Ramalan Sukacita

Janjané perayaan liturgi Gereja Katolik Indonesia ini gak begitu asik: besok sudah pekan suci, misteri sengsara Kristus, dan hari ini, demi sembilan bulan menjelang Natal, dirayakan kabar sukacita. Tapi sudahlah, gak penting, ikuti saja tawaran bacaan kabar sukacita. Isinya pasti Anda tidak hafal, ya kan? Saya juga tidak sih, tapi pokoknya Maria menerima kabar heboh bahwa dia yang masih perawan itu akan mengandung anak yang kelak jadi orang besar.

Di mana sukacitanya? Perawan hamil? Heboh iya, tapi apakah sukacita, bergantung. Melahirkan anak yang kelak jadi orang besar? Halah. Saya pernah ceritakan belum ya sewaktu masih kelas empat SD di Tar-Q (tahun ini pesta ke-60 euy) saya dicegat seorang om om [loh seorang kok om om]?
Jadi [belum-belum kok sudah jadi], saya ke terminal Blok M dan setelah turun dari bus, saya berjalan kaki ke Melawai 197, Gereja Blok B, begitu saya menyebutnya. Nah, saat berjalan kaki di tengah kerumunan orang itu tiba-tiba tangan saya ditarik seorang laki-laki yang duduk dengan pantatnya di atas boks kayu yang biasa dipakai untuk packing barang itu loh.

Herannya kok ya saya tidak berontak. Jangan-jangan saya jatuh cinta eaaaa. Yang mengejutkan saya ialah om om itu [loh piye sih ngeyel, satu orang kok om om!] langsung bertanya,”Kamu dari paroki mana, Dik?” [Wow… berasa muda saya… masih empat SD gituloh]
Saya menatap om om itu [iya nih bener kayaknya saya jatuh cinta] terheran-heran. Kok bisa-bisanya dia langsung tanya saya dari paroki mana. Itu berarti dia tahu saya Katolik, padahal saya tak memakai kalung rosario dan selama turun dari bus itu saya tidak setiap kali membuat tanda salib! Keren bener ini om om!
Saya bilang saya dari Blok Q. Lalu dia balik telapak tangan saya, melihat rajah tangan saya, dan tersenyum [weh, jangan-jangan dia juga jatuh cinta],”Kamu nanti jadi orang besar.” Setelah itu saya lupa dia omong apa [terlanjur besar kepala] dan saya lepaskan genggaman tangannya [romantis banget sih, Rom!] lalu ngibrit buru-buru ke gereja Blok B.

Dua puluh lima tahun kemudian, ramalan itu terjadi di Roma. Saya jadi orang besar, sampai saya tak mengenali foto saya sendiri ketika bersama teman-teman pergi ke tempat dengan tumpukan salju dua meter lebih. Sepulang ke rumah saya menuju timbangan badan di tempat laundry dan bobot saya 87 kg. Astaga, orang besar!!!

Sukacita warta tidak terletak pada jenis bayi yang dikandung, ramalan kejayaan di masa depan, atau bagaimana bayi itu dikandung, melainkan pada kenyataan bahwa Allah yang transenden berkenan hadir dalam hidup manusia. Sukacita ini hanya ditangkap orang yang bersikap seperti Maria: fiat voluntas Tua (terjadilah kehendak-Mu). Sebaliknya, dukacita menghantui orang yang hanya terobsesi pada fiat voluntas mea (terjadilah kehendakku). Kok isa? Obsesi fiat voluntas mea sangat rentan pada cari gampang dan enaknya. Korupsi gak mau nanggung akibatnya, malas belajar maunya lulus cum laude, nilai jelek maunya kerja layaknya boss, dan sebagainya.

Tuhan, mampukanlah kami untuk menghidupi fiat voluntas Tua. Amin.


HARI RAYA KABAR SUKACITA
(Hari Sabtu Prapaska V)
24 Maret 2018

Yes 7,10-14; 8,10
Ibr 10,4-10
Luk 1,26-38

Posting Tahun 2017: Pakai Saja Èsêmku
Posting Tahun 2016: Jerat Oportunis
Posting Tahun 2015: Hati Selektif
 
Posting Tahun 2014: The Joy of Life-Giving Choice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s