Badut

Published by

on

Salah satu adegan menarik dari kisah sengsara yang dibacakan pada hari ini adalah ketika kepala pasukan Romawi, komandan eksekusi penyaliban, menatap sosok di hadapannya yang tergantung di salib dan berkata,”Sungguh, dia ini bukan badut.” 

Dut badut badut badut badut badut badut zaman sekarang
Mon omon omon omon omon omon omon omon sembarang
Di televisi, di koran-koran, di dalam radio, di atas mimbar
Gut manggut manggut manggut manggut manggut manggut seperti badut
Ya iya iya iya iya iya iya lha iya iya

Peragawati peragawan senyam senyum seperti badut
Penyanyi dan pemusik bintang film nampang seperti badut
Di televisi, di koran-koran, di dalam radio, di atas mimbar
Ku aku aku aku aku aku aku seperti kamu
Mu kamu kamu kamu kamu kamu kamu seperti badut

Dut badut badut badut badut badut badut zaman sekarang
Mon omon omon omon omon omon omon omon sembarang
Di televisi, di koran-koran, di dalam radio, di atas mimbaraya
Para pengaku intelek tingkah polahnya lebihi badut
Kaum pencuri tikus politikus palsu saingi badut

Bagaimana kepala pasukan itu jadi yakin bahwa sosok di hadapannya yang disalibkan itu bukan badut?
Begini keterangannya: “Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan dia melihat matinya demikian, berkatalah ia bahwa orang itu sungguh bukan badut.”
Di situ, poin pentingnya ialah “matinya demikian” dan “demikian” itu merangkum proses menuju kematiannya, yang oleh sebagian besar orang dianggap sebagai kekalahan.
Saya lalu jadi teringat kawan saya ketika mendapat giliran memberikan orasi di hadapan mahasiswa pasca penembakan mahasiswa Universitas Trisakti 1998. Saya tidak ingat kalimatnya, tetapi kurang lebih yang ditekankannya untuk mengenang para mahasiswa yang gugur itu bukan kematiannya sendiri, melainkan cara kematiannya.

Yes, semua orang mati, tetapi bagaimana ia mati, itu yang membedakannya dari badut. Badut mati dalam topengnya, dan karena kita semua badut seturut yang disinyalir Iwan Fals itu, kita ada dalam bahaya mati dalam topeng karena topeng itulah yang membuat kita tampak bahagia, mendapatkan kemenangan, kekuasaan, popularitas, dan seterusnya. Sekarang badut-badut berseliweran menjajakan wajah lucu dan sumringahnya di status medsos.

Adegan lain dalam kisah Markus diam-diam menunjukkan ironi itu: ada seorang muda yang hanya mengenakan kain lenan dan ketika serdadu hendak menangkapnya, ia melepaskan kainnya dan luput dari tangkapan para serdadu. Orang muda berbaut kain lenan ini kelak dikisahkan kembali di makam, tetapi beda orang. Poinnya sama: orang luput menangkap, mengerti, memahami, melihat. Yang dilihat kain lenannya, kematiannya, dan seterusnya.

Sesama badut, mungkin memang jeli melihat kebadutan sesama tanpa menyadari diri sebagai badut dan yang membebaskan orang dari kebadutannya hanya satu: mendonasikan hidupnya untuk kemaslahatan. Indikator donasi itu ialah keadilan, dan keadilan itu tak mungkin tanpa keberpihakan pada korban, dan korban itu tak lain adalah badut juga. Membebaskan korban dari kebadutannya itu sangat berisiko.

Ya, kalau orang jahat dan orang baik berjalan di tengah hujan, orang baik yang membawa payung itulah yang kehujanan karena orang jahat merampas payungnya. Perampas payung inilah badut sesungguhnya, yang hanya bisa pikir pokoknya aku menang dan aku senang. Persetan dengan keadilan dan etika.

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk melepaskan kebadutan dan menampilkan kepatutan orang yang hanya beriman kepada-Mu. Amin. 


HARI MINGGU PALMA B/2
Mengenangkan Sengsara Tuhan
24 Maret 2024

Yes 50,4-7
Mzm 22,8-9.17-18a.19-20.23-24
Flp 2,6-11
Mrk 14,1-15,47

Posting 2021: Berani Hidup
Posting 2018: Raja Telanjang
Posting 2015: No Faith out of Fear

Previous Post
Next Post