Dendang Bantilang

Semalam saya menonton dua film pendek pemenang Festival Film Puskat 2018: Lewat Lagu Kami Bercerita (kategori film dokumenter) dan Dendang Bantilang (kategori film cerita pendek).
– Loh, film yang Romo buat gak menang?
+ Enggak.
– Wah, kok bisa ya? Padahal film Romo ciamik loh!
– Soalnya memang gak saya kirim untuk festival.
– Loh, kenapa Mo?
+ Takut menang…
– Menanggung malu ya, Mo?
+ Bukan begitu, soalnya dah biasa kalah, makanya kalau menang malah takut. Eaaaa, siapakah diaaaaa?
– Oh, pasti bukan nomor satu ya.

Baik film dokumenter maupun film cerita pendek itu memenuhi tema pencarian keadilan dalam damai. Film dokumenternya menyuguhkan pergumulan para perempuan eks tahanan politik mengobati luka batin mereka dengan bernyanyi. Film cerita pendeknya mengisahkan pergumulan anak yang ditinggal ayah, ibu, kakek, dan kakaknya sendiri. Anak yang tampaknya belum genap sepuluh tahun ini pergi mengayuh perahunya untuk menyusul kakaknya dan momen puncak ada di akhir film itu: si anak ‘bertemu’ dengan kakek dan ibunya (yang sudah meninggal) dan keduanya menyuarakan panggilan untuk kembali ke tempat dia hidup karena di situ ada kedamaian.

Tema kebebasan juga hadir dalam film-film itu karena tokoh-tokoh dalam film itu, sebagaimana aktor dan aktris yang memerankannya, senantiasa dihadapkan pada pilihan bebas. Tema ini ditegaskan dalam teks bacaan pertama hari ini. Orang beragama, kalau hidupnya terpenjara dan memenjarakan kemanusiaan, tak akan happy dengan agama karena agama tak lebih sebagai pengikat, pengekang, tali kendali. Perilakunya secara objektif bisa jadi terlihat baik, saleh, alim, suci, tetapi sayang, tak ada damai dalam hatinya karena selalu menyimpan pengertian semu bahwa keyakinannya nomor satu, kecapnya nomor satu, orangnya nomor satu, agamanya nomor satu, pilihannya juga nomor satu. Njuk nomor duanya dikasih apa jal?

Teks bacaan kedua mengingatkan supaya alih-alih memelihara pemahaman semu tadi, orang beragama mengingat jalan pulang: pertobatan. Sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi saya tegaskan bahwa pertobatan tidak identik dengan orang jadi Katolik atau mualaf atau ateis atau istilah apa lagi yang bisa disodorkan. Percayalah, meskipun saya pemuka agama yang mungkin dikategorikan misioner bahkan agresif (karena diidentikkan dengan kolonialisme), dan Anda ateis, tak tebersit dalam benak saya untuk membuat Anda jadi teis dan memeluk agama yang saya mukai. Concern saya semata Anda menemukan ‘jalan pulang’ tadi. Perkara Anda memakai jalur mana yang lebih Anda banget, itu none of my business, kecuali kalau yang Anda banget itu tidak sungguh-sungguh Anda banget; tapi itu juga saya cuma bisa prihatin. Saya tidak bisa memaksa orang lain untuk bebas.

Film Dendang Bantilang ditutup dengan zooming out si anak yang telentang di atas perahunya setelah perjumpaan dengan kakek dan ibunya. Ia galau karena mereka lebih merekomendasikannya untuk pulang, sementara ia sendiri maunya menyusul kakaknya. Dia bebas, tetapi kalau ia menyusul kakaknya, ia melarikan diri dari tanggung jawabnya membuat kapal pesanan, dan kebebasan tak pernah berarti pelarian diri. Itu yang saya petik dari film dokumenternya.

Tuhan, mohon rahmat kebebasan-Mu. Amin.


SENIN BIASA XXVIII B/2
Peringatan Wajib S. Teresa dari Yesus
15 Oktober 2018

Gal 4,22-24.26-27.31;5,1
Luk 11,29-32

Senin Biasa XXVIII A/1 2017: Percaya pada Sein?
Senin Biasa XXVIII C/2 2016: Hello, Farisi
Senin Biasa XXVIII B/1 2015: Apa Pun Agamanya
Senin Biasa XXVIII A/2 2014: Roh Apa Yang Bergentayangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s