Sewaktu masih jadi monyet kecil dulu, saya penasaran pada sosok temin yang tak pernah sekelas dengan saya tapi menarik hati saya. Tak pernah saya lihat dia diantar dengan kendaraan pribadi atau publik. Setiap hari dia jalan kaki, baik berangkat maupun pulang sekolah. Tidak sendirian memang, selalu dengan temin lain yang saya kenal tapi juga tak dekat-dekat amat dengan saya.
Penasaran itu mendorong saya untuk suatu hari mengikuti temin-temin itu supaya saya tahu di mana rumah temin yang saya suka itu. Tentu, saya tak terang-terangan mengikutinya, dan saya jalan kaki juga bersama teman yang mendukung saya untuk pedekate dengan temin itu. Setelah sekian ratus meter kami menyusuri jalan samping sekolah, temin-temin tadi berpisah; dan kami tak salah ambil jalan untuk mengikuti temin kesukaan saya tadi.
Setelah dua belokan, kiri dan kanan, harapan saya semakin besar untuk segera tahu di mana rumah temin itu. Ia berbelok dan masuk ke jalan lebih besar. Nah, berarti rumahnya bisa di pinggir jalan besar ini, yang dilalui angkutan umum. Akan tetapi, ia tak kunjung juga berhenti atau menyeberang jalan. Terus berjalan. Kami tetap mengikuti terus sampai ia berbelok di pertigaan besar. Lah, jangan-jangan rumahnya tak jauh dari sekolah karena jalan besar ini memang mengarah ke sekolah.
Betul saja, temin saya itu tidak menyeberang jalan dan terus saja menuju sekolah tetapi tidak masuk rumah mana pun sampai akhirnya saya lihat dia berbelok ke jalan sekolah kami. Saya dan teman saya terbengong-bengong; lah rumahnya di mana ya? Kami juga ikut berbelok ke jalan samping sekolah dan temin kami itu terus berjalan persis seperti tadi selepas dari gerbang sekolah.
Sesampainya di sekolah, saya cuma tertawa-tawa bersama teman saya, “Kayaknya kita ketauan ya?” Temin saya terus berjalan dan saya tak lagi mengikutinya. Tetap tak tahu sampai sekarang di mana rumahnya. Sepertinya saya kelak meninggal sebagai arwah penasaran.
Sebetulnya, penasaran di mana rumahnya tidaklah penting. Yang jauh lebih penting ialah penasaran soal siapa temin saya itu.
Begitu jugalah kiranya kebanyakan dari kita yang tak kunjung menemukan jawaban mendasar seperti mengapa aku harus dilahirkan di dunia ini, apa makna hidupku, dan seterusnya. Jebulnya, mengikuti jalan nabi tidaklah sesederhana meniru tindak tanduknya. Bisa saja seluruh perkataan dan perbuatannya diinventarisasi dan kita ikuti perkataan dan perbuatannya, tetapi itu jadi seperti saya mengikuti temin saya tadi: hanya jalan luarnya yang saya ikuti dan saya tetap tak mengenal siapa dia. Maka, juga kalau saya tahu di mana rumahnya, belum tentu saya mengenal siapa temin ini. Tidak cukup dengan tahu di mana rumahnya, saya mesti tahu siapa dia dan pengetahuan itu hanya bisa diperoleh dengan menanggapi panggilan untuk datang dan melihat sendiri.
“Melihat” dalam teks hari ini sangat khas. Ini jenis “melihat” yang menghindarkan orang terjebak janji palsu kampanye buaya darat. Ini adalah perkara mengenali prinsip dasar kenyataan hidup manusia; di mana kebahagiaan mesti diletakkan: bukan siapa yang kuat dia yang menang, melainkan prinsip kokoh kebenaran yang semestinya diperjuangkan. Begitu kiranya sosok Simon disebut Petrus.
Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami semakin mampu mengenali prinsip hidup yang membebaskan kami dari hukum rimba. Amin.
HARI MINGGU BIASA II B/2
14 Januari 2024
1Sam 3,3b-10.19
1Kor 6,13c-15a.17-20
Yoh 1,35-42
Posting 2021: What Are You Looking For?
Posting 2018: Cari Apaan Sih Lu?
Posting 2015: Dominus, wo bist Du?
