YamMie

Published by

on

Sebagian dari Anda yang gemar mi instan terpopuler di dunia di bawah asuhan Salim Group mungkin mengira bahwa uang yang Anda pakai untuk membeli produk mi itu mengalir ke Salim Group dan berarti Anda memperkaya orang-orang yang sudah kaya raya. Ada betulnya, tetapi di bumi pertiwi sebesar ini, dengan kultur Capitalocene, bisa jadi yang Anda perkaya bukan hanya Salim Group, melainkan aneka macam pejabat negara yang berusaha selinthutan untuk mendapat cuan tanpa risiko ditahan.

Ini lamunan yang datanya saya peroleh dari pengusaha. Untuk bisa bikin mi instan berskala besar, Anda mesti bisa impor bahan bakunya. Cobalah Anda cari cara gimana supaya Anda bisa impor terigu dalam jumlah ribuan ton; pasti Anda butuh izin dong. Emang bisa gitu keluar surat izin tanpa bayar? Emangnya cukup bayarnya seperti nembak SIM?
Kalau sudah dapat izin impor berskala besar, pastinya dibutuhkan moda transportasi tertentu untuk mengangkut terigu sebanyak itu, bukan? Siapa yang bisa jamin barang sebanyak itu mendarat di pelabuhan dan sampai di pabrik tanpa risiko dibegal? Ada gitu jaminan keamanan gratis untuk bisnis sebesar ini? Dengan kata lain, mungkinkah oknum di lembaga-lembaga terkait adem ayem saja membantu bisnis besar tanpa ngitik-itik sedikit biar cuannya mengalir?
Itu belum perkara administratif perizinannya ya, izin lokasi, undang-undang tentang industri, dan sebagainya, yang semuanya dibikin oleh dewan perwakilan ra*ya*, mulai dari daerah sampai pusat. Aturan itu bisa menentukan hidup mati bisnis Anda, dan karenanya Anda perlu baik-baik juga dengan anggota dewan terhormat atau menterinya atau bahkan mungkin kalau bisa dengan presidennya. Yummy sekali, kan? Semakin dekat dengan kekuasaan, semakin terjaminlah hidup Anda. YamMie dah pokoknya.

Mohon diingat: power tends to corrupt, yang artinya, kuasa di sana-sini cenderung pro status quo. Maka, janganlah terlalu naif dengan frase semacam ‘demi rakyat’ atau mungkin juga ‘demi Tuhan’ yang bisa dipakai untuk apa saja. Trus, ‘baik-baik saja’ itu tadi tak lain dan tak bukan adalah perkara kontribusi finansial; untuk oknum-oknum dalam lembaga terkait tadi, tidak ada hormat tanpa cuan; jadi, gak mungkin amat mereka hanya butuh Anda tertunduk-tunduk sopan di hadapan Anda; meskipun tak keluar kata-kata minta dan tanpa ilmu gendam, Anda bisa saja bak tergendam mengalirkan dana sedemikian rupa sehingga tak terendus PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan).

Singkatnya, tidak semua pejabat menjabat seturut amanah demi kemashalatan. Ujung-ujungnya nanti ialah orang-orang ini, dan mungkin Anda ketularan: kalau gak ikut main di situ, bisa-bisa kita dipermainkan!
Nah, kalau sudah sampai pada taraf itu, gambarannya mirip dengan apa yang dikisahkan teks Injil hari ini: para murid itu terkejut karena mengira telah melihat hantu!

Yesus yang bangkit itu seperti too good to be true, persis karena orang hanya bisa melihat apa yang semua orang lihat atau lakukan. “Ya orang lain juga gitu kok” dan seakan-akan itu jadi alasan yang sah untuk melakukan apa yang sesungguhnya sama sekali tak harus dilakukan. Sesederhana itulah kebangkitan. Tentu, persoalannya tidak sederhana: Anda tidak sendirian, mesti bersama-sama menyodorkan alternatif mulai dari yang paling sederhana yang bisa dilakukan tanpa secuil pun demi ikut tren atau pansos atau flexing atau lain-lainnya. Bisa jadi, orang mengalami kebangkitan ketika ia mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan dan tidak mengorbankan kebutuhan demi keinginannya yang tiada batas periode.

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk memutus mata rantai keculasan dalam diri kami. Amin.


MINGGU PASKA III B/2
14 April 2024

Kis 3,13-15.17-19
1Yoh 2,1-5a
Luk 24,35-48

Posting 2021: Tuhan Besertamu
Posting 2018: Perjalanan Fiktif

Posting 2015: Kristus Butuh Toilet Jugakah?

Previous Post
Next Post