyata cocok dengan situasi saya tadi: ditagih paper, buru-buru mesti menyelesaikan papernya. De facto saya tidak langsung mengerjakan paper karena masih ada pekerjaan lain. Artinya, ‘buru-buru’ tadi merasuki sikap batin saya, bukan tindakan saya. Rak cilaka kalau mengerjakan ini itu secara terburu-buru. Kalau ‘buru-buru’ itu ada dalam sikap batin, itu maksud saya hanya bahwa kesadaran untuk hal tertentu bertambah, tidak otomatis membuat orang grusa-grusu.

Akan tetapi, jangan-jangan, seperti pengalaman Maria itu, Sabda Allah, Firman, Kitab Suci-Nya (apapun merknya), memang membuat orang beriman ‘buru-buru’ keluar dari kebiasaannya, kecemasannya, pikiran-pikirannya sendiri. Kalau memang begitu, pantaslah ia bergembira, dan boleh dong saya bergembira, meskipun besok mesti numpuk dua paper nih, hahaha…

Ya Allah, maaf, mungkin kami memang sableng, mohon rahmat supaya sabda-Mu sungguh segera menghubungkan kami dengan mereka yang membutuhkan Engkau, orang-orang miskin. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
Kamis, 21 Desember 2017

Kid 2,8-14
Luk 1,39-45

Posting 2016: Demen Amat sama Atribut
Posting 2014: Mari Gembira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s