Srawung Digital

Pernahkah Anda tinggal di rumah berasa kos atau losmen atau hotel (rumah cuma buat makan-tidur)? Bagaimana rasanya ya? Pernahkah orang lain mlipir atau pindah ke seberang trotoar supaya tak berpapasan dengan Anda? Bagaimana ya rasanya, baik yang diplipiri maupun yang mlipir? Mereka yang tinggal di asrama punya risiko seperti itu, tetapi bukan berarti bahwa hidup berkeluarga tak punya risiko itu. Anak tak bicara dengan ortu, pasutri tak saling bicara, kakak adik omong hanya untuk bertengkar.

Dalam suasana seperti itu, ada blokade atau interupsi terhadap dialog, terhadap perjumpaan, dan dengan demikian, Roh Kudus tak bekerja. Dalam perspektif Kristiani, Roh Kudus ini adalah Dia yang dicurahkan Kristus, yang adalah kepala Gereja, dan dengan contoh suasana rumah berasa kos/losmen/hotel tadi, Gereja tak terbangun. Dengan kata lain, Kristus terdegradasi ke liga kasta rendah (akibat Jerman kritis, hiksss). FYI, Gereja zaman now tak dimengerti sebagai hirarki, meskipun fungsi itu tetap hadir.

Tadi malam, Komisi Sosial Keuskupan Agung Semarang mengakomodasi suatu perjumpaan kaum muda lintas agama via Youtube. Kiranya rekaman acara itu bisa diakses via link berikut ini:

Ini cuma contoh kecil suatu perspektif Kristiani untuk memahami Gereja yang tidak mungkin lagi disekat oleh agama. Kenapa? Karena agama itu rupanya juga ‘cuma’ kategori yang tak bisa lagi dimengerti dengan garis keras bahwa ini A dan itu B, dan seterusnya. Roh Kudus tak mungkin dibatasi oleh kategori seperti itu karena Dia bekerja melampaui segala sekat yang dibuat manusia sendiri. Menarik bahwa salah satu nara sumbernya punya nama yang menggambarkan target Roh Kudus tadi: Irfi Maslachatul, seorang pribadi yang diharapkan menjadi kebaikan bagi semua, dan itu tentu tak dibatasi oleh sekat agama, gender, ras, suku, dan sebagainya. Satu-satunya yang bisa jadi blokade ya seperti dikemukakan di awal tadi: mereka yang tak membuka peluang dialog, perjumpaan.

Kerap kali, dialog atau perjumpaan itu terhambat oleh praduga, asumsi, prasangka yang memang hanya bisa dibuyarkan oleh perjumpaan itu sendiri. Kata guru saya, orang itu boleh berprasangka, boleh punya asumsi, malah itu justru diperlukan untuk membangun pemahaman baru dan dengan demikian membangun identitas diri yang lebih baik dari sebelumnya. Persoalan tidak terletak pada prasangkanya, tetapi pada ketidakmautahuan orang untuk melakukan cross-check terhadap prasangkanya itu tadi. Itu bikin Roh Kudus mogok, dan kalau Roh Kudus mogok, mau ngapain lagi? Tak ada Gereja yang bisa dibangun, tak ada kemaslahatan yang sungguh-sungguh, dan di situ Roh Kudus dihujat.

Ya Allah, mohon rahmat keberanian untuk mengalami perjumpaan dengan semua makhluk-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXVIII B/2
20 Oktober 2018

Ef 1,15-23
Luk 12,8-12

Sabtu Biasa XXVIII A/1 2017: Mengikhlaskan Kematian
Sabtu Biasa XXVIII C/2 2016: Tiada Ampun Bagimu
Sabtu Biasa XXVIII B/1 2015: Agama Ateis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s