Kepala Batu

Saya tak yakin apakah Anda hobi naik gunung, apalagi apakah Anda pernah naik gunung Tabor. Kalau hobi naik gunung, ya baiklah, tapi jangan lupa melengkapinya dengan hobi lain: turun gunung. Kalau tidak hobi juga gak apa-apa, yang penting halal. Saya sudah tidak hobi naik-turun gunung, tetapi terakhir kemarin saya naik-turun Gunung Tabor. Ini buktinya foto dengan handphone siomai saya:

Mana gunungnya ya? Ya tak usah saya tunjukkan di sini wong namanya gunung itu ya paling bentuknya seperti itu toh? Lha ini foto saya jepret di bagian atas gunung Tabor. Ada apa di Gunung Tabor? Ya itu seperti terlihat pada foto: bunga, batu, besi, orang, daun, gereja. 

Konon ini adalah situs tempat guru dari Nazareth menampakkan kemuliaan-Nya. Believe it or not, none of my business, tetapi di tempat ini saya mencoba mawas diri: apakah dalam pengalaman hidup beriman, saya pernah naik ke Gunung Tabor. Tak perlu Anda ikut-ikutan pergi ke sini; mahal loh (kecuali bagi yang punya uangnya untuk ke sini), saya mesti membayarnya dengan potong gaji (dan mungkin baru akan selesai cicilannya tiga tahun ke depan, waooow). Pertanyaan mawas diri tadi tak perlu ditangkap secara literal. Yang penting, orang beriman sungguh mau berefleksi bahwa kadang-kadang memang Allah memberi kesempatan baginya untuk menyaksikan kemuliaan-Nya sebagaimana dikisahkan terjadi di Gunung Tabor.

Sayangnya, itu cuma kadang-kadang sehingga lebih sering orang beriman mesti menggunakan seluruh daya upayanya untuk menyaksikan kemuliaan Allah itu dan, celakanya, lebih sering gagalnya daripada berhasilnya. Barangkali orang beriman perlu belajar dari gabener juga mengenai beautifikasi, tetapi dengan cara yang lebih elegan. Melihat keindahan tidak bisa dilakukan dengan landasan relasi kekuasaan, dan memang beriman pun bukan relasi kekuasaan. Sayangnya, kebanyakan orang, entah beriman atau tidak, memakai pendekatan kekuasaan ini. Memang tidak gampang melepaskannya karena itu tendensi manusiawi yang hendak saling menguasai.

Cobalah amati bagaimana anak-anak atau remaja berkunjung ke situs sejarah candi misalnya. Tak mengherankan, yang pertama-tama jadi incaran adalah spot untuk berfoto ria di depan batu-batu itu dan sampai akhir kunjungan bisa jadi situs candi itu ditangkap tak lebih sebagai batu. Memang betul kan itu batu? Betul sekali, tetapi ‘cuma batu’ itu adalah indikasi kuat bahwa orang tidak mampu meletakkan batu-batu itu dalam konteks sejarah kehidupan bangsa manusia. Orang yang secara ideologis suka menghancurkan situs sejarah juga jadi simbol akan makhluk yang kehilangan kemampuan untuk mempersepsi batu sebagai bagian keindahan semesta yang menyejarah. Orang tak lagi mampu melihat daya kreatif di balik batu-batu itu dan mereduksinya sebagai batu semata.

Sebagian orang melihat batu berharga dan harga itu ditentukan oleh prestise, label dua ribu dollar dan sebagainya. Di situ, orang kembali lagi ke persepsi kekuasaan. Semuanya ditundukkan oleh kepentingan ekonomi dan politik. Semua diukur dengan rasionalitas yang sudah digéndholi kepentingan-kepentingan itu dan sirnalah keindahan. Tidak, keindahan itu tetap ada di sana, tetapi orang tak lagi mampu melihat keindahan itu karena orang kehilangan atau tak punya cukup modal untuk mencinta.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin mampu melihat kemuliaan-Mu dalam cinta yang boleh kami alami. Amin.


PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAANNYA
(Senin Biasa XVIII B/2)
6 Agustus 2018

Dan 7,9-10.13-14
Mrk 9,2-10

Posting 2015: Panggilan Skripsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s