Lidah Penakut

Ajarilah lidah Anda untuk mengatakan hanya apa yang ada di hati Anda. Kalau tidak, ia akan memproduksi aneka hoaks dan hoaks itu adalah kemunafikan, siapa pun capres yang Anda dukung.
Iya, Mo, dah tau, tapi gimana caranya mengajari lidah supaya jadi corong hati semata? Apa mesti minta lidah duduk manis di sekolah kepribadian atau ikut bimbingan belajar? Bukankah lidah tak bertulang?
Saya tak yakin bisa menjawab pertanyaan itu, tetapi saya teringat tulisan berikut ini [saya tak sampai hati melihat gambarnya]:

Meskipun posting kemarin menyinggung soal dokter, ini bukan follow up dari jatuh cinta kepada dokter loh ya. Bayangkanlah jika dokter pada umumnya seperti yang satu ini, saya kira Anda boleh mengalami krisis kepercayaan terhadap profesi dokter yang ternyata “terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien”. Itu berarti melanggar sumpahnya sendiri.

Oh ya, saya harap, Anda yang beragama Islam, tidak merasa malu karena seakan-akan oknum seperti ini mencoreng agama Islam. Dengan kasus ini, saya justru diyakinkan bahwa memeluk Islam itu tak semudah jadi mualaf dan tuturan bohong tidak cuma mencoreng agama Islam, tetapi mencoreng agama dan kemanusiaan. Apakah memang dokter yang satu ini berbohong dalam kasus RS (RS yang mana nih)? Haiya jelas toh, Rom, gitu dibahas! Maksud saya, dalam pernyataan maafnya, cuma disebut alasan ikut menyebarkan berita bohong je, seakan-akan yang berbohong itu orang lain dan beliau cuma jadi penyalur. Asudahlah, mungkin saya juga cuma korban medsos.

Akan tetapi, bahkan dari orang munafik pun kita bisa belajar sesuatu loh. Bukan dari kemunafikannya, tentu saja, melainkan dari pernyataannya. Pernyataan orang munafik itu biasanya malah baik dan benar, sebaliknya, orang tak perlu munafik untuk membuat pernyataan yang jelek dan salah. Silakan tilik di gambar tadi: hinalah mereka…karena mereka takut bahwa kebohongan mereka sirna oleh kebenaran. Super!!! Tak perlu dipersoalkan siapa ‘mereka’ (karena bisa jadi penuturnya sendiri termasuk di situ), tetapi memang begitulah: jika lidah tak menyatakan apa yang muncul dari hati, penuturnya takut bahwa kebohongan sirna oleh kebenaran. Jadi, jawaban pertanyaan di atas tadi ialah: bebaskan diri dari rasa takut! Kalau tidak, dijamin hoaks mengalami inflasi.

Ini klop dengan teks bacaan hari ini: tak usah takut pada mereka yang cuma bisa membunuh tapi tak bisa berbuat apa-apa setelahnya. Kenapa orang mesti takut dipenjara? Kenapa mesti takut kehilangan jabatan? Kenapa mesti takut kalah bersaing? Kenapa mesti takut tidak disenangi kawan? Kenapa mesti takut kehilangan jemaat atau umat? Kenapa takut diajak berkelahi? Masih banyak ketakutan yang bisa dimasukkan ke dalam litani, tetapi poin hari ini ialah bahwa ketakutan-ketakutan itu membuat lidah tergelincir dari hati yang sesungguhnya mendambakan cinta.

Tuhan, mohon utuslah Roh-Mu untuk mengusir aneka ketakutan dalam diri kami dan sungguh fokus pada satu tatapan: cinta kepada-Mu dan sesama. Amin.


JUMAT BIASA XXVIII B/2
19 Oktober 2018

Ef 1,11-14
Luk 12,1-7

Jumat Biasa XXVIII A/1 2017: Tuan di Negeri Sendiri?
Jumat Biasa XXVIII C/2 2016: Selektif Mendengarkan
Jumat Biasa XXVIII B/1 2015: Transparan Lebih Asik

Jumat Biasa XXVIII A/2 2014: Isis Vatikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s