Cobaan Hidup

Apa yang dikatakan Raja atau Ratu ketika anaknya tertangkap menggunakan narkoba? “Ini adalah cobaan hidup saya.” [Maksud loe? Loe orang hebat yang pantas dicobai, gitu?] Andaikan saya penasihat Raja atau Ratu seperti ini, saya menyarankan,”Sudahlah, akui saja bahwa loe gagal mendidik anak, bahwa loe terperosok dalam godaan untuk hidup dangkal, mementingkan label, dan sejenisnya.”

Setahu saya, juga dalam salah satu ayat Kitab Suci dikatakan bahwa Tuhan akan menguji orang dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Di mana cobaannya? Ya pada momen ketika orang mesti menimbang-nimbang pilihan antara kebaikan dan keburukan dong! Cobaan hidup itu adanya pada saat orang mesti memilih antara yang baik dan buruk, antara yang baik dan lebih baik lagi (itulah discernment of spirit). Lucu kan kalau orang ngemplang duit rakyat njuk kena OTT KPK njuk berkoar-koar berbahasa religius ‘ini cobaan hidup saya’. Mbok uwis cah bilang aja kita gagal menghadapi cobaan hidup dan mengajak berefleksi bagaimana semestinya menghadapi cobaan hidup. Itu malah lebih berbuah (daripada pethakilan gak karuan).

Teks bacaan hari ini mengisahkan guru yang mengalami cobaan hidup sesungguhnya. Tak usah lihat angka 40 hari di gurun sebagai batasan waktu. Untuk orang Israel itu adalah angka ‘keramat’ yang mengingatkan mereka pada masa 40 tahun di padang gurun sekeluar mereka dari penindasan di Mesir. Si guru berhasil mengatasi cobaan hidupnya dan buah dari masa pencobaan itu ialah undangan untuk bertobat dan percaya kepada kabar gembira. Pertobatan dalam arti mutakhir sudah diulas pada tautan ini

Tentang percaya kepada kabar gembira, itu yang jadi seluruh proyek blog ini (meskipun soal pertobatan juga sama aja sih): orang bisa tertipu pada warta gembira semu. Kasus narkoba dan korupsi tampaknya terhubung dengan soal duit. Tapi apa sih cobaan hidup yang tak terhubung dengan duit? Hoax pun ujung-ujungnya juga duit. Tentu, itu dari sisi pelaku, yang dikejarnya duit, tetapi bukankah duit itu cuma sarana untuk sesuatu yang lainnya: tahta, harta, wanita. Weh, Romo ini menistakan wanita ya! Haduh, maaf. Itu karena saya melihat dari perspektif laki-laki. Kalau dari perspektif perempuan mungkin wanita bisa diganti pria, dan dari perspektif LGBT wanita diganti TBGL atau gimanalah… pokoknya soal yang entu deh!

Kalau dari sisi korban narkoba dan penerima suap gimana ya? Sepertinya ya sama saja, berujung pada tahta, harta, wanita/pria/TBGL tadi. Tapi coba lihat misalnya pornografi atau media yang hobi mengulas berita mengenai maraknya produksi boneka seks. Jangan-jangan di situlah cobaan hidup sebenarnya: orang terkuras perhatian dan duitnya karena tertipu kabar gembira semu, kabar yang membiaskan cinta sesungguhnya. 

Saya kira, itulah cobaan hidup yang sebenarnya: kontak dengan cinta sejati, kontak dengan Junjungan Hati dan diri sendiri, yang memungkinkan orang merealisasikan kemanusiaannya. Selip sedikit, orang merasa gembira, tetapi kemanusiaannya berubah jadi kebinatangan. Maka, tak heran kalau orang-orang seperti ini suka janji manies dan untuk itu menghalalkan segala cara dan banjir (persoalan) di mana-mana dan setelah itu cuma bertutur,”Inilah cobaan hidup saya.” Tanggapannya bisa dirangkum dalam kata “Pret”.

Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati dan budi untuk memilah-milah roh yang memengaruhi hidup kami. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA I B/2
18 Februari 2018

Kej 9,8-15
1Ptr 3,18-22
Mrk 1,12-15

Posting Tahun 2015: Fokus pada Dosa? No Way

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s