Fall in Love with Doctors

Pada dinding media sosial tetangga saya kemarin terpapar tulisan kurang lebih begini: Don’t fall in love with doctors! They know where to hurt exactly because they study the human anatomy to give extreme pain. Sayang anjuran itu datangnya terlambat, karena pada saat itu saya sudah mengantisipasi bahwa tulisan hari ini berkenaan dengan pesta seorang dokter, dan saya sudah jatuh cinta pada dokter. Syukurlah, dokter yang saya jatuhi cinta ini tidak melukai saya. Namanya Lukas. Hidup pada abad pertama masehi dan menjadi salah satu penulis Injil. Kalau tidak ada tulisannya, kita tak pernah mendengar perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, domba yang tersesat, kisah Zakheus, dan cerita klasik anak bungsu yang hilang dan kembali. 

Kisah-kisah itu menunjukkan bagaimana kerahiman Allah menyentuh setiap makhluk-Nya supaya kembali sehat, menemukan jalan pulang, tanpa ribut dengan moda transportasi yang dipakai. Problem tidak terletak pada moda transportasinya, melainkan pada korupsi terhadap moda transportasi demi kepentingan pribadi atau kelompok. Nah, di sini malah ada sambungan dengan posting kemarin mengenai religitainment. Bayangkanlah, puluhan ribu orang bisa saja dengan mudah tertipu oleh agama hiburan atau agama penghibur. Kenapa? Ya karena agama itu memang berfungsi menghibur, meneguhkan, menguatkan, mendukung mereka yang dalam kesehariannya tak mengerti mesti berbuat apa di dunia ini dan dengan gampang merogoh kantong untuk memberikan uang kepada pemimpin agama hiburan itu.

Hiburan itu bisa memakai nama sangar: Christ Church, Cathedral, dan lain sebagainya. Pokoknya ada Christ dan Church, lalu orang dengan gampangnya menganggapnya sebagai Gereja yang didirikan Kristus. Padahal ya jelas pendirinya adalah si anu atau si inu. Akan tetapi, apa yang bisa diharapkan dari orang yang tak punya sensitivitas terhadap sejarah? Tidak ada. Pokoknya Church artinya Gereja, dan kalau namanya Gereja itu ya di Indonesia termasuk dalam agama Katolik atau Kristen. Semudah itulah orang berpikir tanpa kesadaran historis. Orang tak lagi kritis bahwa label religius bisa ditempelkan pada kulkas, makanan, bangunan, sekerumunan orang, sosok pemimpin, dan sebagainya, dan bahwa label itu lebih terkait dengan bisnis daripada perkara religiusnya. Memang tak perlu kritis, yang penting agamanya menghibur dan pemimpinnya juga meneguhkan gaya hidup yang menghibur. Begitulah religitainment, kata-katanya bijak, ujung-ujungnya duit. Beruntunglah pemimpin religitainment kalau lolos dari jerat KPK, entah setelah ia lolos dari hidup ini bagaimana.

Kiranya bukan agama semacam itu yang digambarkan Lukas dalam tulisan-tulisannya. Selain Injil, dia menuturkan Kisah Para Rasul yang menggambarkan bagaimana iman kepada Allah tak pernah bisa dilekatkan pada kultur tertentu dan, dengan demikian, tak bisa juga dipertentangkan atau dimenangkan terhadap kultur yang berbeda. Kemarin-kemarin sudah saya beri contoh mengenai sedekah laut sebagai kultur yang sewajarnya tak bisa dihakimi dengan tolok ukur agama. Kalau agama itu sebagai lembaga ikatan dokter, ia semestinya membuat observasi bagian mana dari kultur itu yang bisa dioptimalkan dan dikembalikan fungsinya supaya pemeluknya sungguh mengalami kerahiman Allah, bukan kerakusan pemimpinnya.

Tuhan, mohon rahmat keberanian supaya kami mampu menjadi dokter atau tenaga medis-Mu bagi diri dan sesama, bukan untuk akumulasi duit. Amin.


PESTA S. LUKAS
(Kamis Biasa XXVIII B/2)
18 Oktober 2018

2Tim 4,10-17b
Luk 10,1-9

Posting 2017: Semoga Bahagiahaha
Posting 2016: Mending Jadi Kafir?

Posting 2014: Semakin Beriman, Semakin ngArtis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s