Game of Words

Bukan kuliah feminisme atau gender yang membuat saya mengerti teks bacaan hari ini dengan perspektif yang lebih luas, melainkan perjumpaan dengan transgender. Dari pergumulan batin mereka, saya sadar bahwa kenyataan biologis genital seseorang tidak membatasi pilihannya untuk menghidupi peran gender tertentu. Sayangnya, masyarakat sudah kadhung terkondisikan untuk melekatkan peran gender pada ‘takdir biologis’ tadi. Artinya, kalau orang berpenis berarti dia laki-laki dan kalau dia laki-laki berarti harus berorientasi seksual pada perempuan dan perempuan itu berarti haruslah bervagina. Dalam paham linear seperti itu, tak ada tempat untuk homoseksualitas dan kawan-kawannya.

Kalau begitu, sulitlah orang menerima pesan dalam teks bacaan hari ini, baik yang dikatakan Paulus maupun yang dikatakan Guru dari Nazareth. Paulus bilang,”Tidak ada laki-laki atau perempuan.” Guru dari Nazareth mengoreksi paham kebahagiaan yang didasarkan pada ‘takdir biologis’ seseorang: yang membahagiakan bukan karena orang bisa menyusui anaknya, melainkan karena orang mendengarkan Sabda Allah. Orang begini tentu bukan cuma perempuan menyusui, melainkan juga laki-laki. Akan tetapi, apa sih laki-laki dan perempuan itu? Bukankah itu konstruksi sosial untuk mengotakkan orang pada stereotipe tertentu, dan jika demikian, bukankah lebih baik kita mempertimbangkan suatu cara berpikir heuristik?

Gimana sih cara berpikir heuristik itu, Mo? Silakan diklik saja frase berwarna merah tadi. Dilihat dari gejala bahasa bisa ditilik bagaimana vagina berjenis female dan penis berjenis male; tetapi tidak hanya itu, masih ada jenis neutrum, bukan male atau female. Begitulah kesepakatan konstruksi sosial. Pada kenyataannya, bisa jadi seseorang yang berpenis lebih nyaman mengenakan pakaian (yang secara sosial diidentikkan dengan pakaian) perempuan dan sebaliknya. Bahkan, bisa jadi bukan hanya pakaiannya yang berbeda dari pikiran linear, melainkan juga orientasi seksualnya. Dengan jujur saya mesti mengatakan bahwa itu di luar dunia pengalaman saya, tetapi kalau ada orang berpenis yang tulus mengungkapkan dirinya punya orientasi seksual yang berbeda dari yang saya punya, ia memiliki respek saya.

Agama, menurut saya, semestinya transgender, dalam arti mengatasi konstruksi sosial tentang peran gender yang memecah belah orang untuk menangkap Sabda Allah. Ini memang isu sensitif, tetapi saya sadar bahwa wahyu Allah, bagaimanapun bentuknya, senantiasa diterima dalam keterbatasan manusianya. Salah satu keterbatasannya ada pada bahasa manusia sendiri. Heran saya, sementara bahasa mengenal neutrum, pribadi manusia cuma dikategorikan laki-laki dan perempuan. Sekarang sudah ada istilah LGBT, tetapi barangkali itu juga diposisikan sebagai jenis inferior dibandingkan laki-laki dan perempuan.

Saya tak sampai hati menghakimi tetangga saya yang memang penampilannya sangat feminin (tetapi saya yakin ia berpenis meskipun saya tak melihatnya dengan mata kepala sendiri, ya wegahlah), tetapi sangat concern dalam memperjuangkan keadilan, membela kaum lemah tanpa pandang latar belakang SARA, sebagai orang terkutuk. Barangkali justru orang-orang seperti inilah yang menjalankan perintah agama karena parameternya justru adalah Sabda Allah sendiri, lebih daripada mereka yang memperlakukan agama sebagai game of words, apalagi game of thrones.

Tuhan, tuntunlah hati dan budi kami supaya iman dan agama kami tak tinggal sebagai game of words. Amin.


SABTU BIASA XXVII B/2
13 Oktober 2018

Gal 3,22-29
Luk 11,27-28

Sabtu Biasa XXVII A/12017: Jomblo Enak Gak Eaaa…
Sabtu Biasa XXVII C/2 2016: Revolusi Spiritual
Sabtu Biasa XXVII B/1 2015: Gosip Ah…

Sabtu Biasa XXVII A/2 2014: Lebih Baik dari Asi, Adakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s