Naif

Published by

on

Mungkin tanpa disadari, Anda bisa jadi pribadi yang naif. Syukur kalau Anda menyadarinya karena jika demikian, kenaifan Anda itu ada manfaatnya. Kok bisa, bukankah naif itu tak ada gunanya? Oh, yang tak ada gunanya itu bukan naif, melainkan susah. Coba cek lagu “Sayonara”!

Tapi, apa gunanya naif?
Untuk mengantar Anda pada kenaifan yang lain!
Loh, kok isa?
Ya isa, dengan syarat tadi: Anda menyadari diri naif. Kalau tidak, ya memang naif tak ada gunanya. Kritik pun tiada guna bagi orang naif yang tak sadar kenaifannya. Bagi orang seperti ini, kritik adalah petunyuk kuat kebencian. Kalau Anda naif dan tak sadar akan kenaifan Anda, kritik orang lain Anda terima sebagai bentuk ketidaksenangannya kepada Anda. Baru setelah Anda sadar-diri naif, Anda akan mengganti kenaifannya dengan kenaifan yang lain, yang oleh seorang filsuf Perancis disebut kenaifan kedua.

Sebagai contohnya, mari kita lihat pernyataan “Di luar Gereja tak ada keselamatan” yang bikin runyam bagi orang-orang yang naif. Mengenai tetek bengek soal Extra Ecclesiam Nulla Salus ini Anda bisa cari info di aneka tempat; tetapi yang menghubungkannya dengan kenaifan mnngkin hanya di sini #halahkampanye.
Dalam pernyataan itu, dihubungkan Gereja dan keselamatan, dan artinya bergantung pada pengertian Gereja dan keselamatan. Pernyataan itu sendiri gak jatuh dari langit, tetapi muncul karena keadaan sejarah tertentu. Akan tetapi, tak usahlah kita ribet meninjau sejarahnya di sini.

Yang pasti, kita belum berwujud manusia ketika pernyataan itu dulu dimunculkan dan ketika itu, paham orang mengenai Gereja tidak juga sama dengan paham kita tentang Gereja. Tidak perlu pakai kerangka waktu, bahkan, paham Anda dan saya mengenai Gereja pun bisa berbeda, dan itu berkontribusi pada kenaifan Anda dan saya. Bisa jadi, Anda, tanpa sadar, memahami Gereja sebagai bangunan fisik di lokasi tertentu yang terlacak oleh Google Map. Dengan pemahaman itu, supaya selamat, Anda mesti berlama-lama di dalamnya sampai kiamat. Naif gak sih?
Ya bergantung pengertian selamatnya gimana juga, kan?

Selanjutnya, bisa juga Anda, tanpa sadar, memahami Gereja sebagai gerombolan manusia yang punya ritual tertentu. Dengan begitu, kalau mau selamat, orang mesti ikut ritual tertentu itu. Naif gak ini? Sama saja, bergantung pada apa yang dimaksud dengan keselamatan.

Selain itu, Anda juga bisa, tanpa sadar, memahami Gereja sebagai agama, entah Protestan atau Katolik, yang ada di KTP negeri ini. Akibatnya, jika di kolom agama tak tertera agama itu, pemegang KTP itu tak akan selamat. Allah macam mana itu yang bergantung pada KTP negeri ini?
Di situ, mungkin Anda tersadar akan kenaifan Anda. Njuk Gereja itu apa memangnya?

Sekarang saya mengertinya lewat prinsip tauhid dalam Islam: Gereja itu maksudnya ialah orang-orang beriman yang ingin menegakkan kesatuan manusia dengan Allah yang esa lewat pengenalan akan Kristus. Nah, itu kenaifan lain lagi, yang jika tak disadari kenaifannya juga tiada guna. Di mana naifnya? Misalnya, menyamakan pengenalan akan Kristus dengan kolom agama Kristen/Katolik di KTP; menyamakan pengenalan akan Kristus dengan hafal doa Bapa Kami; menyamakan pengenalan akan Kristus dengan napak tilas di tempat asalnya.
Begitu seterusnya.

Teks hari ini bicara mengenai transfigurasi yang juga bisa ditangkap secara naif sebagai peristiwa sungguhan seperti Allah menciptakan bumi dan segala isinya dalam tujuh hari. Wong namanya Allah, apa sih yang gak bisa, ye kan?
Nah, selama kita belum sadar bahwa keyakinan itu naif, informasi berdasarkan sains tak akan berguna; orang seperti ini menganggap tulisan Kitab Suci itu adalah reportase wartawan yang menceritakan kejadian apa adanya tanpa kepentingan lain.

Sekurang-kurangnya jika Anda curiga bahwa Anda naif dengan keyakinan itu, Anda mulai terbuka pada kenaifan kedua. Dalam hal ini, Anda bisa dengan lebih mudah mengerti peristiwa yang dinarasikan pada hari ini misalnya melalui posting Trans beberapa tahun lalu.

Ada lagi kenaifan yang mungkin umum dipelihara orang Kristen (Katolik): penderitaan adalah salib. Pada kenyataannya, tidak semua penderitaan adalah salib; bahkan barangkali lebih sering terjadi penderitaan itu disebabkan oleh kenaifan orang itu sendiri. Di situ, kenaifan dan penderitaan jadi susah, yang tak ada gunanya. Sama sekali bukan salib. Salib itu mengandaikan ada nilai yang diperjuangkan, layak diperjuangkan, dan berisiko penderitaan.

Harga beras menanjak jelas membuat rakyat kebanyakan menderita, tetapi itu bukan akibat salib, melainkan akibat kenaifan yang tak perlu saya jabarkan di sini.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami tidak jatuh dalam kenaifan yang mencederai kemanusiaan. Amin.



MINGGU PRAPASKA II B/2
25 Februari 2024

Kej 22,1-2.9a.10-13.15-18
Rm 8,31b-34
Mrk 9,2-10

Posting 2021: Trans
Posting 2018: Jalan-jalan Berhadiah

Posting 2015: Abraham Samad-omba

Previous Post
Next Post