Kalau Diajak Berantem

Apa reaksi Anda kalau diajak berantem? Menurut nasihat presiden RI sekarang ini: berani saja! Menurut saya, jangan takut! Dengan kata lain, nasihat presiden dan nasihat saya kurang lebih mirip: jangan takut. Untungnya, saya bukan presiden. Jadi biar saja yang dilaporkan ke empat lembaga negara itu presiden. Gak ada untungnya juga nglaporin saya, kale’.

Tapi ini bukan soal lapor melapor yang sifatnya sangat politis, yang bikin satu kata penting bisa hilang, entah itu ‘dipakai’ atau ‘kalau’. Ini soal melihat pesan yang disodorkan dalam teks hari ini, yang memang jelas: jangan takut, karena ketakutan itu bikin cara melihat, cara merasa, cara berpikir jadi sangat bias. Bayangkanlah Petrus yang dipanggil guru dari Nazareth untuk ikut berjalan di atas air. Apakah Petrus berjalan di atas air? Menurut teksnya, dia memang berjalan di atas air juga. Baru setelah tiupan angin dirasakannya, ia mulai bimbang dan kebimbangan itu membuatnya mulai tenggelam.

Tiupan angin lebih menentukan cara merasa, cara berpikir, dan tindakan Petrus, daripada kebersamaannya dengan guru dari Nazareth. Kalau mau dilihat dari perspektif iman: ketakutan berbanding terbalik dengan persekutuan orang dengan Tuhan. Maka, dalam arti itulah orang beriman tak perlu takut karena ia bersama Tuhannya. Ketakutan cuma mengantar orang pada damai yang kompromistik terhadap kepentingan politik busuk. Itulah mengapa juga orang beriman tak perlu takut kalau diajak berantem. Baru diajak berantem kok sudah takut!

Jadi, memang tak usah takut, bahkan kalau diajak berantem fisik! Kalau orang tak takut, ia bisa berpikir jernih, ia bisa memakai rasio untuk menilai apa perlunya berantem. Akhirnya, kalau orang tidak mau berantem, pilihannya itu tidak didasarkan pada ketakutan, entah takut kalah, luka, gagal, dan sebagainya, tetapi pada pertimbangan bahwa ajakan berantem itu tak perlu ditanggapi atau diladeni. Dengan demikian, saya kira orang yang bersama Tuhan, tidak memelihara ketakutan, tetapi berpikir jernih untuk menemukan apa yang sungguh dikehendaki Allah demi kemuliaan-Nya. Kalau tidak begitu, orang berkepentingan politik busuk wuenak tenan main tebar ancaman ke sana kemari dan orang beriman takut dan tak berbuat apa-apa melawan teror. Sudah begitu, bisa jadi naif, merasionalisasi ketakutan itu dengan alasan spiritual, dan ujung-ujungnya: munafik.

Tuhan, mohon rahmat kesadaran bahwa Engkau senantiasa bersama kami dalam setiap pergumulan hidup kami. Amin.


HARI SELASA BIASA XVIII B/1
2 Agustus 2016

Yer 30,1-2.12-15.18-22
Mat 14,22-36

Selasa Biasa XVIII A/1 2017: Apa Guna Takut?
Selasa Biasa XVIII C/2 2016: Sepiring Narkoba
Selasa Biasa XVIII B/1 2015: Mau Jadi Bebek?

Selasa Biasa XVIII A/2 2014: Kebenaran Menajiskan Hati Yang Korup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s