Trans

Mungkin Anda pernah lihat salah satu grafiti terkenal yang ditemukan di kompleks bukit Palatino, Roma:


Di situ tertulis “Alexamenos menyembah Tuhannya”. Sangat mungkin Alexamenos itu adalah orang Kristen yang dicemooh teman-temannya atas keyakinannya pada yang tersalib. Di situ dilukiskan bahwa yang disalib adalah orang berkepala keledai, alias dungu; bodoh pula yang menghormatinya sebagai Mesias. Begitulah salib menjadi olok-olokan dan kebodohan bagi orang-orang yang bermental prakemanusiaan (paradigma dominasi kekuasaan akal dan okol).

Anda ingat Paulus berkeliling wilayah pesisir Laut Tengah, berkoar-koar mengenai sudah datangnya Mesias. Ini mengundang antusiasme orang di sinagoga-sinagoga. Akan tetapi, sewaktu dia mengatakan keterangan bahwa Mesias ini mati dibunuh, disalib, haiya njuk siapa yang mau percaya?😅 Lha wong penyelamat kok malah mati, disalib pula! Tak mengherankan, Paulus pun diusir dari sinagoga dan tempat-tempat dia berkhotbah.

Tulisan teks bacaan ketiga hari ini kiranya berkonteks perundungan seperti itu. Penulis Markus menuliskan kisah transfigurasi untuk meyakinkan jemaat pembacanya bahwa penderitaan yang mereka alami sebagai salib bukanlah kekonyolan. Maklum, memang mereka sedang mengalami persekusi dari penjajah Romawi. Barangkali, mereka juga galau dengan apa yang mereka yakini tentang salib dan kebangkitan. Kalimat terakhir ditulis begini: Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati”.

Sulitlah memahami kebangkitan pada saat orang sedang bergumul dengan kesulitan konkret dalam pusaran mentalitas prakemanusiaan. Mau ngerti gimana wong kebutuhan mendesaknya adalah survival?
Kalau ada dua orang yang begitu kelaparan, yang satu berteriak-teriak mengeluh kelaparan, yang lainnya bermulut senyap tetapi bergerak ke sana sini untuk mencari apa yang bisa dimakan, Anda mengerti yang kedua ini memakai energinya yang tersisa untuk sesuatu yang lebih berguna bagi survivalnya, bukan? Entah mana yang mengalami ‘trans’, tetapi bukankah yang kedua ini mencerminkan dimensi kebangkitan?

Kisah transfigurasi [yang bukan kisah historis] dituturkan untuk memaknai salib dan kebangkitan. Orang mesti meninggalkan dataran hiruk pikuk prakemanusiaan, naik ke bukit untuk bergaul intim dengan Allah, lalu mesti kembali lagi ke dataran untuk menerangi mentalitas prakemanusiaan dengan buah relasi autentik dengan Allah tadi. Bukankah ini lebih berbuah bagi kehidupan daripada mempersoalkan salib dan kebangkitan semata dengan cara berpikir material? Dengan cara berpikir itu, orang tak bisa menangkap bagaimana salib, penderitaan, kematian dan kebangkitan bisa jadi ekspresi cinta dan kebijaksanaan Allah sendiri.

Tuhan, mohon rahmat pengertian mendalam betapa cintanya Engkau kepada kami yang receh ini. Amin.



MINGGU PRAPASKA II B/1
28 Februari 2021

Kej 22,1-2.9a.10-13.15-18
Rm 8,31b-34
Mrk 9,2-10

Posting 2018: Jalan-jalan Berhadiah
Posting 2015: Abraham Samad-omba