Golput

Published by

on

Kita tahu ungkapan “nila setitik rusak susu sebelanga” dan ungkapan itu cocok untuk menggambarkan peristiwa yang dituturkan dalam teks bacaan hari ini. Dalam keyakinan Yahudi, kenajisan itu menajiskan yang tak najis ketika terjadi kontak; bukan sebaliknya. Maka dari itu, orang sakit kusta (yang adalah najis) mesti berpakaian compang-camping dan membiarkan rambutnya terurai tak tertata dan sembari menutupi mukanya, dia mesti berteriak-teriak “Najis” supaya orang lain bisa menghindar. Ia sendiri harus tinggal di luar pemukiman manusia.

Kenapa? Ya karena “nila setitik rusak susu sebelanga” tadi. Sesebentar apa pun Anda menyentuhnya, sekecil apa pun luas persentuhan itu, Anda ikut jadi najong. Seberapa suci hidup Anda pun, sentuhan Anda tak akan menyucikan orang yang sakit kusta yang dinajiskan tadi. Kenapa ada keyakinan seperti itu? Ya karena orang menganggap bahwa Allah itu membenci kenajisan dan dengan demikian menyingkirkan mereka yang najis, berdosa, kafir, dan semacamnya.

Pelajaran agama populer seperti itu kiranya bikin gemas-gemas gimana karena spekulasinya mendiskriminasi manusia dan dengan begitu menunjukkan bahwa Allah itu diskriminatif: Dia hanya menerima orang suci, alim, baik, dan sejenisnya; Dia menyingkiri orang culas, pembunuh, pencuri, koruptor, dan seterusnya.

Memang ajaran populer itu bisa menjerumuskan jika penerimanya tak mau membuka mata dan sedikit berpikir mengenai keadilan. Bukan hanya ajaran populer, program populer seperti bantuan sosial dan subsidi pun bisa membius banyak orang yang matanya tertutup pada keadilan. Perkara ini belakangan dibahas di aneka media dan memang menjengkelkan.

Namanya orang miskin, tentu senang dapat bantuan dan subsidi, dan mestinya berterima kasih pada si pemberi dong. Tapi, apa mereka tahu dari mana asalnya pemberian itu? Kalau tidak, apakah mereka akan cari tahu dari mana si pemberi memperoleh dana untuk bansos atau subsidi itu? Tampaknya tidak. Yang penting dapat bantuan dan subsidi, entah asalnya dari pajak rakyat atau hutang negara trilyunan rupiah, mboh. Sayangnya, hidupnya ya begitu-begitu aja setelah dapat bansos; dalam benak mereka juga bisa jadi tertanam kemurahhatian yang semu: bagi-bagi sembako tak harap kembali selain dalam bentuk pujian, hormat, dan coblosan.

Surat Gembala di keuskupan saya menyisipkan pesan yang jelas: JANGAN GOLPUT! Lebih dari itu, jangan sampai martabat orang miskin diperjualbelikan untuk kontestasi Pemilu. Kisah hari ini juga kiranya tak jauh dari itu. Yesus jelas berpihak, membela orang-orang yang terdiskriminasi oleh paham Allah yang menyesatkan. Akibatnya? Yesus sendiri terdiskriminasi: tak bisa terang-terangan masuk kota; mesti tinggal di pinggiran, sebagai orang yang terpinggirkan.

Andai saja orang-orang yang berkontestasi untuk Pemilu itu punya paham Allah yang terbuka pada keberpihakan seperti ini….

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami dapat bermurah hati seperti Engkau murah hati. Amin.


HARI MINGGU BIASA VI B/2
11 Februari 2024

Im 13,1-2.44-46
1Kor 10,31-11,1
Mrk 1,40-45

Posting 2021: Isolasi Pandiri
Posting 2018: Masih Bisa Bernafas?

Posting 2015: Di Mana Political Will?

Previous Post
Next Post