Masih di seputaran Pilpres: ada tiga paslon, yang pada akhirnya satu mesti menang dan dua kalah. Saya belum tahu siapa yang satu itu karena saya sudah kerap menyaksikan sepak bola dengan gol-gol yang offside. Ini bukan perkara percaya atau tidak percaya quick count, melainkan perkara legitimasi demokrasi, yang sejatinya bukanlah soal angka belaka. Kalau cuma angka, itu demokrasi prosedural atau elektoral doang yang bisa dipakai sebagai alat propaganda dengan aneka rumusan: yang penting suara rakyat, vox populi vox dei, silakan rakyat yang menilai, tuanku rakyat, jangan pilih kalau gak suka, dan seterusnya. Masing-masing ‘rakyat’ di situ tidak jelas rakyat yang mana, dan nanti ujung-ujungnya jadi perkara banyak-banyakan jumlah rakyat yang disegmentasi dengan sebutan partisan.
Dalam hal ini, menurut saya, adalah lebih bijak menantikan seluruh prosesnya selesai. Dalam proses pertandingan sepak bola modern, sudah ada teknologi VAR (video assistant referee) yang dipakai untuk mengkaji apakah suatu gol terjadi dalam keadaan offside atau onside, apakah bola sudah melewati garis atau belum, apakah ada pelanggaran lain yang berpotensi penalti atau tidak, dan seterusnya. Memang, dengan teknologi ini, selebrasi gol bisa terganggu: yang bikin gol telanjur kegirangan disambut gempita sebagian atau seluruh stadion, sementara yang kebobolan teriak protes ada pelanggaran dan kecurangan. Wajar saja toh karena semua maunya menang dan di situ wasitlah yang memutuskan. Memang sih, ada wasit yang baik dan ada juga wasit yang kurang baik; tetapi itu sudah berbeda lagi ranahnya.
Saya lebih tertarik menanggapi komentar orang muda mengenai sikap Gereja (atau mungkin agama pada umumnya) yang semestinya netral dan tidak memihak paslon tertentu. Di situ ada dua pernyataan: agama mesti netral, dan netral berarti tidak memihak paslon tertentu. Jadi, agama tak perlu memberi clue saya mau pilih paslon mana.
Saya kira premis orang muda itu betul dan, menurut saya, Gereja (dalam arti hirarki) memang tidak memihak paslon tertentu. Siapa pun paslon yang menang, ya mesti diterima. Artinya, Gereja tidak bisa menyatakan sikap pragmatis untuk memilih paslon nomor urut ini atau itu. Ada pengalaman buruk jika Gereja berpihak secara pragmatis begitu: perang saudara. Paling banter, Gereja hanya bisa mengatakan begini kepada umatnya: pelanggar HAM tidaklah pantas disebut kristiani. Ini normatif, kan? Memang begitulah wewenang atau otoritas Gereja: memberi clue normatif saja [yang malah kerap dipraktikkan oleh politisi supaya terhindar dari kejaran pertanyaan wartawan]. Perkara umatnya mau pilih siapa ya sumangga kersa silakan saja.
Jadi, kesimpulan “agama tak perlu memberi clue” tadi tidak lurus dan justru itulah fungsi kenabian agama, memberikan rambu-rambu sebagaimana disodorkan dalam bacaan hari ini: Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah pada Injil. Ini pasti bukan perkara bahwa Kerajaan Allah itu sudah sampai rumah sebelah dan sebentar lagi sampai depan pintu!
Saya jadi ingat bagaimana Nabi Muhammad membaca situasi zamannya dan wahyu Allah yang diterimanya bikin yakin bahwa beliau mesti ambil tindakan tertentu untuk membela kaum tertindas. Beliau melihat ada masalah dengan paham Allah dalam masyarakatnya. Mayoritas menyembah berhala atau aneka Tuhan seturut kebutuhan mereka sendiri, sebagian juga ada orang Yahudi, sebagian lagi ada orang Kristiani yang ngawur meyakini Tuhan itu tiga: Yesus, Roh Kudus, dan Maria (begitu seingat saya dari kisah hidup Nabi menurut Ibn Ishaq, CMIIW). Nabi Muhammad getol memproklamasikan keesaan Tuhan dan minta pendengarnya untuk percaya hal itu karena beliaulah utusan Allah. Siapa pun yang mau berjuang bersamanya, mesti menyatakan keyakinan tauhid itu.
Kira-kira begitulah juga maksud pewartaan Yesus meskipun rumusan dan konteksnya berbeda. Status quo masyarakat Yesus adalah orang-orang yang ber-Tuhan, beragama Yahudi, sedangkan status quo masyarakat Nabi Muhammad adalah kaum Quraishy yang hanya punya aneka berhala, tanpa keyakinan monoteis seperti Yahudi.
Kerajaan Allah sudah dekat karena Kerajaan Allah itu memang di sini dan sekarang, bukan nanti entah kapan dan entah di mana, Itu berarti Kerajaan Allah adalah perkara mengatakan ya terhadap Allah yang meraja itu. Akan tetapi, untuk sampai pada pilihan itu, orang mesti bertobat dan pertobatan itu bisa jadi soal menjungkirbalikkan sudut pandang.
Sayangnya, tragedi kita diungkap Anthony de Mello: Orang dungu itu dikasih tau di mana bulan dan dia cuma melihat jari telunjuk.
Itulah susahnya agama, bahkan meskipun cluenya jelas, bisa jadi yang diperhatikan orang hanya rumusan dogmanya atau kata-kata atau teksnya, tetapi gagal melihat konteksnya. Itu seperti misalnya demonstrasi, yang dilihat hanya keramaiannya, tetapi suaranya tak terdengar atau tak didengarkan. Dulu, di Jawa ini rakyat jelantah berdemonstrasi dengan berjemur di lapangan, dan pemimpinnya akan melihat apa yang mereka suarakan. Sekarang ini sudah ada 800-an kali aksi Kamisan di depan istana, tetapi mungkin yang ditangkap orang hanya soal ibu-ibu yang tak terima kehilangan anaknya atau mungkin ibu-ibu yang tak bisa mengampuni.
Di situ, orang tak menemukan prinsip tauhid, tak mengerti makna Kerajaan Allah karena yang dilihatnya cuma perkara suara berisik dan macet, dan tak melihat jeritan akan keadilan. Padahal, Kerajaan Allah itu ‘cuma’ istilah Kitab Suci untuk keadilan sosial. Suara-suara seperti itu ada banyak, dan itu sesungguhnya adalah clue juga sebagaimana Gereja berseru.
Paralel dengan itu, bertobat juga berarti melihat demokrasi jauh lebih mendasar daripada perkara pemenang pemilu, quick count dan seterusnya. Kembali ke depan, sebaiknya dalam proses penghitungan suara ini, orang tidak berfokus pada angka, melainkan pada prinsip kejujuran dan keadilan, karena dari situlah legitimasi demokrasi berasal. Tanpa prinsip-prinsip seperti itu, tak ada legitimasi untuk vox populi vox dei.
Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk bertobat, menjungkirbalikkan cara pandang hidup kami supaya semakin sesuai dengan Kerajaan-Mu,Amin.
HARI MINGGU PRAPASKA I B/2
18 Februari 2024
Kej 9,8-15
1Ptr 3,18-22
Mrk 1,12-15
Posting 2021: Tiga Karakter
Posting 2018: Cobaan Hidup
Posting 2015: Fokus pada Dosa? No Way
