Reservasi Neraka

Beberapa waktu lalu saya bertugas sebagai driver untuk dua adik kelas saya yang sudah jadi rektor dan direktur anu. Kami pergi ke semacam mal untuk makan malam, hitung-hitung untuk memperbaiki malnutrisi kami. Setelah disambut dengan ucapan ‘selamat datang’ oleh mbak-mbak tukang karcis parkir yang hadir di setiap mal, saya membelokkan mobil ke tempat parkiran tetapi karena melihat tanda parkir khusus perempuan, saya menghentikan mobil, tapi ketika hendak memundurkan mobil, kami lihat ada mobil keluar dari area parkir itu dan jebulnya drivernya berkumis. Barangkali ia punya kesadaran bias gender yang luar biasa. Karena saya belum luar biasa, saya tetap mencari area parkir tanpa tanda reservasi bagi driver perempuan.

Teks bacaan hari ini menyinggung dua murid Guru dari Nazareth yang hendak memesan tempat mulia di sebelah kiri-kanannya. Haiya, ini dua murid yang merepresentasikan kebanyakan orang (beragama): cari selamat sendiri tak peduli gimana orang lain. Yang begini ini tak perlu dimengerti semata soal hidup rohani, malah barangkali justru kelihatan dalam hidup jasmani. Silakan lihat kebiasaan orang melanggar aturan lalu lintas atau hobi memodifikasi pernak-pernik kendaraan yang justru membahayakan orang lain, atau mereka yang tak peduli tempat-tempat khusus yang semestinya jadi tempat darurat atau tempat mereka yang berkebutuhan khusus. Ini contoh gambar lain:

Orang tak perlu punya kemampuan untuk membaca tulisan bahasa Jepang, Korea, Arab, Inggris dan lain-lainnya untuk mengerti mengapa ada garis kuning sejajar dengan conveyor belt di bandara. Bahkan, orang buta warna pun masih bisa tahu bahwa ada garis di samping conveyor belt itu dan asal mau berpikir bukan dengan modal cari selamat sendiri, ia bisa mengerti mengapa dibuat garis itu. Pengandaiannya, orang punya empati: andaikan semua orang berdiri menunggu tasnya persis di samping conveyor belt itu, bayangkanlah bagaimana susahnya setiap orang yang hendak mengidentifikasi dan mengambil tasnya yang terus bergerak menjauh darinya. Ruang untuk itu sudah ditutup orang lain yang berdiri mepet conveyor belt!

Seperti itulah kesalahan berpikir para murid Guru dari Nazareth itu dan kebanyakan orang beragama: mereka menganggap keselamatan itu eksklusif agama tertentu. Mereka pikir tempat mulia Guru mereka itu cuma bisa diduduki oleh murid-murid tertentu: di sebelah kanan dan kirinya. Padahal, kemuliaan itu bukan soal posisi penting di kanan-kirinya. Kemuliaan Allah justru ditampakkan oleh kemuliaan kemanusiaan, kemuliaan keadilan, kemuliaan kesejahteraan bagi semua. [Jadi ingat AMDG] Anda masih ingat kata-kata seorang pelatih atlet nasional yang mengizinkan atletnya pulang menunggui istrinya yang hendak melahirkan? Saya lupa, dan tak berhasil menemukannya dalam blog ini, tapi pokoknya dia menepis pertanyaan wartawan,”Kalau tim kalah bagaimana?” Menang-kalah memang begitulah adanya dalam pertandingan, tetapi hidup atlet bukan cuma soal menang-kalah, ada yang lebih penting dalam hidup ini.

Dengan begitu, kembali lagi, mau tempat mulia kiri-kanan Allah, ya adanya di dunia ini, di kiri-kanan sesama, seperti tadi contohnya itu: mengusahakan supaya sebanyak mungkin orang berempati dan tahu tempatnya sehingga kepentingan bersama diabdi lebih daripada cari selamat sendiri. Tanpa itu, orang melakukan reservasi neraka dan langsung dikabulkan.

Tuhan, semoga aku semakin menemukan peran yang paling tepat dalam proyek-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIX B/2
21 Oktober 2018

Yes 53,10-11
Ibr 4,14-16
Mrk 10,35-45

Minggu Biasa XXIX B/1 2015: Beriman, Tut Wuri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s