Raja Telanjang

Pada posting terdahulu dengan teks bacaan hari ini saya mengawali refleksi dengan penegasan bahwa cinta mengenyahkan ketakutan, seakan-akan tak ada ketakutan dalam cinta. Akan tetapi, sebetulnya teks dari Markus ini lebih polos dalam menggambarkan keadaan guru dari Nazareth daripada tulisan-tulisan lainnya. Dalam teks Markus ini disebutkan kata ‘takut’ dan ‘gentar’. Nah lo, si guru saja, yang katanya teladan cinta, mengenal takut dan gentar, mosok njuk pengikutnya diberi momok bahwa cinta tak mengenal ketakutan?

Problemnya, bahasa itu senantiasa memiliki keterbatasan, apalagi kalau sudah melibatkan terjemahan. Saya sendiri tak tahu bagaimana menerjemahkan kata yang memuat nuansa ἐκθαμβεῖσθαι – ἀδημονεῖν (ekthambesthai – adēmonein), to be greatly awestruck – deeply distressed, presso da terrore e da spavento, pavere et tadere, dan seterusnya, silakan ditambahi dengan terjemahan bahasa lain. Betul di situ memang ada nuansa takut, tetapi bukan takut dalam arti orang tak mau maju, menyerah, mutung, ngambek, regresi, dan sejenisnya. Ini takut lebih dalam arti berhadapan dengan sesuatu yang memang menggentarkan, dahsyat, sulit, misterius, mematikan, dan sejenisnya.

Bisa dimaklumilah. Bisa dimengerti ketakutan seperti itu. Juga bisa dirasakan bagaimana guru yang menghadapi kematian mengerikan itu sungguh merasakan derita. Ini melegakan karena guru dari Nazareth itu pun bukan manusia super. Ia manusia biasa yang mengalami pula penderitaan seperti dirasakan manusia lainnya. Ya, mestinya lebih berat rasanya karena dia bukan tipe orang Sparta ala film 300 yang hobi menyabung nyawa.

Meskipun demikian, warta ketakutan manusiawi bukan pokok refleksi dari teks Markus ini tentu saja. Beberapa hal bisa dicatat di sini. Pertama, si guru dari Nazareth ini mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi situasi seperti itu tadi: dengan berdoa. Mari lihat doanya. Dia menyebut ‘Abba’. Entah Anda ingat atau tidak, suku kata pertama yang berhasil Anda ucapkan saat belajar bicara dulu: ba, pa, ma… Dalam lingkungan Yahudi tampaknya ‘ba’ itu yang biasanya jadi pelafalan pertama. Tidak penting suku katanya, tetapi di situ si anak mungil menjalin relasi dengan menyapa sosok pribadi yang kepadanya ia menaruh kepercayaan, bahwa pribadi itu akan menjaganya, menjaminnya, membuatnya aman, mencintainya, dan seterusnya.
Masih adakah orang yang berdoa dengan sikap dasar seperti itu di zaman now? Atau sikap dasarnya penuh tuntutan, arogansi, bossy, intimidasi? Apa faedahnya berdoa dengan sikap dasar seperti itu?

Kedua, si guru ini diam tanpa kata, tak bereaksi saat dicium Yudas dan tak melawan saat ditangkap orang bersenjata. Ada banyak momen dalam hidup yang tak ada tanggapan yang lebih baik daripada menerima peristiwa itu sendiri. Menolak eksistensinya justru menambah ricuh dan perjuangan tak mendapatkan ganjarannya.
Memang, menerima kenyataan bisa jadi langkah pertama yang jauh lebih baik daripada mengeluh, memberontak, dan sejenisnya. Menerima kenyataan (diri) justru membantu orang untuk melangkah secara lebih jernih.

Selain itu, ada peristiwa menarik dalam tulisan Markus yang tidak dikisahkan dalam tulisan lain. Ada seorang muda, yang pada waktu itu hanya memakai sehelai kain lenan untuk menutup badannya, mengikuti dia. Mereka hendak menangkapnya, tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang. Kata νεανίσκος (neaniskos, orang muda) cuma muncul di sini dan di kisah makam (Mrk 16,5). Di sini orang mudanya memakai kain lenan. Pada kisah di makam orangnya berjubah putih. Yang dibilang orang muda itu,”Dia (si guru dari Nazareth itu) tidak ada di sini.” Ini paralel dengan peristiwa orang muda itu ditangkap: ia melepaskan kain lenan dan lari telanjang. Artinya, yang ditangkap pasukan Yudas itu bukan orang mudanya, melainkan kain lenannya.

Itu menjelaskan apa yang sedang terjadi pada si guru. Ia membiarkan dirinya ditangkap karena akhirnya yang ditangkap dan diserahkan Yudas hanyalah badannya, yang mau gak mau makin uzur juga. Pribadinya senantiasa seperti orang muda tadi, ucul, luput dari kungkungan, cengkeraman kuasa duniawi. Begitu kiranya orang beriman di penghujung hidupnya di dunia sini: masuk ke dalam ‘kemudaan abadi’ setelah menanggalkan aneka ‘kain lenan’. Hanya mereka yang ikhlas melepaskan ‘kain lenan’ itulah yang luput dari destruksi dunia ini.

Aplikasinya? Kalau mau konsekuen, orang beriman gak perlu takut bahwa patung dirusak, bangunan dihancurkan, tempat ibadah dibakar, dan semacam itu, karena perusakan itu cuma mengenai fisik. Bukan soal gak peduli, sebaliknya, peduli tetapi bukan karena takut kehilangan ‘kain lenan’ itu. Ini bukan jenis takut yang diperlukan atau diteladankan si guru dari Nazareth itu Contoh gereja Bedog bulan lalu: patungnya rusak, orang terluka, tetapi roh lebih kuasa menggerakkan orang-orang sekitar (tanpa pandang agama!) untuk membersihkan, menata kembali, dan seterusnya.

Masih ada catatan lain sih dari kisah menurut Markus ini, tapi ini sudah lebih dari 500 kata. Nanti kewowogen (sayanya). Pokoknya selamat menikmati pekan suci. Semoga Tuhan berkenan membuka hati dan budi supaya setiap orang semakin masuk dalam misteri-Nya. Amin. 


HARI MINGGU PALMA B/2
Mengenangkan Sengsara Tuhan
25 Maret 2018

Yes 50,4-7
Mzm 22,8-9.17-18a.19-20.23-24
Flp 2,6-11
Mrk 14,1-15,47

Posting Tahun 2015: No Faith out of Fear

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s