Salah seorang senior saya punya moto hidup dalam bahasa Latin berbunyi begini: Ad maiora natus sum. Artinya, aku dilahirkan untuk hal-hal yang lebih besar. Mungkin bisa juga diplesetkan dengan menghilangkan kata ‘lebih’. Persoalannya bukan pada kata keterangan ‘lebih’ melainkan hal-hal yang kita tempeli sifat ‘besar’. Anda tentu punya niat baik dengan memberi nama anak Anda Mega, tetapi jika pada kata itu ditambahkan beberapa suku kata seperti ‘loman’, percayalah, anak Anda jadi penyakit baik bagi dirinya maupun terutama bagi banyak orang lainnya.
Teks bacaan hari ini menuturkan gap yang ada dalam kelompok murid Yesus. Orang-orang yang ada di sekeliling Yesus, sangat dekat secara fisik tetapi begitu jauh dalam jiwa. Yesus punya agenda masuk ke pusat kekuasaan di Yerusalem untuk suksesi kepemimpinan. Murid-murid yang disebut rasul itu juga ikut ke sana, tetapi dengan agenda yang berbeda. Kalau diumpamakan sebagai kepresidenan baru, para rasul itu menginginkan presiden baru tetapi dengan gaya lama. Mereka menggaungkan sebuah révolusi méntal tetapi dengan gaya lama. Hasilnya bisa ditebak: měntal.
Penjelasannya juga tidak rumit: révolusi méntal mengandaikan pertobatan dan mana mungkin orang bertobat jika tidak melihat sasaran yang tepat?
Yesus ke Yerusalem sudah dengan kesadaran bahwa agendanya menantang status quo dan risikonya tidak kecil. Semalam saya baru mendengar cerita bagaimana imam dan uskup mendapat ancaman penembakan ketika mereka mencoba memperhatikan kepentingan rakyat banyak yang begitu sulit memperoleh tanah untuk sekadar tinggal. Ini cerita lama yang belum berakhir juga sampai awal milenium ketiga. Ancaman itu tidak harus datang dari pemerintah, bisa juga dari oligark, yang tentu punya kepentingan mempertahankan kekuasaannya. Tentu, ini tidak terjadi di Indonesia [mungkin karena di sini para pemuka agama tak perlu diancam mati untuk mengabaikan perjuangan bagi kaum tertindas; sudah dengan sendirinya abai…. mungkin loh ini, mungkin].
Tragedi kehidupan terus berputar seperti itu ketika ad maiora natus sum merujuk pada kebesaran yang lekat dengan pola relasi kekuasaan: saling menguasai. Sangat transaksional, mulai dari bilik suara sampai utak-atik jumlah angka menteri. Tak mengherankan, sosok seperti Yohanes dan Yakobus dalam Injil hari ini sangat relate dengan orang-orang zaman now; dan persis mental macam itulah yang bikin dunia ini sampai sekarang berputar dalam dunia datar: yang di atas ya tetap melambung, yang pusing adalah mereka yang di bawah berusaha memberi makan untuk diri sendiri dan segelintir orang di sekelilingnya.
Oh, ada kok yang di bawah tidak pusing: ya itu yang dekat dengan poros, dengan pusat kekuasaan yang memutar roda. Yang di pinggir, tentu dorongan sentrifugal lebih kuat alias potensi měntalnya lebih besar. Andai saja mayoritas asisten sipil negara bukan representasi rasul seperti Yohanes dan Yakobus itu, mungkin Indonesia emas itu sudah tergenggam 10 tahun lalu. Daripada berandai-andai, tentu lebih baik mengimajinasikan ad maiora natus sum seperti ditapaki Yesus atau figur religius lainnya: bongkarlah status quo dalam diri, baik individual maupun sosial, dengan risiko besar tetapi perolehannya juga besar.
Tuhan, mohon rahmat ketulusan hati supaya hidup kami terarah semata pada kebesaran-Mu. Amin.
HARI MINGGU BIASA XXIX B/2
20 Oktober 2024
Yes 53,10-11
Ibr 4,14-16
Mrk 10,35-45
Posting 2021: Unforced Error
Posting 2018: Reservasi Neraka
Posting 2015: Beriman, Tut Wuri
