Koruptor Hebat

Sehari sebelum pidato Game of Thrones yang menggarisbawahi sikap kooperatif segala bangsa, ada orang yang membuat pernyataan mengenai politik sebagai zero-sum game: yang penting menang kalah, bukan baik buruk. Sungguh-sungguh bertolak belakang tetapi memang itulah cermin tahun politik ini: pertarungan antara yang baik dan buruk. Anda tahu sendiri dong mana yang baik dan mana yang buruk. Iya betul, yang baik adalah yang mengedepankan kepentingan lebih luas, sedangkan yang buruk adalah yang menghalalkan segala cara untuk kemenangannya sendiri.

Teks bacaan hari ini menuturkan sebutan ‘baik’ kepada Guru dari Nazareth, tetapi kebaikan itu, menurut Guru dari Nazareth, direservasi oleh Allah sendiri. Saya tak hendak ribet pada atribut baik buruk di situ, yang tampaknya lebih dekat ke nuansa ‘hormat’. Saya tadi browsing soal unta. Lebih gampang unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga gitu kata teks hari ini. Maksudnya sih jelas, yang mustahil bagi manusia bisa jadi tak mustahil bagi Allah.  Tapi kenapa mesti bawa-bawa unta segala gitu loh, saya sebagai tetangga unta ikut tersinggung.

Sebetulnya, sekalinya ketemu tetangga saya itu, saya tak mau mendekat, soalnya aromanya gak nguatin, tetapi yang mengesankan saya ialah tetangga ini bisa minum untuk keperluan berapa bulan begitu, dan gosipnya, tapi ini gosip loh ya, saya tak bisa verifikasi: jika dibutuhkan, unta itu bisa membagikan air simpanannya. Entahlah, namanya juga gosip, pastinya sih dia gak akan membagikannya dalam bentuk urin, mboh deh pokoknya. Tapi anggaplah gosip itu hoaks dan unta menyimpan air hanya untuk survival dirinya sendiri, tetaplah ia mengesankan saya.

Unta tidak menyimpan air melebihi kebutuhannya. Sudah ada metabolisme sedemikian rupa dalam dirinya sehingga ia sungguh ugahari, meskipun jika dibandingkan hewan lain di gurun, tentu unta lebih banyak menyimpan air. Adakah manusia yang ugahari seperti unta itu? Ya tentunya ada, tetapi mungkin tak banyak. 

Orang muda yang muncul dalam teks hari ini cuma kurang satu hal itu. Juga bahkan dalam hidup rohani, ia mengupayakan segala upaya dan masih merasa kurang juga. Kekurangan itu tak bisa ditutupnya tanpa sikap ugahari dan sikap itu memang tak dipunyainya. Maka dari itu, ia pergi dengan sedih hati karena hartanya banyak. Apakah persoalannya terletak pada hartanya yang banyak? Tentu tidak. Guru dari Nazareth itu juga tidak memintanya untuk menjual semua-muanya dan hasil penjualan itu diberikan kepada orang miskin.

Guru dari Nazareth itu cuma menyarankan supaya ia bersikap ugahari sehingga apa yang tak diperlukannya untuk keselamatan yang dirindukannya itu bisa diberikan kepada orang yang membutuhkan. Justru itulah yang mengantarnya pada keselamatan: tidak membebani diri dengan harta yang superfluous

Untuk itu, saya mengapresiasi koruptor hebat: yang menyerahkan diri dan berani menanggung konsekuensi. Tapi siapalah saya, apresiasi itu tak berarti. Saya percaya lembaga hukum bisa memberi apresiasi bukan hanya kepada mereka yang bisa melaporkan koruptor, melainkan juga koruptor yang menyadari kekeliruan dirinya. Bentuk apresiasinya, ya mboh, tetapi memang bisa jadi kejujuran jarang diapresiasi sehingga orang merasa krasan dengan menang tapi penuh hoaks.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat mencukupkan diri dengan apa yang sungguh kami butuhkan lebih daripada nama baik. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXVIII B/2
14 Oktober 2018

Keb 7,7-11
Ibr 4,12-13
Mrk 10,17-30

Posting 2015: Artis Kesepian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s