Kuasa Gelap

Published by

on

Seminggu kemarin tetangga kamar saya gencar membahas soal setan-setanan dan film horor. Memang bacaan selama minggu kemarin itu ada saja hubungannya dengan aneka manifestasi setan, dan tetangga saya tidak keliru menggarisbawahi bahwa setan yang paling mengerikan ialah justru yang tak kelihatan alias tidak kasatmata. Maklum, yang kasatmata itu paling-paling adanya di film horor, yang tidak kasatmata ada di mana-mana, bahkan di tempat yang mungkin dianggap sebagai tempat yang seharusnya tak ada setannya!

Kurang dari seratus meter dari kamar saya, ada sebuah bangunan megah. Saya memang pernah dengar rencana pembangunannya, tetapi tak pernah saya tahu desain awal tempat ibadat itu, yang ternyata lebih tinggi dari hotel yang ada di jalan tempat saya tinggal. Kampung tempat saya tinggal ini diberi atribut kampung Pancasila; mungkin lantaran di situ ada aneka macam tempat ibadat dan pemuka aneka agama ada juga di situ.

Mirip seperti perkara setan-setanan tadi: mungkin justru di tempat yang dianggap ada Pancasilanya itu malah gak ada Pancasilanya! Mungkin justru pengguna narkoba adalah mereka yang aktif menggembar-gemborkan anti narkoba. Mungkin justru ketika orang secara masif mewartakan kesuksesannya, ia hanya sedang menutup-nutupi kegagalannya. Mungkin saja, bukan?

Mari kembali ke bangunan megah yang saya singgung tadi. Bisa jadi orang melihat kemegahan bangunannya bahkan dari kejauhan, tetapi siapa peduli bagaimana bangunan megah itu dibuat? Saya berandai-andai, tetapi pengandaian ini muncul karena pengalaman sebagai warga yang tetangganya mendirikan bangunan megah. Terlepas dari perkara perizinan), bisa jadi tetangga Anda mendirikan bangunan tanpa memperhatikan kepentingan sirkulasi udara atau tata cahaya rumah Anda. Ruangan yang semula punya celah untuk menerima sinar matahari bisa ditutup tanpa Anda diajak bicara terlebih dahulu. Genteng rumah atau halaman Anda bisa jadi penuh material tumpahan dari pembangunan sebelah. Begitu seterusnya, tak usahlah saya membahas apa yang disebut sebagai Proyek Strategis Nasional: kuasa akan menggilas mereka yang sudah tak berdaya.

Kuasa seperti itu akan menjadi gelap ketika pelakunya tidak menyadari kegelapannya dan malah menggembar-gemborkan ‘keterangan’-nya. Bisa Anda bayangkan, bukan, jika setelah tempat ibadat dipakai, jemaatnya akan begitu bangga meyakini kuasa Tuhan untuk menindas orang kecil dengan ayat-ayat kitab suci? Tentu, orang-orang pilihan Tuhan ini bisa berkilah: yang bikin masalah kan tukang bangunannya, sopir truknya, perangkat desanya, dan seterusnya. Mereka lupa bahwa itu semua adalah bagian dari proses pembangunan tempat ibadatnya. Tempat ibadat megah semakin ‘menjauhkan’ orang dari warga, dan itu berarti, semakin menjauhkan mereka juga dari Tuhan, bukan?

Bacaan hari ini menunjukkan bagaimana hal itu bisa terjadi justru dalam pembangunan sebuah rumah ibadat, misalnya. Seorang muda datang kepada Yesus dan tepatlah ia bertanya gimana cara memperoleh hidup kekal. Ia tidak bertanya tentang bagaimana menjadi orang sukses, yang tidak dijanjikan Allah, tetapi bagaimana mengalami hidup kekal. Seluruh aturan agama sudah dijalankannya tetapi itu tak mengantarnya pada hidup kekal. Apakah ada yang keliru dengan aturan agamanya?

Tampaknya Yesus tidak mengindikasikan hal itu. Aturan agamanya baik-baik saja, cuma kalau orang memang mau hidup kekal, ia mesti menjadi manusia seutuhnya yang tidak diperbudak oleh apa saja, termasuk uang atau kapital yang bisa bikin orang jadi megaloman. Betul saja, orang muda itu jadi sedih karena hartanya begitu banyak.
Menarik memang, hidup kekal bukanlah medali emas atau aneka penghargaan atas jasa atau usaha keras seseorang. Hidup kekal itu seperti warisan dan orang tinggal menjadi dirinya sendiri saja untuk memperoleh warisan itu [kalau memang itu jatahnya]. Celakanya, seperti kata orang muda suci yang meninggal pada usia belasan tahunnya, Carlo Acutis, banyak orang lahir sebagai manusia seasli-aslinya, tetapi mati sebagai fotokopi doang.

Begitulah kuasa gelap, yang membuat orang hanya jadi fotokopi atas apa yang dikiranya kekal. Kuasa gelap membuat orang mengalami dehumanisasi, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Dehumanisasi, hilangnya harkat manusia, ini terjadi karena orang terjerembab pada akumulasi atau kapitalisasi yang berorientasi pada kepentingan diri yang diperluas dengan kolusi cinta diri.

Tuhan, mohon rahmat jiwa besar dan rela berkorban untuk mengakumulasi cinta-Mu dalam setiap perjumpaan kami dengan mereka yang kerap luput dari perhatian kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXVIII B/2
13 Oktober 2024

Keb 7,7-11
Ibr 4,12-13
Mrk 10,17-30

Posting 2021: In God’s Hand
Posting 2018: Koruptor Hebat

Posting 2015: Artis Kesepian

Previous Post
Next Post