Apa Guna Takut?

Pesan ‘Jangan takut’ sudah populer sejak dulu dan pesan itu, kalau dituruti, memang ampuh. Ketakutan memblokade hidup orang: takut salah, takut gagal, takut ditolak, takut dicela, takut dipermalukan dan sebagainya. Alih-alih maju, orang yang takut ini sulit menerima bahwa ia salah, gagal, ditolak, dicela, dipermalukan dan sebagainya itu.

Akan tetapi, setelah menyimak kisah Petrus berjalan di atas air dalam bacaan hari ini, perhatian saya tidak terletak pada ketakutannya sendiri, tetapi pada sebab-sebab orang mengalami ketakutan. Petrus sudah (bisa) berjalan di atas air seperti Yesus yang mengundangnya mendekat dengan berjalan di atas air. Kenapa kok lalu dia mulai tenggelam? Dalam teks Indonesia dikatakan “Ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam.”

Apakah itu berarti Petrus takut pada tiupan angin? Tentu tidak. Tiupan angin hanyalah trigger munculnya ketakutan Petrus. Memang setting malam di danau secara simbolik hendak menunjukkan cengkeraman kekuatan gelap atau jahat, dan itu menakutkan. Akan tetapi, saya tidak hendak membaca teks ini secara simbolik, entah secara apa. Barangkali bisa langsung lompat untuk mengatakan terjadinya self-fulfilling prophecy atau ramalan swawujud juga dalam kisah Petrus. Artinya, dia takut tenggelam, dan karena itu malah ia mulai tenggelam.

Begitulah. Orang takut mati, akhirnya ya mati. Orang takut gagal dan karenanya malah gagal. Orang takut ditolak dan tindak-tanduknya sendiri justru membuatnya ditolak. Orang takut hidupnya hancur dan ketakutannya itu malah menuntunnya pada kehancuran hidup. Begitu seterusnya. Pada kenyataannya, entah takut atau tidak, orang bisa saja gagal, ditolak, mati, hancur, dicela, dan seterusnya; tak usah pusing dengan self-fulfilling prophecy tadi. 

Jadi, kalau entah takut atau tak takut, orang bisa gagal, kenapa juga mesti takut? Mindhoni gawean, menambah beban pekerjaan dua kali lipat. Gagal dalam ketakutan berbeda dari gagal dalam semangat joyful joss. Tentu lebih melegakan kegagalan yang terjadi pada jiwa yang bersih dari ketakutan karena kegagalan itu cuma sukses yang delayed….#halah. Menariknya, Yesus mengasosiasikan ketakutan Petrus itu pada kebimbangannya. Barangkali begitu ya: kalau orang ragu-ragu, ia bisa dirundung ketakutan. Patung pun diberi kerudung, padahal bukan masa berkabung.

Tuhan, bantulah kami supaya tidak takut kepada kekuatan gelap yang mengelilingi hidup kami. Amin.


HARI SELASA BIASA XVIII A/1
Peringatan Wajib St. Dominikus
8 Agustus 2017

Bil 12,1-13
Mat 14,22-36

Selasa Biasa XVIII C/2 2016: Sepiring Narkoba
Selasa Biasa XVIII B/1 2015: Mau Jadi Bebek?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s